Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Mama Gina


__ADS_3

Gina turun dari taksi. Gadis berbandana pink itu mengucap salam sambil masuk ke dalam rumah keluarganya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Gina... kamu kemana aja sih? Udah hampir maghrib lho ini?" Tanya Bundanya Gina yang tengah menatap Gina dengan wajah khawatirnya.


Gina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Di ruang tamu ada Ayah, Bunda, dan Adiknya yang sedang berkumpul. Sepertinya mereka menunggu kedatangan Gina.


"Hehe maaf Bun. Gina kerja kelompok." Jawab Gina.


"Emang kerja kelompok sampai se-sore ini ya kak?" Sambar Chiko ~ Adik Gina.


Gina menatap sinis ke arah Chiko. "Bukan urusan lo!" Balas Gina ketus.


Chiko mencebikan bibirnya.


"Gina, kamu kan anak perempuan. Jadi, kalau pulang jangan sore-sore begini ya nak..."


Gina mengangguk. "Iya Yah. Yaudah, Bun! Yah! Gina ke atas dulu ya?" Pamit Gina.


"Iya." Balas Ayah dan Bunda.


•••


Setelah shalat maghrib, Gina bergegas membereskan barang-barang yang akan ia bawa ke apartemen Galang. Scincare malam dan buku sekolah juga tak lupa gadis itu masukkan ke dalam tas ranselnya.


Ketika di rasa sudah siap, semua barang sudah di dalam tas yang sekarang membesar itu, Gina menggendong tas ranselnya di punggung. Ia pun berjalan keluar kamar, menuruni satu persatu anak tangga agar sampai ke lantai satu.

__ADS_1


Di meja makan, terlihat Ayah, Bunda, dan Chiko yang tengah duduk. Bunda Gina tengah menaruh nasi ke atas piring dan kemudian menaruh piring itu di hadapan Ayah.


Gina menghampiri keluarganya. Ketiganya bingung melihat Gina membawa ransel yang kelihatan banyak isinya itu.


"Kamu mau kemana Gina? Kok bawa tas ransel? Barangnya banyak banget kelihatannya?" Tanya Bunda.


Gina tersenyum simpul. "Iya nih Bunda. Ayah, Bunda, Gina mau izin nginap di rumah Alea ya? Boleh nggak? Boleh dong?"


"Maksa banget lo kak." Cibir Chiko.


"Ck. Diem lo Chik!" Sentak Gina.


"Boleh kalau memang menginap di rumah Alea." Jawab Ayah. Membuat Gina meloncat girang.


"Yeay! Makasih Ayah!" Gina berjalan mendekat, dan berhambur ke pelukan Ayahnya. Ayah dan Bunda Gina memang sudah mengenal Alea karena Alea terkadang main ke rumah mereka.


"Yaudah kalau gitu Gina pamit dulu." Gina menyalami kedua orang tuanya. Gadis itu lalu langsung pergi menuju apartemen Galang menggunakan taksi.


Beberapa menit kemudian, Gina sampai di apartemen Galang. Ia membuka pintu kamar.


"Hai Lang!" Sapa Gina sambil berjalan mendekati kasur dan duduk di sana.


Galang menoleh. Cowok itu mematikan ponselnya. "Hai juga. Jagain nih! Gue belum shalat." Ucap Galang.


Gina mengangguk. Galang pun langsung beranjak dan shalat di kamar yang satunya.


Beberapa menit kemudian...


Galang dan Gina kembali duduk di atas kasur dengan bayi itu sebagai penengah.

__ADS_1


Bayi itu menggeliat. Kemudian terdengar isak tangis.


Eaaaakk eaaaa


"Gin, anak kita nangis tuh! Kasih susu sana!" Seru Galang.


Gina menoleh. "Gue belum punya anak! Lagian lo kan belum beli susu!?" Balas Gina.


"Di elo kan ada." Ujar Galang santai sambil menunjuk dada ke arah Gina.


Sontak Gina mengikuti arah tunjuk Galang. Gadis itu lantas mendelik tak terima. "Apaan sih! Lenyap aja lo sana!!" Ujar Gina sambil melempar bantal dan tepat mengenai wajah tampan Galang. Gadis itu memasang wajah galaknya sekarang.


"Kalau aku nggak ada, terus siapa yang jagain kamu sama anak kita nanti hmm?" Tanya Galang dengan wajah tanpa dosanya.


Gina menggeram kesal. Tetapi ia tahan. Gadis itu mengangkat bayi yang memanangis itu dan menggendongnya.


"Sst sst ssst sst, sayang jangan nangis ya? Mama di sini,"


Galang melongo mendengar Gina yang menyebut dirinya sebagai mama bayi itu. "Mama?" Beo Galang dengan ekspresi plongonya. "Mama Gina hahaha."


Gina tak memperdulikan Galang. Gadis itu berdiri dan mencoba memberhentikan tangisan bayi itu. Namun sepertinya bayi itu haus, dan masih menangis.


"Lang, babynya kalo di kasih minum air putih boleh nggak ya?" Tanya Gina. Bayi itu masih terus menangis di gendongan Gina. Ia merasa bingung sekarang.


"Jangan Ma! Nanti biar Papa beliin susu aja." Jawab Galang membuat Gina terkejut. Papa Mama? Iuuh


"Lang sumpah gue pengen tendang lo dari sini. Ngapain panggil Mama Papa?! Jijik tahu nggak!" Seru Gina sambil menatap sengit ke arah Galang.


Galang terkekeh. "Kan tadi lo bilang sendiri ke dede bayi itu kalau Mama di sini. Lo bilang sendiri kalau lo Mamanya. Ya berarti gue Papanya dong?" Galang menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Ck. Serah lo yang penting sekarang ini gimana nenanginnya? Lo beli susu sana! Sekalian beli makanan apakek!"


Galang mengangguk patuh. Kemudian cowok itu mengambil ponselnya, dan langsung menelfon seseorang. Sedangkan Gina keluar dari kamar dan pergi ke ruang tengah sambil mengajak ngobrol si bayi.


__ADS_2