
Karena tidak di bolehkan oleh Aldo untuk makan di kantin, Galang dan Gina pun akhirnya makan di rooftop. Atap sekolah itu biasanya sepi. Karena itulah mereka memilih tempat itu.
Galang dan Gina pun duduk lesehan di sana. Gina langsung memakan batagornya dengan tidak sabaran. Laper...
"Lo kalau makan tuh pelan-pelan. Jadi cewek lembut dikit napa? Keselek baru tahu rasa!" Ujar Galang.
"Lo nggak us--Uhuk uhuk." Gina menepuk-nepuk dadanya. Galang langsung menyodorkan minum pada Gina. Gina menerimanya dan langsung minum sampai habis setengah.
"Tuh kan, baru juga di bilangin."
"Ya makanya lo nggak usah ngajak ngomong! Gue jadi keselek gara-gara lo ajak ngomong tahu! Gimana sih!!"
Galang bungkam. Gina sedikit tampak menyeramkan saat ini. Tanpa menghiraukan Galang, Gina kembali makan.
Beberapa menit kamudian...
"Udah?"
Gina mengangguk. "Udah. Makasih Lang! Padahal gue cuma ngasih uang ke elo cuma buat satu porsi doang. Eh lo malah beli dua porsi buat gue."
"Nggakpapa. Kalau laper banget, satu porsi kurang."
Mereka diam beberapa saat. Menikmati semilir angin yang menerpa wajah.
"Gue belum dapet babysitter yang jaga dua puluh empat jam buat Gilang Gin." Ucap Galang membuat Gina menoleh.
"Terus?" Tanya Gina dengan alis terangkat satu.
"Ya... lo harus tidur di apart gue lagi kayak kemaren-kemaren." Jawab Galang.
Gina menghela napas. "Gue nggak bisa Lang. Kalau Ayah sama Bunda gue tahu gue nggak nginep di rumah temen-temen gue gimana? Bisa habis gue di marahin. Apalagi tidur di apartemen cowok." Ujar Gina.
"Kalau mereka tahu lo cuma tidur berdua sama gue di apartemen... Mereka bakalan ngapain? Di nikahin nggak ntar?" Goda Galang dengan senyum tengilnya. Tampak menyebalkan di mata Gina.
"Pengen banget lo nikah sama gue?"
"Iyalah!"
"Banyak cewek di luar sana. Kenapa harus gue?"
"Karena gue maunya elo. Gue cintanya sama lo Gin. Dan..."
"Dan?"
"Dan gue pengen punya anak dari lo."
__ADS_1
"Apaansih!"
Galang terkekeh kecil. "Muka lo merah tuh!"
"Enggak!"
"Ciee Gina blushing,"
"Apaansih Lang. Udah ah diem." Gina mengalihkan pandangannya agar Galang tidak bisa melihat kedua pipinya yang merona itu. Ia merasa malu sekarang.
"Jadi gimana nih ntar malem?"
Gina menaikkan kedua bahunya. "Nggak tahu."
"Apa gue minta buat Mba Mirna tidur di apart ya? Bisa nggak ya dia?"
"Boleh tuh! Coba tanya Lang!"
Galang mengangguk. "Iya, ntar gue tanya. Pulang sekolah lo sama gue ya? Kan barang-barang lo masih ada di apart gue,"
"Kalau itu nggak deh."
"Kenapa?"
"Siapa sih yang nampar lo? Kasih tahu gue Gin... Biar gue bales."
Gina menggeleng. "Nggak usah di bales."
"Tapi Gin--"
"Udah Lang! Mending sekarang kita ke kelas. Bentar lagi jam pelajarannya Pak Ihwan udah mau habis." Potong Gina.
"Ck. Yaudah deh." Balas Galang.
Gina berjalan mendahului Galang. "Kenapa lo kelihatan beda kalau sama Leo? Lo bilang lo trauma, tapi yang gue lihat, lo lebih bahagia saat sama Leo daripada sama gue. Apa lo suka sama Leo?" Gumam Galang sambil menatap nanar punggung Gina.
•••
"Gin, lo lagi PDKT ya sama Galang?" Tanya Alea.
Saat ini, Gina, Alea, dan Tasya berjalan beriringan menuju parkiran. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sekitar 2 menit yang lalu.
"Enggak." Jawab Gina.
"Tapi kok lo bisa di anterin sama Galang ke UKS? Terus juga, pagi tadi lo di anterin Galang La.gi itu namanya apa coba kalau bukan PDKT?"
__ADS_1
"Gue cuma di tolongin Galang. Sebenernya, waktu jam istirahat, gue di labrak sama Diva and the geng,"
"WHAT?!"
Gina mengusap kedua telinganya yang berdengung setelah suara merdu Alea dan Tasya terdengar nyaring di telinga. Ralat. Sangat nyaring.
"Ya jangan teriak juga kalik! Penging nih telinga gue!"
Tasya cengengesan. "Hehe, Peace Gin. Habisnya lo bikin kaget bilang gitu."
"Iya Gin. Terus, Diva ngomong apa sama lo? Dia kasarin lo nggak?" Tanya Alea.
"Dia nampar gue." Jawab Gina.
"Serius lo di tampar? Sakit nggak? Perlu gue bales biar setimpal nggak Gin?" Balas Tasya.
Gina menggeleng. "Nggak usah. Gue udah bales tampar dia kok."
"Wih bagus deh. Biar tahu rasa tu nenek lampir."
"Berarti yang ngobatin lo Galang dong? Kan Dika bilang Galang nganterin lo? Ih gue Iri... Pengen juga." Kata Alea membuat Tasya langsung melirik sinis ke arahnya.
"Iri mulu lu! Hidup itu apa adanya. Kalau emang takdir lo gitu ya udah. Terima aja kalik," Cibir Tasya pedas.
Alea mencebikkan bibirnya kesal. Emang salah ya?
•••
Gina berjalan pelan. Menoleh ke kanan dan ke kiri dengan raut bingung.
"Gina,"
Mendengar ada suara yang memanggilnya, lantas gadis itu menoleh. "Galang?"
Itu Galang. Galang dengan kemeja biru tuanya yang semakin membuatnya terlihat sangat tampan.
"Iya. Ini aku."
"Aku?"
Galang berjalan mendekat ke arah Gina. Di genggamnya salah satu tangan Gina. Matanya menatap lekat wajah cantik Gina. Galang perlahan mendekatkan wajahnya, dan memiringkan kepalanya. Sebelum mendapat penolakan, Galang menarik tengkuk Gina.
Cup
Gina membelalakan matanya. Apa ini? Galang menciumnya?
__ADS_1