Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Perlakuan Manis


__ADS_3

Perkataan panjang Kafi tidak salah. Sekarang Galang menjadi bimbang. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya?


Galang berdecak, "ck. Nggak tau lah ntar biar gue bicarain ini ke Gina," kata Galang, "tapi kalau lapor polisi, kayaknya akan lebih mudah, iya nggak Dik?" Galang meminta pendapat pada Dika.


"Malah akan rumit kalo lapor polisi Lang! Kalo lo berubah pikiran gimana?" Balas Dika.


"Masalahnya gue juga udah mulai sayang sama Gilang. Dan gue... mm gue juga kan punya tanggung jawab buat jaga Gilang,"


"Nggak! Lo nggak punya tanggung jawab!" Bantah Kafi.


"Yang ngajak Gina waktu itu ke danau itu gue Kaf. Gue juga kan setuju bawa Gilang pulang ke apart gue. Kata lo itu salah kan Kaf, tapi menurut gue itu manusiawi," jelas Galang.


"Manusiawi tapi Gina juga harusnya bantu lo!"


Dika mengacak rambutnya gusar. "Arrgh, kalian debat mulu elah gue jadi ikut bingung nih!"


Galang dan Kafi kompak menoleh manatap Dika. Ketiganya terdiam sambil berfikir.


•••


Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, membuat semua murid bersorak senang. Semua murid pun membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas masing-masing.


Gina menoleh menatap Galang. Entah kenapa setelah jam istirahat hari ini Galang belum berbicara sepatah kata pun padanya. Aneh. Biasanya Galang akan terus berceloteh, menggoda, atau menjaili Gina saat pergantian mata pelajaran, istirahat, dan saat pulang sekolah. Tapi ini kok tidak?


"Lang," Panggil Gina.


Galang menoleh. "Apa?" Balas Galang.

__ADS_1


"Katanya mau cari ortu Gilang. Jadi nggak?" Tanya Gina.


Galang terdiam beberapa saat. Sebenarnya perkataan Kafi masih mengusik pikirannya. Sampai akhirnya, cowok itu menjawab pertanyaan Gina dengan menganggukkan kepalanya membuat senyum Gina terukir cantik. Anything for you~


Keduanya pun berjalan beriringan menuju parkiran. Banyak yang menatap Gina dengan tatapan bermacam-macam. Ada yang iri, ikut senang, tak suka, kagum, dan masih banyak lagi tatapan yang tertuju pada Gina. Tetapi semuanya menatap Galang dengan tatapan memuja.


Sebenarnya Gina sangat tidak suka jika menjadi pusat perhatian seperti ini. Gina merasa risih dengan berbagai tatapan itu. Apalagi yang menatapnya dengan rasa tak sukanya. Sudah pasti iri karena sekarang dirinya tengah berjalan bersama dengan salah satu most wanted.


"Gin,"


"Gina,"


"Apaan?"


Galang berhenti berjalan membuat Gina ikut memberhentikan langkahnya. "Lo risih?" Tanyanya pada Gina.


Tanpa di duga, perlahan Galang menyatukan tangannya dengan tangan Gina. Keduanya terlihat seperti bergandengan tangan. Hal itu membuat jantung Gina berdisko. Sedikit baper Gina di perlakukan seperti itu.


Galang sedikit menunduk untuk melihat wajah Gina. Cowok itu lalu mengacak pelan rambut Gina, dan tersenyum ke arah gadis itu. "Nggak usah perduliin mereka. Anggap aja kita cuma berdua. Oke?"


Gina tak bisa menahan senyum. Ia hanya bisa mengangguk membalasnya. Siapa sih yang tidak baper di perlakukan manis seperti itu? Walaupun Gina terlihat cuek tetapi tetap saja baper. Kadang Gina berpikir. Sebenarnya Galang ini memang benar jatuh cinta padanya atau tidak sih?


Gadis itu takut salah membuka hati.


Perlakuan Galang pada Gina membuat semua siswi yang sedari tadi melihatnya menjerit tertahan. Perkataan mereka pun samar-samar terdengar di kedua telinga Gina.


"Galang sweet banget sih."

__ADS_1


"Gue pengen juga di gituin Galang."


"Dalam mimpi lo!"


"Tapi gue nggak mau dalam mimpi. Maunya yang asli."


"Halu lo ketinggian!"


"Cogan mana cogan?"


"Kapan ya gue bisa gandengan tangan sama cogan di sekolah?"


Galang menjalankan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Di belakangnya, Gina memejamkan matanya rapat-rapat. Ia berpegangan erat pada jaket yang di kenakan Galang.


Galang yang melihat itu dari kaca spion pun tersenyum penuh arti. Ia memelankan laju motornya. "Pegangan sayang! Nanti jatoh!" Serunya membuat Gina sedikit kaget. Gina yang merasa kecepatan motor Galang menurun pun membuka kedua matanya yang semula terpejam itu.


"Udah! Lo nggak liat apa!?" Jawabnya ngegas membuat Galang terkekeh.


Tanpa memberi tahu, Galang tiba-tiba mempercepat laju motornya kembali. Hal itu sontak membuat Gina reflek memeluk pinggangnya erat. "Jangan ngebut-ngebut Galang!!"


Senyum Galang semakin lebar tentunya. Bahkan Gina bersender di punggungnya sekarang. Ah, Galang menang banyak hari ini.


Dear, Regina Valeria


Apa pun akan gue lakuin buat lo merasa bahagia


Senyum manis lo selalu buat gue candu dan buat gue selalu ingin liat senyum itu

__ADS_1


Mungkin saat ini gue belum tau siapa yang ada di hati lo. Tapi gue, Galang Arga Danuarta, akan selalu berusaha membuat lo jatuh cinta, dan membalas perasaan gue ini.


__ADS_2