Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Dika Si Cerewet


__ADS_3

Teriakan seseorang membuat Galang dan Gina kompak menoleh ke arah sumber suara. Sadar akan posisi mereka, Galang sedikit menjauh dari Gina, dan melepaskan tangannya yang sebelumnya ada di pinggang Gina.


Orang itu Aldo. Dengan tergesa Aldo menghampiri Galang dan Gina. Menatap Galang dengan tatapan tajam. "Lo mau ajak Gina mesum di sekolah, hah?!" Tanyanya ngegas.


"Nggak lah! Yakali! Pikiran lo terlalu jauh anjir!"


"Orang posisi kalian ambigu kok!"


"Ya karena tadi gue lagi bisikkin Gina!"


"Lo setan, bisikkin manusia?! Jangan-jangan lo ngomong yang nggak-nggak ya sama Gina!" Tuduh Aldo.


"Astaghfirullah..." Galang tak habis pikir dengan jalan pikiran Aldo yang selalu negatif padanya. "Serah lo dah mau mikir apa! Bodoamat!"


Kesal, Galang beranjak berdiri dan berjalan pergi dari sana. Sumpah Galang sangat tidak suka pada Aldo! Dia benci pada cowok itu dengan segala tingkah sok yang selalu dia perlihatkan. Di tambah Aldo menjabat sebagai ketua osis. Bagi Galang ketua osis itu menyebalkan. Hanya bisa menyuruh-nyuruh sesukannya. Dan tadi, Aldo tak terlihat seperti seorang ketua osis pada umumnya yang berprilaku adil menurut Galang. Iyalah, masa enggak!


Sedangkan Gina kini juga menatap Aldo dengan tatapan tak sukanya. "Lo jangan tuduh sembarangan dong! Gue nggak ngapa-ngapain sama Galang." Ucap Gina menjelaskan.


"Kalo gitu sekarang kita yang ngapa-ngapain." Balas Aldo dengan senyuman miringnya.


"Hah?!


•••

__ADS_1


"Lo kemana aja? Bu Tresna tadi nyariin lo tuh, kangen katanya!" Ujar Kafi pada Galang.


Kini, Galang, Dika, dan Kafi tengah berada di kantin. Saat Galang pergi ke kantin, ternyata sudah banyak yang pergi ke sana. Kedua teman dekatnya pun ternyata ada. Padahal jam istirahat kurang 3 menit lagi.


"Di hukum," jawab Galang malas, "gara-gara telat."


"Wih di hukum. Mau jadi bad boy lo? Perasaan dulu lo jarang banget buat ulah di sekolah," sambar Dika.


"Au ah. Eh kalian kok makanannya udah pada abis sih? Jam istirahat aja baru bunyi. Kalian nggak bolos kan?" Tanya Galang. Matanya menatap penuh curiga ke arah Dika dan Kafi.


"Nggak lah!" Jawab Kafi.


"Emang lagi free kalik Lang! Makanya, berangkat sekolah jangan sampe telat! Tidur mulu lo! Usahain jangan telat! Kan nanti kalo gitu terus, lo yang di cap nggak baik sama guru Galang! Gimana si! Kalau Bokap Nyokap lo tahu gimana? Udah di sekolahin mahal-mahal, tapi lo malah nakal! Kasihan bokap lo banting tulang demi bayar sekolah lo! Lo kira cari uang gampang apa?" Omel Dika membuat Galang mengangguk-angguk dan menggeleng layaknya anak kecil yang tengah di omeli Ibunya.


'Gue lebih kasihan ke calon anak lo Dik. Ke gua aja lo ngomel kayak cewek. Apalagi ke anak lo nanti. Semoga aja istri lo nanti nggak kayak lo yang cerewet gini. Bisa-bisa tekanan batin anak lo nanti! Ya walaupun tujuan lo baik sih.'


Ia jadi teringat akan masa pertama melihat dan mengenal Galang. Dulu ia sering cekcok dengan Galang. Menganggap Galang adalah cowok sombong dan angkuh. Tapi setelah mengenal lebih dekat ternyata tidak seperti itu. Galang humoris. Sering tertawa seperti terlihat bahagia.


Kafi akui, Kafi iri pada Galang. Keluarga yang utuh, kaya, tampan, punya sahabat yang tulus punya niat untuk sahabatan (Dika), ya walaupun hanya 1. Kurang apalagi coba? Tapi lihat lah dirinya, teman-temannya dulu dekat dengannya hanya karena uang. Setelah tau Papanya bangkrut mereka malah menjauhi Kafi. Untungnya sekarang Papanya bisa membangun perusahaannya kembali karena kegigihannya.


Dan satu lagi yang kalian perlu tahu tentang Kafi. Dia broken home. Papanya sudah menikah lagi. Tapi Ibu tirinya cuek padanya. Sangat-sangat cuek dan tidak perduli padanya. Jika sedang ada Papanya saja terlihat baik, perhatian.


'Lo beruntung Lang.'

__ADS_1


Setelah selesai Dika berbicara panjang, Galang membuka suara. "Bantu gue cari ortunya Gilang ya nanti. Kalian mau kan nolong gue?" pintanya membuat dahi Kafi berkerut.


"Ngapain di cari? Orang Gilang udah nggak di inginin sama mereka kok! Mending lo yang urus aja Lang! Daripada kalo udah ketemu terus diem-diem orang tuanya buang Gilang lagi," balas Kafi.


"Nggak selamanya gue bisa urus Gilang, Kaf. Butuh biaya banyak. Sedangkan gue masih sekolah. Gue udah sering bohong ke nyokap buat minta uang lebih dan lainnya buat Gilang. Belum lagi gue takut kalau misalnya nyokap gue dateng ke apart nggak bilang-bilang. Kalau liat Gilang nanti reaksinya gimana? Nggak lucu kalau gue di sangka hamilin anak orang."


"Iya, Kaf. Bener tuh apa yang di omongin Galang."


"Kan bisa Gilang di taruh di panti asuhan? Gilang akan di urus dengan baik di sana."


"Gina nggak setuju."


"Segitu bucinnya lo sama dia?"


"Iyalah!"


"Emang Gina ikut bantu jagain Gilang? Dia kasih uang buat lo beli keperluan Gilang? Nggak kan?"


"Kan gue cowok. Gue yang bilang nggak usah, biar gue aja."


Kafi terkekeh mendengar penuturan Galang. "Pikir logika! Lo dapet apa dari Gina? Tu cewek ada manfaatnya nggak. Gina yang nemuin Gilang, kenapa lo yang repot? Dengan begonya lo malah mempersilahkan Gilang tinggal di apart lo. Padahal itu bukan tanggung jawab lo. Iya gue tau lo suka sama dia. Tapi nggak usah segitunyalah Bro! Kalo Gina nggak ngurus Gilang, terus nggak mau Gilang tinggal di panti, kenapa lo yang susah-susah ngehidupin anak orang? Biarin aja Gina kesusahan sama urusannya sendiri,"


Kafi berhenti sejenak meminum es teh di depannya, "Kalau perasaan lo terbalaskan sih nggakpapa. Lah ini enggak sama sekali! Malah tu cewek cuek kan sama lo?"

__ADS_1


Galang terdiam.


Berusaha mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut Kafi dengan baik. Intinya, Kafi tidak setuju Gilang di urus olehnya. Karena Kafi beranggapan itu bukan tanggung jawab Galang. Melainkan Gina.


__ADS_2