
Galang menunggu Gina di parkiran sekolah. Karena mereka berangkat sekolah bersama, jadi Galang merasa bertanggung jawab untuk mengantarkan Gina pulang. Cowok itu celingak-celinguk mencari keberadaan Gina.
"Gina kemana sih lama banget nggak keluar-keluar," gerutu Galang yang mulai sebal lantaran Gina yang tidak muncul.
"Ck. Sumpah demi Alex lumutan gue kalo lama gini."
"Eh itu Gi-na?"
Tangan Galang terkepal melihat seseorang yang ia tunggu muncul sambil bergandengan tangan dengan Leo.
Damn it!
Sudah hampir 1 jam Galang menunggu tapi Gina malah keluar dengan Leo. Dan lagi, gandengan tangan? Emosi Galang naik seketika. Sangat tidak suka dan tidak rela. Galang sakit hati melihatnya.
"Kayak mau nyebrang jalan aja pake gandengan segala!"
"Dih, emang cuma lo yang bisa gandengan sama cowok lain. Gue juga bisa kalik!"
"Ck. Anjrit udah di tungguin juga. Kayaknya lo lebih bahagia sama Leo ya Gin? Sama Leo lo senyum terus, ketawa juga. Sedangkan kalau sama gue lo galak, judes, cuek. Apa ini jawaban lo? Lo nolak gue?"
Galang tersenyum masam. Cowok itu naik ke atas motornya, memakai helm fullface, kemudian langsung menjalankan motornya pergi.
Pikirannya kacau. Galang cemburu melihatnya. Sangat cemburu. Tapi apa? Gina hanya melirik sekilas Galang begitu saja. Cowok itu tanpa berfikir panjang melajukan motor sportnya di jalan raya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Galang berhenti di minimarket. Ia merogoh saku celananya, dan menelfon seseorang.
Beberapa menit kemudian...
"Kacau banget lo kenapa?" Tanya Dika pada Galang.
Saat ini, Galang dan Dika tengah berada di sebuah kafe. Galang yang mengajak Dika untuk menemaninya.
Galang menoleh. "Gina." Jawabnya singkat.
Mendengar Galang menyebut nama Gina membuat dahi Dika berkerut. "Kenapa sama Gina?"
__ADS_1
Galang berdecak. Banyak tanya sekali! Tidak tahu apa Galang sedang marah!
"Diem!"
"Heh, terus lo nyuruh gue ke sini buat apa kalo cuma diem bambang! Cerita sini sama gue!"
Mereka diam beberapa saat.
"Hmm jadi gini. Gue tadi nungguin Gina lama Dik. Terus, ternyata Gina keluar sama Leo. Pake gandengan segala lagi!"
Dika terkekeh mendengarnya. "Cie cemburu... Udah gede ya Babang Galang hahahah,"
Galang mengembungkan pipinya kesal. Dika ini bukannya menenangkan malah meledek. Dasar teman laknat!
"Utututuu Galang udah tahu cinta-cintaan nih..."
•••
Galang berjalan gontai memasuki rumahnya. Lebih tepatnya rumah orang tuanya. Rumah besar 2 lantai yang sedari kecil Galang huni itu terawat dan rapih.
Galang memutar bola matanya. "Apaan sih Mi! Galang capek, mau tidur." Ucap Galang.
"Udah makan?"
"Udah."
"Yaudah kalau gitu, ke kamar, mandi dulu baru tidur!"
"Iya Mi."
Galang melangkahkan kakinya menuju kamar yang terletak di lantai 2. Ia langsung melaksanakan perintah Maminya.
Galang kini berbaring, dan mulai memejamkan mata. Tapi suara dering ponselnya membuat cowok itu kembali membuka mata. Galang mendengus. Lalu mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Nama Mba Mirna tertera di sana. Mba mirna adalah pengasuh Gilang yang di bayar oleh Galang.
"Iya Mba. Kenapa ya telfon?"
__ADS_1
"Ini Tuan. Gilang dari tadi rewel nangis terus. Sepertinya Gilang kangen sama Tuan Gilang dan Nyonya Gina."
Galang menghela napas. Ia mengangguk walau tak bisa di lihat oleh Mba Mirna. "Yaudah Mba tunggu. Bentar lagi Galang ke sana."
Sambungan telepon di putus oleh Galang. Dengan gerakan slowmotion Galang menekan nomor Gina, dan menelfon gadis itu.
3 kalik Galang telfon, akhirnya diangkat juga oleh Gina.
"Kenapa?"
"Gilang nangis terus. Lo sama gue ke apart sekarang."
"Hah? Sekarang? Nggak ah!"
"Kalau lo nggak mau, gue titipin Gilang di panti asuhan."
"Ck. Itu terus ancaman lo. Yaudah deh iya-iya. Gue nanti berangkat pake ojol. Lo langsung ke sana aja."
"Oke."
Tut
Galang langsung beranjak berdiri. Mengambil jaket yang ada di dalam lemari, dan memakainya. Cowok itu langsung keluar kamar sedikit berlari.
"Mau kemana kamu? Katanya tadi mau tidur," Tanya Mami Galang.
Galang menoleh dan menatap Maminya. "Mau pergi Mi. Nggak jadi tidur. Nggak ngantuk soalnya."
"Pergi ke mana?"
"Main ke rumahnya Dika."
Mami Galang mengangguk paham. Kemudian mengizinkan Galang untuk pergi. Mami Galang memang sudah kenal Dika. Karena Dika juga kadang main ke rumah Galang. 'Maaf Mi. Galang bohongin Mami.'
Galang pergi menggunakan motornya menuju apartemen. Di sana Gilang dan Mba Mirna sudah menunggu. Bayangan di mana dirinya dan Gina berbaring di ranjang yang sama, dengan Gilang yang berada di tengah-tengahnya melintas di otak Galang, membuat cowok itu tapa sadar tersenyum. Seketika bayangan Gina yang bergandengan dengan Leo membuat mood Galang hilang kembali. Kenapa sih Galang harus ingat?! Kenapa selalu susah melupakan hal yang ingin kita lupakan? Dan susah mengingat hal yang ingin kita ingat?
__ADS_1
📍Sebenarnya jatuh cinta itu tak menyakitkan, tetapi berharap dicintailah yang menyakitkan.