
Gina memejamkan mata. Tangannya tanpa sadar sudah mengalung di leher Galang.
Galang menekan tengkuk Gina memperdalam cium*nnya. "Mmmph."
"GINAAA!!"
"Astaghfirullah,"
Teriakan seseorang membuat Gina tersadar dan reflek langsung terduduk karena sangking kagetnya. Nafas gadis itu memburu. "Huh cuma mimpi."
"Mimpi apa kamu sampe senyum-senyum gitu?"
Gina menoleh ke arah sumber suara. Bundanya berdiri sambil bersedekap dada. "Eh, Bunda... Enggak kok Bun. Bukan apa-apa hehe." Gina menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tersenyum kikuk ke arah sang Bunda.
"Pulang sekolah bukannya bersih-bersih, mandi, malah tidur di ruang tamu." Omel Bunda Gina.
"Maaf Bun. Gina kecapean soalnya."
Bunda Gina menghela napas. "Yaudah, sekarang mandi, terus ganti baju! Bentar lagi maghrib."
"Apa Bun? Maghrib?"
Bunda Gina mengangguk. "Iya. Maghrib. Kamu tidur kelamaan. Udah gitu Bunda bangunin nggak bangun-bangun."
"Yaudah Bun. Gina ke kamar dulu." Pamit Gina.
"Iya sana!" Balas Bundanya.
Gina mengangguk lalu beranjak berdiri. Pikirannya kacau. Jadi tadi hanya mimpi? Kenapa seperti nyata? "Kenapa gue mimpi kayak gitu ya? Aneh banget ih." Gina bergidik. Mengingat mimpi itu membuat Gina merasa malu sendiri di buatnya. "Dan kenapa cowoknya harus Galang?"
__ADS_1
•••
Galng tengah kesulitan menidurkan Gilang saat ini. Nasib, ternyata Mba Mirna tidak bisa menginap di apartemen Galang karena anaknya sedang sakit. Jadi sekarang cowok itu sendirian.
Ting nong
Ting nong
"Bangs*t." Galang mengumpat mendengar bel apartemennya yang terus berbunyi. Setelah melihat Gilang benar-benar tertidur, dengan segala kekesalannya, cowok itu lantas langsung membuka pintu.
"Beris--"
"Hai Lang!"
"Dika?"
"Iya ini gue. Dika, cowok terganteng sejagat raya hahahah."
"Lo napa dah? Kok bengong?" Tanya Dika sambil menepuk lengan Galang. Penampilan cowok itu terlihat berantakan sekarang.
"Eh, eng--gak. Nggakpapa." Jawab Galang terbata.
Dika mengangguk-angguk. "Gue nggak di suruh masuk nih?"
"Oh iya. M--masuk aja Dik."
Alis Dika terangkat satu. 'Kayak ada yang di umpetin sama Galang. Dari tadi jawabnya gagap mulu.'
Dika langsung masuk ke dalam apartemen Galang. Cowok itu memang sudah tahu karena sudah kenal Galang lama. Mereka bersahabat dari SMP. Sudah lama Dika tidak datang ke sini.
__ADS_1
Dika mendudukan dirinya di atas sofa. "Sebenernya tadi gue ke rumah lo. Tapi ya karena nyokap lo bilang lo beberapa hari ini nginap di apart ya gue putusin buat ke sini," Ujar Dika memberitahu.
Galang mengangguk-angguk. Kemudian duduk di hadapan Dika. "Emang lo mau apa ke sini? Nggak mungkin dong kalo lo kangen sama gue?" Tanya Galng dengan alis yang di naik turunkan.
"Ya nggaklah! Gue ke sini mau curhat tentang nyokap. Lagian gue masih suka lobang kalik," Jawab Dika dengan nada ketus.
"Ambigu ny*t. Balik sono ah! Ganggu aja lo!"
"Emang lo lagi ngapain sebelum gue dateng? Pake ngusir-ngusir segala. Lo pikir gue nyamuk, ganggu."
"Gue tadi tidur. Cuma karena lo dateng ya... gue keganggu, ya gitulah pokoknya. Hehe."
Jawaban Galang membuat Dika merasa aneh dan curiga. Cowok itu menatap mengimindasi ke arah Galang. "Serius lo? Yang gue tahu lo paling anti tidur jam segini."
Damn it!
Siapapun tolong Galang!!
Galang memejamkan matanya sekilas. Ia akui jika ia susah untuk mengatur ekspresi agar terlihat baik-baik saja saat keadaan genting seperti ini. Bahkan sepertinya tidak bisa. Galang payah dalam urusan berbohong karena Mamanya selalu menomer satukan kejujuran.
"Kenapa diem? Lo tuh bod*h dalam urusan bohong ya Lang! Mau lo ngeles apa pun, gue tahu lo itu lagi nutupin sesuatu. Gue kan kenal lo udah lama. Mending lo jujur."
Galang mendesah pasrah. "Iya deh iya. Tapi gue belum siap cerita sama lo tentang masalah ini. Next time aja deh. Soalnya mulut lo ember,"
Dika melotot tak terima. Ia berkacak pinggang memandang sengit Galang. "Heh! Lo pikir, siapa yang tutup mulut wak-"
Eaaak eaaaakk
Dahi Dika berkerut. Perasaannya campur aduk. Matanya menatap Galang horor. "I-itu suara Bayi siapa? Bukannya lo nggak punya keponakan ya?! Jangan-jangan lo..." Dika menggantungkan ucapannya. Sedangkan Galang geleng-geleng kepala seolah berkata bukan seperti yang lo pikirin. "Lo udah punya anak Lang?!" Tuduh Dika asal ceplos.
__ADS_1
Rasanya Galang ingin menampleng kepala Dika sekarang. Enak saja menuduh dirinya sudah punya anak. Memang Dika kira dirinya menghamili siapa? Pacar saja tidak punya kok! Galang kan jomblo dari lahir! Eh...