
Dika seketika menegang dengan kaki yang berhenti melangkah kala melihat Mami Galang yang duduk dan menatapnya.
Ia menelan ludahnya dengan susah payah. 'Lah anj*r Galang nggak bilang kalo emaknya dateng,'
'Eh, wait. I-itu... itu kok Gilang di pangku Tante Dita sih!'
Dita adalah nama Mami Galang. Wanita itu menatap lekat Dika membuat Dika salting. Ciee salting...
"Silahkan duduk, Dika!" Kata Dita memepersilahkan.
Dika mengangguk. Ia melangkah lagi, menaruh plastik putih yang entah berisi apa itu ke atas meja, lalu duduk di samping Galang.
Galang menghela napas lega melihat Dika. Ia tersenyum ke arah Dika. 'Untung ada Dika. Jadi gue nggak sendirian deh kena omel Mami,'
'Galamg kamprett emang. Malah senyum-senyum liatin gue.'
"Ehm," Mami Galang berdehem keras membuat kedua remaja itu kompak menoleh dan menatapnya, "Dika?"
"I-iya Tante Dita,"
"Keliatannya, kamu tahu ya kalau Galang sudah punya anak?"
Dahi Dika berkerut. 'Galang punya anak? Apa Tante Dita pikir Gilang itu anaknya Galang ya? Ah, tapi kan Gilang emang anak angkatnya Galang. Gue jawab iya aja deh,'
"Iya Tante. Dika tahu kalau Galang itu emang punya anak."
Mata Dita sontak melotot. Ia beralih menatap Galang. Sedangkan Galang menyumpah serapahi Dika dalam batin karena sudah berani-beraninya berkata seperti itu pada Maminya.
"Jadi bener?! Gilang anak kamu?! Bener kan?! Jawab!"
Galang menggeleng keras. "Bukan Miii, hadoh, Mami salah paham! Udah berapa kalik sih Galang bilang kalau Gilang itu bukan anak Galang!" Tegas Galang.
__ADS_1
"Ya terus Gilang anak siapa dong?!"
Gilang yang di pangku Dita menatap polos mereka secara bergantian. "Pa!" Ucap Gilang membuat Dita kini menatap bayi itu. "Pa? Papa?"
"Pa!"
"Lah kan, kan. Ini anak kamu manggil Papa lho Galang,"
Galang mengerang frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri. Dika yang melihat Galang seperti itu pun langsung menepuk pundak Galang. "Santai Lang. Jangan jadi gila cuma karena ini,"
"B*ngsat lo Dik!"
Dika terkekeh pelan.
"Pa!" Gilang menatap Galang dalam. Tangannya terangkat meminta Galang untuk menggendongnya.
Galang hanya diam sambil terus menatap Gilang, membuat Gilang mewek hendak menangis. Galang yang melihat itu pun langsung beranjak berdiri, dan mengambil Gilang dari Maminya.
Galang mencium kening Gilang sayang. Kemudian Galang kembali duduk lagi di samping Dika.
Mami Galang cengo di buatnya. 1 detik kemudian, "ini anak siapa Galang?! Anak kamu apa bukan?! Mami udah sabar loh ini nunggu penjelasan kamu,"
Galang mendengus. 'Salah siapa mau ngejelasin tapi di potong-potong. Ya udah, Galang jadi males,' balas Galang dalam batin.
"Singkatnya, ini anak angkat Galang Mi,"
"Kamu ngapain angkat Gilang sebagai anak angkat kamu sih?! Udah pengen punya anak? Sabar dong! Sekolah aja belum lulus!"
Galang menghela napas. Memang harus detail sekali jika menjelaskan pada Maminya.
Karena Galang tak kunjung menjawabnya, dan malah sibuk mengelus punggung Gilang agar bayi itu tidur, Dika pun angkat bicara. "Gini Tan, Gilang itu anak yang nggak sengaja Galang dan Gina temuin di deket danau. Mungkin karena kasian, jadi Galang dan Gina pungut aja tu-"
__ADS_1
"Heh! Apaan pungut-pungut!"
"Benerkan Gilang lo pungut?"
"Nggak usah bilang pungut juga bege!"
"Ck. Lanjut, Galang kan tingkat kepeduliannya tinggi Tan. Jadi Gilang di bawa tinggal di sini. Galang anggap Gilang anaknya. Dan Gina, juga anggap Gilang anaknya,"
"Ooh kirain. Gina siapa emang?"
"Gina itu temen sekelasnya Galang. Waktu itu Galang nemuin Gilang waktu lagi sama Gina di pinggir danau."
Dita mengangguk paham. Ia kemudian beralih menatap Galang tak enak. "Maaf ya Galang. Mami salah paham. Habisnya kamu sih yang nggak ngejelasin kayak Dika."
Galang hanya mengangguk menanggapinya. "Galang taruh Gilang ke kamar dulu Mi. Tidur nih Gilang,"
"Oh ya sudah,"
•••
Matahari mulai bersinar. Pagi pun datang.
Gina masih memejamkan matanya. Bundanya ~ Riri geleng-geleng kepala melihat putrinya yang masih setia menutup rapat matanya.
"Gina, bangun sayang,"
"Gin," Riri yang melihat wajah Gina pucat seketika khawatir. Ia langsung menempelkan punggung tangannya di dahi Gina. "Panas."
"Kamu sakit hm?" Tanyanya lembut yang hanya di balas deheman oleh Gina.
"Bunda buatin bubur ya? Nanti Bunda kompresin juga,"
__ADS_1
Riri beranjak berdiri. Wanita paruh baya itu kemudian keluar dari kamar Gina.