Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Cewek gue


__ADS_3

Gina sedikit mencondongkan badannya. "Gue nemu pistol di kamar lo." Bisiknya yang membuat mata Galang sontak membulat.


"Lang..."


"I-iya?"


"Jujur sama gue. Kenapa lo sampe nyimpen benda begituan di kamar lo?" Gina menatap Galang dalam. Matanya berkaca-kaca. "Please... jaga kepercayaan gue. Apa lo... salah pergaulan?"


Galang sempat terdiam. Kemudian cowok itu mengangguk membuat mulut Gina terbuka.


"What?! Demi apa?" Mata Gina menatap Galang tak percaya. Ia geleng-geleng. Oke, sepertinya ini berlebihan. Galang malah terlihat biasa saja.


"Demi lo menjadi ibu untuk anak-anak gue," jawab Galang asal.


Gina mendengus. "Situasi kayak gini harusnya lo nggak bercanda, Lang! Gue tahu itu asli, bukan mainan!"


Galang menatap mata Gina dalam. Tangan kanannya menggenggam tangan Gina erat. Seolah jika ia melepaskannya, maka akan hilang.


"Gue nggak bilang itu mainan Sayang," Galang mengecup punggung tangan Gina. "Itu memang asli,"


"Dapet dari mana?" Tanya Gina dengan nada rendah. Percayalah, Gina sangat merasa terkejut dengan kejujuran Galang barusan.


"Dari... temen,"


"Siapa? Dika? Kafi?"


Galang menggeleng. "Bukan dua-duanya. Temen gue banyak. Cuma lo nggak tahu aja,"


Air mata Gina mencelos begitu saja. Gadis itu langsung melepaskan tangannya dari genggaman Galang, lalu menidurkan kepalanya di atas meja dengan wajah menghadap tembok. "Lo nyebelin! Lo berubah!" Sarkasnya tanpa menatap wajah Galang.


Galang tersenyum tipis. Tangannya mengelus rambut panjang Gina sayang. "Lo... belum tahu kehidupan gue, Gina. Gue beda dari pemikiran lo. Gue ini jahat,"


"Tapi gue nggak bisa ceritain di sini. Ntar kalo ada waktu gue cerita ke elo, hm? Sayang? Jangan marah,"


"Kalo Gilang nemu itu, terus dimainin gimana? Lo ceroboh! Benda itu kenapa di taruh di situ?!"


"Emang dimana sih? Gue lupa," tanya Galang.


"Di bawah bantal!" Jawab Gina ngegas.

__ADS_1


"Kesayangannya Galang hadap sini dong. Hey, nangis?" Galang menyentuk bahu Gina.


Gina masih memalingkah wajahnya. Ya, gadis itu menangis. Sebenarnya Galang siapa? Kenapa bisa punya pistol? Itu punya sodaranya apa bener-bener dari temennya?


Banyak pertanyaan yang bersarang di otak kecil Gina. Tapi Gina enggan bertanya karena ini di dalam kelas. Mungkin nanti.


Suara bel istirahat membuat semua bersorak senang. Galang yang dari tadi diam langsung menoleh manatap Gina.


"Kantin yuk!" Ajak Galang.


"Gue mau ke kantin sama Alea, Tasya,"


"Sekali-kali sama gue lah... berdua aja. Gimana? Mau kan?"


Gina diam.


"Gin, inget, hubungan kita bukan hanya temen. Kita kan udah komitmen. Jadi, gue anggap lo cewek gue,"


Akhirnya Gina mengangguk. Keduanya pergi ke kantin bersama. Tangan Galang tak pernah mau lepas menggenggam tangan Gina. Hal itu berhasil membuat beberapa orang yang melihatnya merasa iri. Galang dan Gina terlihat seperti sepasang kekasih.


"Mau makan apa?" Tanya Galang pada Gina saat keduanya sudah sampai di kantin. Mereka menjadi pusat perhatian sekarang. Kebanyakan dari murid yang ada di kantin langsung menggosipkannya.


Bukannya menjawab, Gina malah menatap seluruh pengujung kantin dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Nggak tahu. Tapi keliatannya kayak orang pacaran, ya nggak sih?"


"Masa iya Galang mau pacaran sama cewek kayak Gina?"


"Mereka kok mesra banget?"


"Cocok, ganteng sama cantik,"


"Hih Galang mau-mau aja deket-deket Gina. Centil tuh cewek pasti."


Galang menutup telinga Gina membuat Gina terkejut. "Jangan dengerin mereka," ujarnya.


Gina menggeleng. "Kan gue punya telinga,"


"Ya nggak usah di ambil hati kalo gitu,"

__ADS_1


"Mmm," Gina menunduk, "apa lebih baik gue sama Alea Tasya aja ya Lang? Kayaknya mereka nggak suka kita deket,"


Gina menepuk puncuk kepala Gina. "Ngomong apa sih lo. Mereka cuma orang-orang yang kehabisana topik pembicaraan. Bentar ya,"


"Mau kemana?"


Galang tersenyum. "Nanti lo juga tahu kok."


Dahi Gina berkerut. Tapi ia memilih acuh saja. Mungkin Galang mau pergi ke toilet, pikirnya.


"PERHATIAN SEMUANYA!!"


Mata Gina membulat melihat Galang berteriak sambil menaiki meja kantin di bagian tengah yang kebetulan kosong. Teriakan Galang membuat semua atensi pengunjung kantin menatapnya heran. Kenapa tuh Galang?


"GUE SAMA GINA PACARAN! JADI JANGAN NGOMONGIN YANG ENGGAK-ENGGAK TENTANG CEWEK GUE!!"


"KALAU SAMPE GUE DENGER ADA YANG NGEJELEK-JELEKIN GINA, ATAU BAHKAN BULLY GINA KARENA NGGAK TERIMA, BAKAL BERURUSAN SAMA GUE!!"


Setelah mengatakan itu, Galang turun dari meja dan pergi ke arah stand penjual jajanan kantin untuk memesan makanan. Gina tak bisa berkata-kata lagi. Pipinya terasa menghangat. "Kok gue meleleh sih di gituin Galang?" Gumam Gina dengan pipi bersemu merah.


Galang kembali dengan dua mangkuk bakso dan dua jus jeruk di tangannya. Cowok itu menaruhnya di atas meja.


"Makan!" Serunya menyuruh Gina.


Gina tersenyum malu-malu. "I-iya."


Galang mengulum senyumnya. "Lo blushing!"


"E-enggak kok. Ini karena basonya aja yang panas,"


Gemas, Galang langsung mencubit kedua pipi tembam Gina. "Nggak ada hubungannya sayang..."


•••


Maaf jarang up


Udah pada bosen sama cerita ini ya?


Author sebenarnya mau revisi ngerubah alurnya dikit

__ADS_1


Tapi takutnya nanti ada yang nggak suka


See you❤


__ADS_2