Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Pesona Seorang Galang


__ADS_3

Kafi mengernyit heran kala tak lama Galang keluar kelas, Dika pun izin ke toilet. 15 menit kemudian, sangat kebetulan, Bu Tresna sedang ada urusan katanya. Guru galak itu meminta maaf dan pergi dengan 10 soal matematika sebagai tugas.


Merasa menyerah tidak bisa mengerjakan walau baru menatap sepuluh soal itu, Kafi langsung saja keluar kelas. Berjalan menuju taman sekolah yang sudah pasti ada Galang di sana.


"Ga--"


"Lo hamilin siapa?"


Hah?


Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Dika yang tertuju pada Galang membuat Kafi menganga tak percaya. Menggeleng pelan sambil menutup mulutnya kembali. Kafi lalu melangkah dan berhenti di depan Galang dan Dika membuat keduanya terkejut.


"Lo buntingin anak orang Lang? Ya salam... ck, ck, ck. Dosa Lang! Dosa!" Ucap Kafi menatap tak percaya ke arah Galang.


"Nggak! Gue nggak pernah ngelakuin itu. Kalian jangan salah paham dulu!" Bantah Galang menatap Dika dan Kafi bergantian.


"Oke. Jelasin!" Seru Dika.


Galang mengangguk. Cowok itu langsung menyeritakan kejadian dari awal mengajak Gina ke danau setelah selesai mengerjakan kerja kelompok. Sampai dia dan Gina menemukan seorang bayi laki-laki, dan berakhir merawatnya di apartemennya.


Dika menghela napas setelah Galang selesai bercerita. "Maaf Lang. Gue udah salah paham sebelum lo jelasin."


"Gue juga minta maaf ya Lang?" Sambar Kafi merasa tak enak. "Dateng-dateng gue langsung nuduh lo. Padahal gue belum denger dari mulut lo sendiri."


Galang mengangguk. Ia tersenyum. "Nggakpapa. Gue maafin. Wajar aja kalau kalian salah paham. Oh ya, lo kok langsung tanya gue gitu Dik? Lo lihat Gilang ya kemarin di apart?"


Alis Dika terangkat satu. "Gilang?"


"Iya, Gilang. Gilang itu nama Bayinya. Diambil dari nama Gina Galang." Balas Galang memberitahu.


"Ciee namanya singkatan Gina Galang. Ehm makin deket dong lo sama Gina?" Celetuk Kafi. Merasa pegal lantaran sedari tadi terus berdiri, cowok itu pun langsung duduk tanpa alas berhadapan dengan Galang dan Dika.

__ADS_1


Galang tersenyum. "Iyalah." Katanya percaya diri.


"Kemarin gue emang liat Gilang. Lebih tepatnya gue liat lo gendong Gilang." Ucap Dika menjawab pertanyaan Galang.


Galang mengangguk paham.


"Eh Lang. Lo tau nggak sih. Ekspresi semua kelas tadi hampir melongo semua tau gara-gara lo berani balas omongannya Bu Tresna. Kocak banget gue liatnya. Pengen ketawa tapi takut di hukum juga sama Bu Tresna." Ujar Kafi di akhiri dengan kekehannya.


Dika ikut terkekeh di buatnya. Menurut mereka itu adalah hal langka! Jarang-jarang kan...


•••


Gina menegak segelas es teh manis dengan dahi yang berkeringat. Di sampingnya, Alea dan Tasya tengah sibuk memakan makanan masing-masing. Saat ini mereka tengah berada di kantin SMA Mandala, yang anehnya tidak terlalu ramai seperti biasanya.


"Pedes banget gila," ucap Gina.


"Iya nih punya gue juga pedes banget anjir. Sambelnya lagi salah kalik ya." Celetuk Tasya.


Tasya mendengus. "Ya itu sih elo!"


"Piece Sya. Lo kepedesan kalo marah tambah nyeremin."


Tasya menatap tak suka ke arah Alea. Menyadari tatapan itu, Gina langsung melerai. "Udah-udah! Nggak usah di bahas."


Tasya dan Alea hanya mengangguk. Kemudian melanjutkan makan lagi.


Alea mengambil ponselnya untuk mengecek apakah ada berita terbaru yang bagus untuk di jadikan topik. Matanya berbinar kala membaca sesuatu di sana.


"Gaes!" Seru Alea membuat perhatian Gina dan Tasya beralih ke gadis itu.


"Galang lagi main basket lawan kelas sebelah! Nonton yuk!"

__ADS_1


Menghela napas, Gina lalu menggeleng. Dia kira apa. "Gue nggak ikut." Ujarnya membuat Alea cemberut.


"Yah kenapa Gin? Kalau yang nonton cuma gue sama Tasya aja nggak seru tahu!"


"Bener tuh Gin kata Lea! Ikut aja sama kita." Sahut Tasya.


'Males banget. Tapi kalau gue ke kelas pun juga bosan. Sekalian nunggu bel deh.' -Batin Gina. Gadis itu akhirnya mengangguk membuat kedua sahabatnya bersorak dan langsung menariknya. Gina hanya pasrah kala tangannya di tarik.


Segerombolan cewek-cewek berderet di sisi lapangan. Termasuk Gina dan sahabat-sahabatnya. Alea paling keras menyoraki Galang. "GALANG! GALANG!! AYO LANG! LO PASTI MENANG!!"


Di sampingnya, Gina menutup telinga. Suara Alea yang keras dan cempreng, bersamaan dengan suara siswi lainnya membuat Gina sedikit merasa pusing. Di tambah, gerah dan sumpek karena banyaknya manusia.


Merasa badannya sangat lengket Galang melepas saru persatu kancing seragamnya membuat cewek-cewek memekik histeris. Kecuali Gina tentunya.


Galang melempar seragamnya, menyisakan kaos putih polos yang melekat di tubuh atletisnya. Lalu menyugar rambutnya dengan jari-jari tangan.


Melihat itu Gina mencebikkan bibirnya. "Dasar tukang tebar pesona!" Gumam Gina.


Teriakan cewek-cewek pun semakin keras. Sebegitu mempesonanya seorang Galang Arga Danuarta ternyata...


"Galang cool banget OMG!"


"Pantes dijadiin cowok gue nih!"


"Masalahnya Galang mau nggak sama lo!"


"I love you Galang!"


"Galang keringatnya sini biar aku elapin!!"


Galang pun melanjutkan bermain. Tak sengaja matanya menangkap seseorang yang dia cintai. Siapa lagi kalau bukan Gina. Gadis itu tengah cemberut. Sepertinya sedang menahan kesal.

__ADS_1


Galang tersenyum tipis. Ide gila muncul di otak kecilnya. Lihat nanti apa yang akan cowok itu lakukan. Pasti akan membuat gadis yang di cintainya itu sangat terkejut. Walaupun resikonya dia akan menanggung malu.


__ADS_2