Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
BAB 30


__ADS_3

Abizar tidak bisa melawan dan menghindar dari pukulan ayahnya. Kedua tangannya dipegang oleh kawanan itu, sedangkan ayahnya memukuli seluruh bagian tubuhnya. Mereka seperti bukan manusia, yang tertawa gorang mendengar jerit kesakitan dari anak 11 tahun itu. Darah Abizar bercecaran, namun ayah yang sudah gila itu masih semangat memukulinya.


Nina yang melihat hal itu hanya bisa menangis dan menjerit sejadi-jadinya. Dia tidak bisa apa-apa, kedua tangannya dipegang oleh kawanan yang lain.


" lepaskan Abizar.. lepaskan Abizar.. " teriak nina.


" Hai cantik, kenapa harus dilepaskan. dia adalah anak pembawa sial. " jawab Abizar sambil terus memukul Abizar.


Kemudian mereka semua masuk kembali ke gudang sambil membawa nina dan abizar yang telah tak berdaya. Mereka meletakkan nina dan abizar diruangan tempat mereka menyekap nina tadi. Lalu meninggalkanny


nina mendekati abizar yang terkapar dengan luka parah. nina menangis di sebelah anak itu sambil mengangkat kepala abizar dan meletakkan di pangkuannya.


Abizar yang merasakan air mata nina menetes di wajahnya mulai membuka mata mencoba sekuat tenaga untuk melihat wajah nina. Rasa perih dan sakit menjalar di seluruh tubuhnya.


" Bizar baik-baik saja bu, Bizar sudah biasa dipukuli ayah " kata Abizar yang membuat air mata nina semakin deras dan mulai terisak.


Nina terus membelai rambut Abizar, sampai akhirnya mereka tertidur di tempat itu.

__ADS_1


**Keesokan harinya


Matahari mulai menyinari wajah nina. Dia mulai membuka mata dan mengumpulkan ingatannya saat melihat sekelilingnya. Dilihatnya pula Abizar masih tertidur di pangkuannya. Tiba-tiba nina berfikiran aneh, dia segera membangunkan Abizar.


" Abizar... Abizar bangun... Abizar... " nina terus memanggil Abizar yang tidak bergerak. Fikirannya masih tidak karuan, dia takut hal buruk terjadi pada Abizar.


Namun kemudian Abizar menggeliatkan tubuhnya dan membuka mata. Nina yang menyadari tubuh Abizar bergerak segera memeluknya.


" Abizar kamu gak papa kan " kata Nina.


" Abizar baik-baik aja bu " jawab Abizar tersenyum.


Abizar pun mengajak nina untuk kabur lagi. Mereka berdua berjalan mengendap endap. Sampai akhirnya berhasil membuka pintu yang tidak dikunci, mungkin kawanan itu lupa mengunci pintu atau mungkin karena pertolongan Tuhan. Kemudian mereka berdua berlari menyusuri hutan. Karena hari sudah pagi, Abizar bisa melihat jalan yang benar untuk pergi.


Menyadari tawanan mereka kabur lagi, kawanan itu segera bergerak mengejar. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan jejak nina dan abizar. Sampai akhirnya nina dan abizar tertangkap lagi untuk kedua kalinya.


" Lepaskan bu nina!! Ayah, urusanmu denganku. Jangan bawa-bawa bu nina. Bunuh saja aku kalau itu maumu, tapi lepaskan bu nina. " teriak Abizar kepada ayahnya sambil melindungi nina di belakang tubuhnya.

__ADS_1


" Hai anak kecil, sayang sekali kamu rupanya dengan guru cantik ini. Baiklah akan aku turuti permintaanmu " kata Ayah Abizar yang telah siap melepaskan anak peluru dari pistolnya.


" Hentikan, Dia anakmu " teriak nina yang ingin membalik posisi dengan Abizar namun tidak bisa karena abizar menahannya kuat-kuat.


Namun laki-laki yang disebut ayah oleh Abizar itu tidak mengindahkan nina. dia terus memfokuskan pistolnya ke dada abizar. melihat hal itu Abizar pun meneteskan air mata.


Kemudian doorr...


Terdenngar sebuah tembakan. Nina kaget mendengarnya, dia berteriak Abizaaaaaarrrrrr sambil memeluk anak didepannya


Bruuukkk...


Terdengar suara orang jatuh, namun bukan Abizar yang jatuh. Melainkan Ayah Abizar. Polisi datang di saat yang sangat tepat. sebelum ayah abizar berhasil menembakkan pistolnya polisi lebih dahulu menembak punggung ayah Abizar. Kemudian polisi meringkus kawanan dan psikopat yang menculik nina. Serta membawa ayah abizar yang tertembak ke rumah sakit.


Nina sangat lega, mendapati abizar baik-baik saja. Dia memeluk anak itu dengan erat.


" Ninaaaa... " teriak Dewo yang ikut bersama polisi-polisi itu. Nina pun melepaskan pelukannya dari Abizar dan berlari menuju Dewo kemudian lanhsung memeluk laki-laki itu.

__ADS_1


Melihat itu hati Abizar terasa sakit. Sakit yang berlipat ganda di tubuh dan hatinya. Kemudian dia bergegas untuk meninggalkan tempat itu bersama polisi. Nina pun meninggalkan tempat itu bersama Dewo.


__ADS_2