Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Lagi


__ADS_3

"Heh, cuek boy! Kita mo kemana nih? Lo main culik-culik gue aja!" Dika berucap sebal. Matanya menatap ke arah Kafi dari kaca spion. Cowok yang di juluki cuek boy di sekolah itu melirik Dika dari kaca spion.


"Jalan-jalan aja Dik. Gue sumpek di rumah terus!" Balas Kafi, "nyari angin,"


"Ci ilih, gaya lo cari angin. Angin kok di cari. Mau masuk angin lo?"


Kafi hanya terkekeh menanggapi.


Saat ini Dika dan Kafi tengah berboncengan menggunakan motor Kafi, tanpa tujuan. Kafi hanya memutari jalanan yang ia tahu. Karena memang ia belum berencana ingin pergi kemana. Kalau ke kafe pun, hanya duduk-duduk sambil makan dan minum saja. Jadi Kafi pikir lebih baik jalan-jalan memutari kota dengan menggunakan motor.


"WOY KAF, ADA MAYAT!"


Dika berteriak keras membuat Kafi sedikit oleng dan reflek mengerem mendadak membuat Dika langsung memeluk erat Kafi. Helm mereka bertabrakan.


Duk


"Wey bagong! Napa lo meluk gue?! Ihh najis!" Kafi melepaskan tangan Dika yang memeluk pinggangnya dengan kasar. Dika hanya cengengesan. "Ya abisnya lo ngerem mendadak. Reflek oy!"


"Reflek, reflek. Gue nih tadi hampir oleng gara-gara lo teriak di depan telinga," balas Kafi tak terima, "eh tapi... mana mayat yang lo tadi bilang,"


"Lah itu di bawah," Dika menunjuk ke beton jalan. Mata Kafi seketika melotot.


"Duh Dik, gawat nih. Bisa-bisa kita yang di kira bunuh dia,"


"Lah iya ya. Terus gimana nih? Masa iya kita tinggalin? Kasian dong Kaf,"


"Eh, lo liat nih, di sekitar sini tuh nggak ada cctv. Sedangkan jaman sekarang mah orang-oarang seringnya menuduh tanpa bukti. Mau lo jadi tersangka?"


Dika menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. "Gi-gimana kalo kita cek dulu? Dia mati apa belum?"


Setelah mengatakan itu, Dika langsung turun dari motor. Ia mendekati seseorang yang tergeletak tengkurap di jalan itu. Tanpa menghiraukan Kafi yang kini takut setengah mati. "Berani banget si Dika,"

__ADS_1


Tanpa merasa takut, Dika berjongkok di depan orang itu.


"T-to-long,"


Dika merasa jantungnya berdebar cepat. Ia mendengar suara. Sepertinya itu suara orang yang tengkurap di jalanan sepi ini. Dengan perasaan was-was, Dika bertanya, "Lo masih hidup?"


"Ma... sih,"


Mendengar itu Dika langsung berdiri. "WOY KAF! MASIH HIDUP NI ORANG!"


Kafi langsung berjalan mendekat. "Serius lo?"


"Iya. Tadi bilang tolong kok. Gue tanya juga ngejawab."


Kafi berjongkok di depan orang itu. Ia langsung menarik, dan sedikit mendorong orang itu agar berubah posisi menjadi terlentang. Kafi berhasil. Kini dia bisa melihat luka orang itu. Di wajahnya babak belur. Kafi mengira pasti orang itu habis berkelahi.


"Gue pesen taksi online dulu deh," putus Kafi.


Sedangkan di lain tempat...


"Will you be my girlfriend?"


Deg


Ini mungkin bukan yang pertama bagi Gina mendengar Galang memintanya untuk menjadi seorang kekasih. Tapi kali ini rasanya berbeda. Jika biasanya Gina merasa bodoamat, dan tak perduli, kini gadis itu merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya ia ingin menerima. Entah karena Galang yang sangat baik karena sering menolongnya, atau karena memang ia sudah suka pada Galang, Gina tak tahu.


"Gu-gue..."


Galang langsung menatap lantai. Duh pasti gue di tolak lagi nih


Galang merasa psimis karena sudah banyak kali cowok itu menembak Gina, tapi selalu gadis itu tolak. Ia hanya mengandalkan keberuntungan saja jika Gina akan menerimanya.

__ADS_1


"Gue ma-"


Tidak kah cukup yang engkau lihat


pertemanan ini sungguh berat


Tiba-tiba ponsel Galang berbunyi, menandakan ada panggilan telepon yang masuk. Membuat cowok itu langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam saku dengan cepat. Sedangkan Gina menghela napas.


"Halo?"


"......."


"Iya Mi,"


"........"


"Lagian Mami ngapain ke apart?!"


"........."


"Udah ada Mba Mirna yang jaga pagi sampe sore. Sedangkan kalau malam juga ada Mba Lala,"


"........"


"Hm, ya deh. Yaudah Galang OTW bye!"


Tut


Setelah sambungan telepon itu terputus, kini Galang menatap Gina dalam. "Gue tahu kalo lo bakal nolak gue lagi kok," Galang tersenyum sambil mengelus lembut puncuk kepala Gina, "gue selalu berharap agar perasaan gue terbalaskan. Jaga pola makan. Jangan mikirin siapa dalang di balik kejadian itu terus. Makan buah yang gue kasih ya! Kalau butuh bantuan telfon aja. Gue akan selalu prioritasin lo. Gue pulang, dah!"


"Dah Lang!"

__ADS_1


Galang langsung beranjak berdiri, dan berjalan pergi dengan langkah yang sedikit cepat membuat Gina menghela napas lagi. Padahal tadi... ah sudahlah.


__ADS_2