
Tidak *s**emua seperti kelihatannya*
Kadang, beberapa orang lebih memilih memakai topeng agar tidak terlihat menyedihkan
Orang yang terlihat ceria justru adalah orang yang rapuh saat sendiri
-Pangeran Kelas-
...♡•♡•♡...
"Terus, lo ikut jadi mafia?" Dika kini menatap serius ke arah Galang. Cowok itu sebenarnya takut kalau Galang benar ikut geng mafia itu. Ia takut Galang salah pergaulan.
"Gu-"
Ting!
Baru saja akan menjawab pertanyaan Dika, bunyi dentingan ponselnya membuat Galang mengurungkan niatnya. "Gue liat ini dulu, bentar," ucap Galang.
Dika dan Kafi hanya mengangguk menanggapinya.
Galang langsung membuka pesan itu. Dari Gina. Untuk apa Gina mengechatnya malam-malam begini? Biasanya tidak. Malah bisa terhitung jari berapa kalik Gina mengechatnya duluan.
BebebGina
Galang, gue pengen ketemu Gilang...
Galang tersenyum membacanya. Berdamaje ya...
^^^Galang^^^
^^^Besok?^^^
BebebGina
Sekarang ih
^^^Galang^^^
^^^Udah malem Beb^^^
^^^Besok aja ya^^^
BebebGina
Tapi gue maunya skrg Lang
Lo ada di apart kan?
^^^Galang^^^
^^^Besok aja sayang...^^^
^^^Gue lagi di Kafe nih sama Dika Kafi^^^
BebebGina
Kan lo bisa pulng
^^^Galang^^^
^^^Kan bisa besok^^^
BebebGina
Galanganjing
Galang terkekeh setelah membacanya. Dika yang melihat itu terheran-heran. "Lo chating sama siapa sih Lang? Seneng amat," tanya Dika.
"Gina," jawab Galang.
^^^Galang^^^
__ADS_1
^^^❤^^^
Galang terkekeh lagi setelah mengirim emot love pada Gina. Galang yakin Gina tengah kesal sekarang. Galang memilih mengabaikannya. Cowok itu kemudian menaruh ponselnya ke dalam saku hoodie dan menatap kedua sahabatnya yang kini tengah sibuk bermain ponsel.
"Woy!" Panggil Galang.
Dika dan Kafi menoleh.
"Mau tahu nggak nih? Kok kalian malah ikut-ikut main HP sih?" Ujar Galang.
Kafi menghela napas. "Ya habisnya bosen nunggu lo. Yaudah mending main HP, ya kan Dik?"
"Yoi!" balas Dika, "eh jawab dong pertanyaan gue Lang! Gue penasaran tahu nggak! Lo masuk geng mafia apa enggak?" Desak Dika. Kini Dika dan Kafi sudah tak memperdulikan ponsel mereka lagi.
Galang tersenyum miring. Senyuman miring Galang yang pertama kali Dika lihat. Walaupun sudah bertahun-tahun Dika bersahabat dengan Galang, baru kali ini Dika melihatnya. Karena biasanya, Galang terlihat ceria, dan tersenyum biasa yang terkesan tulus. Dika jadi merinding sendiri. Pasalnya yang Dika tahu, mafia itu identik dengan bunuh-membunuh.
"Lang nggak usah senyum smirk gitu napa! Jangan bikin gue takut anjim!" Ucap Kafi.
Galang malah terkekeh. Dan itu semakin membuat Dika dan Kafi rasanya ingin menabok Galang sekarang juga. Sebenarnya keduanya sedikit merasa takut pada Galang saat ini.
"Ya," jawab Galang yang membuat Dika dan Kafi kaget bukan main. Kafi melotot. "Yang bener aje lu Lang?"
"Lang, gue tanya sekali lagi. Tolong lo jawab jujur! Lo... beneran ikut geng mafia?" Tanya Dika memastikan. Cowok itu tidak percaya sebenarnya.
Galang mengangguk. "Kalian mau ikut juga nggak?" Tawarnya dengan senyum miring yang semakin membuat Kafi takut.
Dika langsung menggeleng keras. "Gila lo!" umpatnya, "jangan bilang lo pernah bunuh orang? Dosa Lang! Dosa!"
Galang menggigit bibir bagian dalamnya. Sudah ia duga jika kedua sahabatnya mengetahui hal ini mereka akan bereaksi berlebihan seperti sekarang. Sebenarnya bukan berlebihan, hanya saja mereka khawatir jika Galang salah pergaulan, dan menjadi orang jahat. Ya Galang juga bersyukur mempunyai sahabat seperti Dika dan Kafi (walaupun Kafi belum lama bersahabat). Karena Dika dan Kafi itu sangat baik, dan tulus bersahabat dengannya.
"Gue pernah bunuh orang,"
Deg
Mulut Kafi langsung menganga. Apa ia tidak salah dengar? Galang membunuh orang?
"What the f*ck,"
"Jangan ambil kesimpulan dulu! Gue, bunuh orang juga karena itu salah satu syarat masuk ke geng mafia,"
"APA GUNANYA?!" Bentak Dika kesal. Sungguh Dika sangat kesal pada Galang sekarang.
Galang menelan ludahnya. Tidak pernah melihat Dika semarah ini. "Ini karena dendam gue sama Kenzo..." nada bicara Galang merendah.
"Gue gelap mata karena dendam itu. Gue tertekan Dik, Kaf. Gue selalu di kucilkan di rumah. Gue benci saat liat Mami lebih deket sama Kenzo. Gue nggak suka ada di situasi itu. Gue selalu iri dengan apa yang Kenzo dapetin. Karena Kenzo yang nggak lebih dari anak tiri. Sedangkan gue yang anak kandung malah kayak anak yatim piatu tahu nggak! Gue kayak anak pungut di rumah itu! Gue nggak pernah di anggap ada. Gue selalu berusaha cari bukti, tapi CCTV rumah selalu di rusak sama Kenzo,"
"gue pikir, dengan masuk geng mafia, gue bisa balas Kenzo. Karena mereka punya kamera kecil yang gue butuhin,"
"Harusnya nggak sampe jadi mafia Lang!"
"Gue capek Dik! Gue capek jalanin hari-hari itu!" Kini Galang jadi terbawa emosi.
Dika menghela napas. "Berapa orang? Berapa orang yang pernah lo bunuh?"
"Cuma dua,"
"Cuma? Cuma lo bilang? Itu nyawa orang Lang! Bukan permen!" Sambar Kafi yang juga terbawa emosi.
"Itu juga karena syarat. Sebelum masuk ke geng mafia, gue harus melalui pelatihan, dan gue harus nyelesaiin satu misi. Di misi itulah mau nggak mau gue bunuh orang. Kalo nggak, ntar gue yang di bunuh. Karena gue berhasil, gue masuk ke geng itu. Gue lebih milih jadi mafia yang belajar teknologi gitu. Biar nggak bunuh orang lagi. Dan karena udah masuk geng mafia, gue boleh ambil kamera CCTV kecil itu. Akhirnya gue berhasil kan? Akhirnya gue berhasil bongkar kebusukan kenzo dan buat Mami sayang ke gue lagi."
"Itu semua karena dendam?" Tanya Dika menatap kecewa ke arah Galang.
Galang menghela napas. Tatapan itu lagi.
"Iya, karena dendam. Dan setelah Kenzo pindah ke rumah Omah, gue baru sadar kalo gue salah. Gue nyesel masuk geng itu," Galang tersenyum masam.
"Masih jadi anggotanya?"
"Iya,"
"Keluar! Keluar dari geng itu besok!"
__ADS_1
"Nggak semudah itu Dik. Kalau masuk aja susah, keluarnya juga lebih susah. Seenggaknya gue cuma ngurusin rentas-merentas sesuatu aja."
Dika menatap Galang dalam. "Jujur aja, gue masih nggak nyangka. Lo bohong kan Lang? Ini cuma akal-akalan lo biar lo keliatan keren dimata gue sama Kafi?"
Galang menggeleng.
Melihat Galang menggeleng, lantas Dika langsung beranjak berdiri, dan melangkah pergi dengan langkah lebarnya. Dika sangat marah pada Galang sekarang. Kesabarannya sudah habis setelah tahu kebenaran ini. Tidak bisa kah Galang melihatnya? Sahabat kan?
"DIK! DIKA!" Galang langsung beranjak, ia berlari mengejar Dika sambil berteriak memanggil nama cowok itu.
Kafi kini ikut beranjak. Dia hanya ingin pulang sekarang. Kafi juga tak menyangka Galang seperti itu. Lebih tak menyangka ternyata hidup Galang tidak seenak kelihatannya. Kafi kira hanya dia orang yang paling menderita. Ternyata dulu Galang lebih menderita di banding dirinya.
Galang berhasil menghadang jalan Dika membuat cowok itu berdecak sebal. "Mau apa lo!" Kata Dika ngegas.
Kini keduanya sudah ada di parkiran. Kafe pun terlihat akan tutup karena memang sudah terlalu malam dan sepi.
"Dik, jangan marah,"
Dika tersenyum tipis. "Selama itu, dan lo baru bilang sekarang? Lo emang nggak pernah ngehargain gue Lang!"
Galang terdiam. Membiarkan Dika memarahinya. Karena memang di sini dirinya yang bersalah. Ralat. Sangat salah.
"Bulan lalu, gue hampir salah paham karena liat bayi di apartemen lo. Itu karena lo. Karena lo nggak pernah cerita Lang! Dan sekarang, gue baru tahu lo punya adik tiri. Gue baru tahu lo punya masalah yang berat dan lo nggak pernah cerita ke gue sama sekali!! Lo sengaja nutupin itu dari gue kan? IYA KAN?! Lang... sahabat itu, buat tempat lo cerita. Mau lo seneng, sedih, kacau, terpuruk, atau bahagia, harusnya lo cerita ke gue. Gue terima itu Lang! Gue malah seneng kalo lo terbuka sama gue! Seenggaknya gue bisa kasih saran atau solusi. Nggak kayak gini bangs*t!! Tolol lo! Gue kecewa sama lo. Lo selalu menutupi masalah lo dari gue. Gue lebih kecewa setelah tahu ternyata sahabat gue itu seorang pembunuh,"
Dika menekan kata Seorang pembunuh dengan sengaja. Hal itu membuat dua kata itu terus terngiang di dalam otak Galang.
Seorang pembunuh
Seorang pembunuh
Seorang pembunuh
Dika langsung melangkah pergi. Galang tidak mengejar Dika lagi. Cowok itu terdiam dengan penyesalan yang menghantuinya. Penyesalan yang tidak bisa di ubah. Sungguh Galang sangat menyesal. Perlahan, genangan air yang sudah menupuk di pelupuk matanya terjatuh. Dua tetes air mata turun membasahi pipi Galang.
Galang mendongak menatap langit gelap yang di penuhi bintang, dan 1 bulan yang selalu bersinar terang. "Bulan, hari ini Galang boleh nangis ya? Galang capek sama semuanya."
•••
Pagi ini Gina sudah bersiap ke sekolah. Seragam sekolah sudah melekat di tubuhnya. Juga tas di punggungnya. Gadis itu kemudian keluar dari kamar. Berjalan menuruni satu persatu anak tangga dengan sabar karena kamarnya yang berada di lantai 3.
Setelah sampai di lantai 1, Gina pun berjalan menuju meja makan. Di sana sudah ada Bundanya dan Chiko yang menunggu. Ayahnya mungkin sudah berangkat kantor.
"Sini sarapan dulu Gin!" Ajak Bundanya.
Gina tersenyum. Kemudian mengangguk patuh. Gina lalu memakan sarapannya yaitu sepiring nasi goreng. Ada juga susu putih di sebelahnya.
"Kak, Bang Galang suruh ke sini dong!" Seruan Chiko membuat Gina menoleh.
"Ya, nanti,"
"Oke deh,"
Gina menghabiskan makanannya. Setelah habis Gina meminum susu.
"Bun, Gina berangkat ya," Gina menyalimi Bundanya.
"Iya, belajar yang rajin ya sayang,"
"Siap!"
Gina langsung berjalan keluar rumah. Tetapi tiba-tiba gadis itu merasa ponselnya bergetar. Ia langsung mengambil ponselnya yang ada di saku.
GalangJelek
Gue butuh lo
Sekarang
Rooftop kafe G'A
"Galang kenapa kok tumben chat gini? Gue samperin apa berangkat sekolah aja ya?"
__ADS_1