Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Hukuman Dari Bu Tresna


__ADS_3

Menunggu Dika. Tapi yang datang malah Gina. Galang menatap Gina yang tengah mengajak Gilang bermain. Kini ketiganya tengah berada di ruang tengah. Jika biasanya Galang akan merasa sangat senang, sekarang biasa saja. Karena pikirannya kini hanya tertuju pada Dika. Gina yang menyadari itu pun bertanya. "Lo kenapa sih Lang? Keliatannya gelisah banget," celetuk Gina.


Menghela napas, Galang lalu menggeleng pelan membuat Gina merasa heran. "Dika?" Tebak gadis itu.


Galang hanya mengangguk menanggapi.


Merasa tidak terlalu penting, Galang berdiri, lalu berjalan menuju kamar untuk menelfon Dika. Sebelumnya ponselnya sudah di cas.


Menekan nomor Dika, Galang pun duduk di atas kasur. "Kenapa nggak angkat-angkat sih!" Galang kesal sendiri lantaran Dika yang tak kunjung mengangkat telefon darinya.


Semakin kesal karena nomor Dika malah tidak aktif sekarang. Apa cowok itu sengaja?


"Galang," mendengar Gina memanggil namanya, Galang pun menoleh. Tepat di depan pintu, Gina berdiri sambil menggendong Gilang.


"Iya? Kenapa Gin?" Tanya Galang.


Gina perlahan berjalan mendekat. "Gue mau beresin barang-barang gue yang masih ada di sini," jawab Gina, "gue titip Gilang ya? Jaga Gilang baik-baik."


Mengangguk. Galang mengambil Gilang dari Gina. Kemudian Gina beranjak dan membereskan barang-barangnya untuk di bawa pulang.


•••


Jika dipikir-pikir, Galang tidak melakukan kesalahan apapun pada Dika. Diamnya Dika membuat Galang bingung, dan heran.


Pagi tadi, Galang menyapa Dika yang kebetulan berpapasan di parkiran. Tapi malah tidak di respon sama sekali. Sahabatnya itu diam dan berlalu begitu saja.


"Galang arga danuarta!!" Suara tegas seseorang yang memanggilnya, membuat Galang tersadar. Ia pun menoleh ke arah Bu Tresna. Guru itu menatap tajam ke arahnya sekarang.

__ADS_1


Galang meneguk ludah. "Iya Bu? Ada apa ya manggil nama lengkap saya?"


"Ada apa. Ada apa. Keluar dari kelas saya sekarang! Saya tidak butuh murid yang tidak memperhatikan apa yang saya terangkan. Melamun terus dari tadi. Mikirin hutang, kamu!?"


Galang menggeleng-nggeleng. "Saya kan orang kaya Bu! Saya nggak punya hutang. Ibu kalik yang punya!" Balas Galang tidak terima. Pintar sekali kamu nak...


Bu Tresna melotot sedetik. "Berani kamu menjawab?!"


"Iyalah Bu! Kan saya hanya membenarkan." Galang berkata dengan tenang. Masa iya Galang di bilang punya hutang. Mana mungkin!


Di sampingnya, Gina menepuk jidat. 'Bego banget si Galang astaga...'- Batin Gina. Satu kelas pun melongo di buatnya. Galang begitu berani menjawab perkataan Bu Tresna.


"Keluar dan sapu taman sekolah se.ka.rang!!"


"Loh Bu kan tadinya saya cuma di suruh keluar, kok sekarang di suruh sapu taman juga sih?" Galang protes.


"Jangan Bu! Permisi," pamit Galang yang langsung berjalan tenang keluar kelas. Melihat itu Bu Tresna geleng-geleng kepala. "Jangan di tiru ya semuanya. Itu contoh yang tidak baik."


"IYA BU!!"


•••


Disinilah Galang sekarang. Di taman sekolah. Tangannya penuh memegang sapu dan serokan.


"Anj*ng banget. Taman seluas ini, sekotor ini, gue di suruh sapu sendirian? Emangnya gue tukang sapu apa!? Gila aja tu guru!" Sewot Galang.


Tapi sepertinya Galang lupa siapa Bu Tresna. Padahal sudah pernah di hukum oleh guru galak itu sebelumnya. Bu Tresna. Guru matematika. Guru terkiler di SMA Mandala. Guru yang seenaknya memberi hukuman berat kepada siswa yang menurutnya tidak baik, yang paling di hindari murid-murid tidak taat aturan.

__ADS_1


Melihat taman yang kotor dengan dedaunan dan ada juga plastik bungkus makanan membuat cowok itu malas. Melihat saja sudah malas. Apalagi menyapu. Kalau di lihat-lihat taman ini hampir sebesar lapangan.


Dengan ogah-ogahan Galang mulai menyapu. Sebegitu mengganggu pikirannya, seorang Dika. Karena Galang menganggap Dika bukan sekedar sahabat. Tapi juga saudara.


"Biar gue bantu."


Deg


Galang menoleh ke arah sumber suara. Tak jauh darinya, Dika menyapu, membuat senyum Galang terbit. "Makasih Bro!" Ucap Galang.


Walaupun sedang marah dengan Galang karena Bayi itu, tak membuat rasa peduli Dika berkurang terhadap Galang. Dika memang marah. Marah besar. Tapi dirinya sadar. Mungkin berat untuk Galang bercerita.


Beberapa menit kemudian...


Galang menyerahkan sebotol air dingin ke arah Dika. "Nih minum!" Ujarnya.


Tanpa sepatah kata, Dika menerimanya, dan langsung meneguk air di dalamnya sampai tersisa setengah.


"Lo kenapa diemin gue? Ada masalah?" Tanya Galang membuka pembicaraan. Cowok itu kemudian duduk di samping sahabatnya.


Dika diam.


"Gue ada salah sama lo ya? Apa gimana? Please Dik... jangan kayak anak cewek yang marahan diem-dieman. Gue ada salah apa sampe lo diemin gue gini? Lo tonjok gue juga nggakpapa. Yang penting jangan diem." Galang masih mencoba agar Dika mau bicara padanya.


"Lo hamilin siapa?"


Alis Galang tertaut mendengarnya. Ini memang suara Dika. Tapi pertanyaannya membuat jantung Galang berdetak lebih cepat, merasa gugup. 'Apa Dika lihat Gilang kemarin?'

__ADS_1


__ADS_2