
"Kalau bukan karena Pak Timo--"
"Tomo Lang." Sela Gina.
"Ck. Iya pak Tomo. Namanya susah amat sih. Kalau bukan karena Pak Tomo gue juga ogah duduk semeja sama lo," Balas Galang.
"Kalau bukan karena Pak Tomo juga gue nggak mau duduk sama lo," Ujar Gina.
Galang dan Gina saling membuang muka.
Galang tersenyum mengingat awal hari di mana dia dan Gina di pertemukan dalam satu kelas dan malah satu meja berdua. Sangat lucu. Dari awal pun mereka tidak pernah akur.
Gina yang berada di samping Galang menatap aneh ke arah Galang. "Bssst," bisik Gina memanggil Galang. Saat ini sedang pelajaran sejarah jam terakhir. Bu Nur yang merupakan guru sejarah tengah berada di depan kelas sambil menerangkan.
"Bssst, Galang," panggil Gina lagi.
Galang yang merasa namanya terpanggil pun tersadar. Cowok itu menoleh. "Apa?"
"Pelanin suara lo. Lo ngapain sih senyum-senyum nggak jelas? Gila ya lo?!"
Galang langsung menggeleng kuat. "Enggak! Siapa juga yang gila?"
Gina tidak menghiraukan Galang lagi. Ia beralih menatap Bu Nur. Untung saja Bu Nur tidak menegurnya karena mengobrol saat jam pelajarannya.
"Oke, karena sebentar lagi jam Ibu habis, Ibu akan memberikan tugas untuk kalian," Ujar Bu Nur membuat ekspresi semua murid di dalam kelas XI IPS 2 berubah seketika.
"Tugasnya di halaman lima puluh delapan." Lanjut Bu Nur.
Salah satu Siswa bernama Rafi mengangkat tangan kanannya. "Ini tugas kelompok Bu?"
"Oh bukan. Ini tugas mandiri."
"Tapi di tulisan atasnya tugas kelompok Bu!" Protes Rafi.
"Iya Bu! Kelompok aja!" Sahut seorang siswi.
Gina menggeleng. Ia tidak ingin kerja kelompok. Sangat-sangat tidak ingin. Apalagi jika dia satu kelompok dengan Galang. Big no!
Bu Nur menghela napasnya kasar. "Baik. Tugas ini kelompok. Satu kelompok dua orang. Dan, Ibu ingin sesuai dengan teman sebangku kalian."
Gina berdecak kesal mendengarnya. Yang sangat dia tidak inginkan terjadi. Gadis itu melirik Galang. Cowok itu tengah tersenyum sambil berucap tanpa suara. Gerakan mulutnya tak bisa Gina pahami. 'Galang kok aneh sih?'
•••
Gina pulang sekolah menggunakan ojol. Gadis itu berjalan memasuki rumahnya yang berlantai 3.
"Assalamualaikum," Salam Gina.
"Waalaikumsalam." Jawab Bundanya ~ Riri. Wanita paruh baya itu menghampiri putrinya.
"Langsung bersih-bersih sana!"
"Siap Bunda!"
Gina berjalan menaiki satu persatu anak tangga. Kamarnya ada di lantai 3. Paling jauh dan sendirian. Di lantai tiga hanya ada 1 kamar yaitu kamarnya saja. Karena Gina mempunyai 1 adik, jadi dia mengalah dan mendapatkan kamar di lantai 3.
Di bukannya pintu kamar yang bercat warna pink itu. Dia menaruh tas ransel hitam pinknya di atas meja belajar, dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, setelah Gina selesai membersihkan tubuhnya dan berganti baju, Gina menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Gimana ya nanti kalau gue kerja kelompok cuma berdua aja sama si Galang? Bisa-bisa darah tinggi gue." Ucap Gina sambil menatap langit-langit kamar.
Gina beranjak setelah mendengar dentingan ponselnya. Ia pun mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.
GalangJelek
Jangan lupa besok Gina
"Apa-apaan sih ni bocah? Nggak usah di ingetin juga kalik! Bikin sebel aja." Kata Gina.
Ponsel Gina berdenting kembali. Dan itu pesan dari Galang lagi.
GalangJelek
Besok gue jemput
Kirim alamat lo aja
^^^Gina^^^
^^^Ga usah^^^
GalangJelek
Udah sih gapapa Gin...
Ga usah sungkan sama calon BF lo ini:)
^^^Gina^^^
^^^Oke, nanti gue kirim alamatnya^^^
GalangJelek
Sipp
See you cantik❤
Gina hanya membaca pesan terakhir dari Galang tanpa mau membalasnya. Gadis itu kemudian beranjak berdiri dan berjalan keluar kamar menuju lantai 1 untuk mengambil minum karena haus.
•••
Gina menatap arloji di tangan kirinya, dan beralih menatap ke kanan dan ke kiri menunggu kedatangan Galang yang entah lama sekali datangnya. Hari ini adalah hari minggu, dan Gina dan Galang akan mengerjakan tugas dari Bu Nur siang ini.
"Ah Galang lama! Mending gue tunggu di dalam aja deh." Ucap Gina. Gadis berbandana pink itu berbalik.
BRUM... BRUM...
Tapi setelah mendengar suara deru motor, Gina berbalik kembali. Pengendara motor itu pun berhenti tepat di depan Gina. Kemudian membuka helm full facenya.
"Lo lama amat sih! Lumutan nih gue nunggu!" Decak Gina.
Galang nyengir. "Ya sorry. Tadi habis nganterin ibu negara arisan dulu. Yuk langsung berangkat!"
Gina mengangguk. Ia langsung naik dan duduk di atas motor sport milik Galang. "Kita mau kemana?" Tanya Gina.
__ADS_1
"Ke kafe G'A aja." Jawab Galang sambil memakai kembali helmnya.
"Oke."
Mereka diam beberapa saat. Sampai akhirnya, Gina membuka suara karena heran Galang belum juga menjalankan motornya. "Kok nggak jalan-jalan Lang?"
"Nggak mau peluk gue? Ntar jatuh lho!"
"Modus lo!"
"Yaudah kalau nggak mau."
Galang menyalakan mesin motornya, dan menjalankannya. Awal-awal laju motor Galang pelan. Tapi tiba-tiba Galang mengebut. Reflek Gina memeluk pinggang cowok itu. "GALANG ANJRIT!!"
Galang tersenyum di dalam helm full facenya.
Beberapa menit kemudian, Galang dan Gina sampai di kafe G'A. Keduanya turun dari motor.
"Kenapa lo pilih kafe ini?" Tanya Gina.
"Karena ini kafe gue." Jawab Galang singkat yang mempu membuat Gina terkejut. Mulut Gina sedikit terbuka. Hal itu membuat Galang tak bisa menahan senyum.
"Tutup tuh mulut lo! Nanti nyamuknya masuk!" Ujar Galang jahil.
"Issh!"
Gina langsung berjalan memasuki kafe. Meninggalkan Galang yang masih berdiri di sana.
"Tungguin woi!!"
Gina membagi tugas untuknya dan Galang. Mereka mengerjakan tugas masing-masing sambil memakan makanan dan minuman yang sudah di pesan sebelumnya.
Gina selesai terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian di susul oleh Galang.
"Nih, gue udah." Kata Galang.
Gina hanya mengangguk menanggapi.
"Gin," panggil Galang. Membuat Gina menoleh ke arahnya.
"Hm?"
"Jalan sama gue yuk? Gue nggak terima penolakan sih. Yuk langsung aja! Udah selesai kan?"
Alis Gina tertaut. "Seenaknya aja lo bilang gitu. Emang lo mau ajak gue ke mana?" Tanya Gina.
"Ke suatu tempat."
Gina menatap Galang curiga. Ke suatu tempat? Jangan-jangan...
"Buang pikiran kotor lo. Hari ini gue cuma pengin ngehabisin waktu bareng lo. Itu aja kok. Lagian lo nggak ada kerjaan kan di rumah? Mending jalan sama gue."
Gina diam sambil berpikir. Jika di pikir-pikir boleh juga tawaran Galang. Lagi pula bosan juga kalau di rumah terus.
"Oke deh. Gue mau. Kuy lah!"
Galang tersenyum senang mendengar jawaban Gina. Kemudian, Galang dan Gina pun keluar dari kafe setelah membayar.
__ADS_1