
Diperjalanan pulang Nina tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada Dewo, mungkin kalau dihitung sudah 20 kali Nina mengatakannya. Nina tidak merasa sungkan ataupun malu untuk mengatakannya karena bagaimanapun juga Abizar adalah muritnya dan Dewo yang membantu menemukan bundanya abizar.
"Mas......" kata Nina yang langsung disanggah oleh Dewo.
"Apa? Mau bilang terimakasih lagi?" sela Dewo yang mulai bosan dengan kalimat Nina yang diulang-ulang.
"Enggak" jawab Nina sambil meringis salah tingkah karena memang benar Nina akan mengucapkan hal tersebut.
"Aku lapar,makan yuk mas" ajak Nina untuk menutupi kesalah tingkahannya.
"Boleh, mau makan apa?" tanya Dewo
"Bebek aja, aku udah lamaaaaaa banget gak makan bebek." kata Nina manja, memang seperti itulah Nina kalau bersama Dewo. Yang membuat Dewo jadi tidak bisa lepas dari pesona Nina.
__ADS_1
"Oke tuan putri, berangkat makan bebek" jawab Dewo yang membuat Nina malu.
Mobil mereka melaju menuju warung nasi bebek. Setelah selesai memuaskan perut masing-masing, mereka langsung pulang. Dewo mengantarkan Nina pulang terlebih dahulu setelah itu dia baru pulang.
Di rumah Nina segera membersihkan diri dan tidur karena dia merasa sangat lelah. Namun dia masih bisa menyempatkan diri untuk menceritakan apa yang terjadi pada mamanya.
******
Keesokan harinya di sekolah
"Abizar kenapa kamu sudah sekolah? bukannya kamu masih harus di rumah sakit? kamu belum sembuh nak.." kata nina pelan sambil mendekati Abizar.
" Saya sudah sembuh bu, bunda yang ngajak pulang. Katanya enggak mau lama-lama ngrepotin Bu Nina. " jawab Abizar polos.
__ADS_1
" Beneran kamu sudah sehat? jangan terlalu dipaksa ya.. Nanti kalau sakit bilang sama Ibu, biar Ibu antar pulang. Iya? " pinta Nina. Kemudian dijawab dengan anggukan oleh Abizar.
Pelajaran hari ini berjalan seperti biasa. Anak-anak terlihat bahagia, namun Abizar terlihat masih sulit bergabung dengan temannya. Mungkin karena dia masih merasa sakit di bagian tubuhnya atau karena dia memang tidak biasa berkumpul bersama temannya. Pandangan Nina tidak pernah lepas dari Abizar. Dia takut kalau terjadi apa-apa dengan Abizar.
"Heii,, jangan dekat-dekat aku. Dasar anak miskin" teriak Andi sambil mendorong Abizar. Andi adalah murit Nina juga. Disekolah tersebut memang semua adalah anak orang kaya, dan entah bagaimana ceritanya Abizar yang hidupnya penuh dengan konflik bisa masuk ke sekolah tersebut.
"Heii,ada apa ini?" tanya Nina melerai sambil memandang tajam ke arah Andi.
"Andi kamu tidak boleh seperti itu, kalian semua disini berteman. Ibu tidak sika kamu bicara seperti itu lagi Andi. Sebaiknya sekarang kamj meminta maaf pada Abizar" kata Nina dengan sedikit marah yang membuat seisi kelas dibuat hening.
" Kenapa saya harus minta maaf bu, memang dia miskin. Ayahnya saja tukang minum sama tukang judi. Sebaiknya dia tidak sekolah disini bu " jawab Andi melawan Nina.
Mendengar hal tersebut Abizar menarik tasnya dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu kemudian berlari meninggalkan sekolah sambil menangis.
__ADS_1
Nina yang melihat hal itu berusaha mengejar Abizar. Tapi setelah mengetahui Abizar keluar sekolah, Nina menghentikan langkahnya. Karena tidak mungkin dia berlari mengejar Abizar sementara murit yang lain masih ada di kelas. Nina pun kembali lagi ke kelas dengan rasa sedih. Dia benar-benar tidak habis fikir kenapa hidup Abizar sesulit ini.
Sesampainya di kelas Nina mengumpulkan muritnya. Dia mulai menasehati semua muritnya bahwa tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin. Bahwa kita semua saudara. Nina menasehati mereka dengan lembut berharap mereka mau menerima kehadiran Abizar.