Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Apa Jawaban Lo?


__ADS_3

Ada yang nungguin cerita ini nggak?


Gina masuk ke dalam toilet siswi. Gadis itu membasuh wajahnya agar segar. Pelajaran sejarah tadi berhasil membuatnya mengantuk. Di tambah suara Bu Nur yang lirih itu semakin membuatnya ingin tidur. Entah kenapa dirinya dulu memilih jurusan IPS. Jika waktu bisa di putar kembali, Gina ingin merubah jurusan IPS menjadi IPA agar tidak bertemu Bu Nur lagi.


"Gina!"


Deg


Suara lantang seseorang membuat Gina terlonjak kaget. Gadis itu kemudian berbalik, dan mendapati tiga orang gadis berpakaian ketat tengah menatapnya tajam.


Gina kenal mereka. Mereka sama seperti dirimya yaitu anak IPS kelas XI. Namun berbeda kelas.


Siswi bername tag Diva itu merubah posisinya menjadi di samping Gina. "Berani ya lo berangkat sama Galang? Dua kalik loh! Ngajak ribut sama gue huh?!" Sentak Diva. Ia mendorong bahu Gina sampai punggung gadis itu membentur tembok.


'Ni cewek apa-apaan sih! Di pikir gue takut apa?! Nggak tahu dia kalau dulu gue terkenal Badgirl? Ngajak gelud? Oke, gue hadepin!' -Batin Gina.


Gina tersenyum remeh. "Apa masalah lo?" Tanyanya terlihat menantang bagi Diva.


Diva menggeram kesal.


Plak


Diva langsung menampar pipi Gina keras. Karena serangan mendadak itu membuat Gina tertoleh. Gina memegangi pipi mulusnya yang kini memerah.


Kedua teman Diva, Nina, dan Mitta tertawa melihatnya. Diva tersenyum miring. "Masalahnya, Galang itu cowok gue! Dasar jal*ng!!" Kata Diva.


Plak


Tanpa di duga, Gina membalas tamparan Diva tak kalah keras. "Lo bilang gue jalang? Tapi lihat penampilan lo? Ngaca! Lo lebih terlihat seperti jalang!"


Sebelum masalah ini semakin panjang, dan mengakibatkan perkelahian, Gina langsung berjalan pergi meninggalkan Diva, Nina, dan Mitta yang mematung. Nina dan Mitta tak menyangka bahwa Gina seberani itu pada Diva yang merupakan anak salah satu donatur besar di SMA Mandala. "Tunggu pembalasan gue." Ucap Diva dengan tangan yang terkepal.


Gina berjalan menuju kantin di mana Alea dan Tasya berada. Ia memilih koridor yang jarang di lalui agar cepat sampai. Tapi tak di sangka, di koridor itu ia malah bertemu Galang.


"Hai Gina!" Sapa Galang yang tak di hiraukan Gina. Ia melangkah hendak melewati Galang. Tapi pergelangan tangannya yang di cekal oleh cowok itu membuat Gina mau tak mau berhenti.


"Apa?!" Tanya Gina dengan nada ketus.


Galang tersenyum. Tapi senyum itu pudar kala melihat pipi sebelah kiri Gina yang memerah. Seperti bekas tamparan, pikir Galang.


"Pipi lo kenapa?" Tanya Galang pada Gina.

__ADS_1


Gina membuang muka. "Nggakpapa!" Jawabnya ketus.


Galang memegang dagu Gina, dan menariknya pelan hingga mereka kini bertatapan. "Serius itu kenapa?" Habis di tampar siapa hm?" Tanya Galang, lagi. Ia sangat tidak suka jika ada yang berani menyakiti seseorang yang ia sayang.


Gina terpesona melihat wajah serius Galang. Mata indah Galang seperti mengikat, membuatnya tidak bisa mengalihkan tatapannya. Di tambah rambut Galang yang acak-acakan membuatnya terlihat semakin keren. 'Galang kok ganteng sih?!'


"Gin..."


"Gue nggakpapa Lang," kilah Gina sambil menyentak tangan Galang. Gadis itu tidak ingin Galang mengetahuinya dan membuat masalahnya dengan Diva semakin panjang. Walau memang yang menjadi inti masalahnya adalah karena Galang.


"Gue tanyanya habis di tampar siapa, harusnya lo jawab nama orang bukan malah jawab ngggakpapa,"


"Lang--"


"Biasanya nggakpapanya cewek itu ada apa-apanya. Jangan bohong!"


Untung saja koridor itu sedang sepi. Jika tidak pasti ini akan menjadi hot niews lagi.


"Nggak bohong Galang!"


"Kalau lo masih nggak mau jawab, gue akan terus tanya."


"Semua hal tentang lo pasti gue kepo." Balas Galang. "Di tampar siapa Gina? Siapa yang berani tampar lo?" Lanjutnya.


Rasanya Gina ingin menghilang saja. Ia ingin pergi dari Galang sekarang. Kenapa Galang ini sangat keras kepala? Dan kekeh untuk mendapatkan jawaban? Tapi kenapa juga Galang terlihat tampan di matanya sekarang? Biasanya Galang terlihat tengil dan menyebalkan sekali. Kenapa malah terlihat keren? Ah, mungkin karena Gina sedang lelah karena hari ini terasa berat.


"Gue di tampar sama fans fanatik lo. Dia ngelabrak gue di toilet." Jawab Gina.


"Sorry."


"Hm."


"Siapa namanya?"


"Gue nggak mau ngasih tahu siapa namanya. Nanti yang ada masalahnya makin panjang dan runyam kalau lo ikut campur. Yang pasti ini karena lo sama gue yang berangkat bareng ke sekolah kemarin dan hari ini. Jadi gue minta lo jangan maksa gue buat berangkat bareng lo lagi." Jelas Gina panjang lebar.


Galang mengangguk paham. "Maaf Gin. Gue nggak kepikiran sampe situ kalau bakal ada yang ngelabrak lo." Kata Galang merasa bersalah.


Gina tersenyum tipis, kemudian mengangguk. "Gue maafin. Ini bukan salah lo."


Mereka diam beberapa saat. Mata mereka saling tatap. Seolah terkunci. Tangan Galang terkepal melihat pipi Gina yang masih memerah.

__ADS_1


"Pipinya sakit? Ke UKS yuk! Biar gue obatin." Ajak Galang.


"Emm masih sakit sih. Tapi...--"


"Udah nggak usah tapi-tapian! Gue nggak terima penolakan!" Tegas Galang. Kemudian tanpa menunggu lama, cowok itu langsung menarik pergelangan tangan Gina membuat gadis itu berjengit kaget. Gina tak bisa mengelak karena tenaga Galang yang lebih besar darinya.


•••


Di sinilah Galang dan Gina sekarang. Di unit kesehatan sekolah atau UKS. Galang menyebutnya sebagai unit kasih sayang. Mereka sengaja duduk di kasur paling pojok, agar tidak ada yang melihatnya dan membuat heboh.


"Sssst perih Lang," ucap Gina. Tangannya mencegah tangan kekar Galang yang hendak menempelkan kapas itu ke pipinya kembali.


"Gue pelan-pelan kok," balas Galang.


Gina mempoutkan bibirnya. Galang kembali menempel-nempelkan kapas di pipi Gina yang habis di tampar itu. Pelan-palan Galang mengobati Gina. Sesekali Gina meringis. Tamparan Diva tidak main-main sakitnya.


Setelah selesai, sebagai penutup Galang meniup pipi Gina.


Fyuuuh


"Soal kemarin lusa, yang kita di danau itu, lo belum jawab." Ucap Galang membuat dahi Gina berkerut.


"Yang mana?"


"Yang waktu gue ungkapin perasaan gue itu loh. Inget?"


Gina diam beberapa saat. Mencoba mengingatnya kembali. "Hmm yang itu. Iya, gue udah inget."


Galang tersenyum mendengarnya. "Apa jawaban lo?"


Deg


"J--jawaban?" Tanya Gina memastikan. Apa ia tidak salah dengar? Kenapa harus sekarang Galang meminta jawaban?


Galang mengangguk mantap. Matanya menatap berharap ke arah Gina.


•••


*Sebentar lagi author ujian sekolah, jad**i* mohon maaf kalau upnya lama🙏


Jangan lupa Like, Vote, Komen, Rate⭐5, dan Follow author ya... Thank...

__ADS_1


__ADS_2