
Galang mengambil Gilang dari gendongan Mba Mirna. Tangis bayi laki-laki itu sedikit mereda. Galang mencoba menenangkan Gilang dalam gendongannya.
"Kenapa Gilang masih nangis ya? Apa dia kengen Gina? Atau kangen mama kandungnya?" Kata Galang bermonolog. Cowok itu duduk di atas sofa. Kedua tangannya sibuk menggendong Gilang sambil menggoyang-nggoyangkannya berusaha agar tangis Gilang berhenti.
Eaaaaak Eaaaaakk
"Dede Gilang... jangan nangis terus dong. Duh, Papa bingung nih mau apa,"
"Butuh bantuan?"
Deg
Tiba-tiba Gina datang, membuat Galang sedikit terkejut. "Sini biar gue yang gendong Gilang!" Gina langsung mengambil alih Gilang dari gendongan Galang. Tapi ada yang aneh di benak Galang.
Kenapa di saat Gina yang menggendong, Gilang langsung tenang, dan tidak menangis lagi?
"Lo pake pelet biar Gilang nurut sama lo ya?" Tuduh Galang dengan wajah tanpa dosanya.
Gina langsung menatap tak suka ke arah Galang. "Mana ada! Ngaco!" Bantah Gina.
Mba Mirna yang baru datang dengan nampan berisi minuman itu tersenyum mendengarnya. "Mungkin Gilang sedang kangen sama Mamanya..." Kata Mba Mirna.
Mendengar itu, Galang dan Gina saling tatap. Mba Mirna belum tahu kalau Gilang itu bukan anak dari Galang dan Gina. Mungkin ia mengira bahwa Gina itu mama kandung Gilang.
"Mba, sebenarnya Galang dan Gina itu--"
Drrrrrt Drrrrrt
Getaran ponsel Galang yang ada di atas meja membuat ucapannya terhenti. Cowok itu lantas langsung mengambil ponselnya. Nama Kafi tertera di sana. Galang menggeser tombol hijau, dan mendekatkan benda pipih itu di samping telinga.
"Halo Kaf, napa lo telfon?"
"Halo. Gini Lang, nanti malam rencananya gue sama Dika mau ke club. Lo mau ikut nggak?"
"Gila lo, ke club! Nggak ah! Mana di bolehin gue sama ibu negara."
"Hahahahah cuma bercanda doang kalik! Lagian gue juga nggak di bolehin ke tempat begituan. Cuman kapan-kapan sabi lah."
"Ya boleh aja sih. Emang sebenernya mau kemana? Mau apa?"
"Ke cafe. Kita nongkrong. Sekitar jam delapan. Sekalian nyari cewek. Jangan bucin sama Gina terus lo! Gina aja nggak perduli sama lo. Ralat, nggak pernah perduli, dan nggak akan perduli."
Jleb
__ADS_1
Galang memegangi dada kirinya. "Omongan lo nyesek banget anj*r!"
"Bener kan? Kayaknya, mungkin kalau lo bunuh diri di hadapan Gina aja, Gina juga akan cuek, nggak perduli sama lo Lang. Jadi, lupain aja bro! Cewek di luar sana banyak!"
"Cewek emang banyak. Tapi yang berhasil buat gue jatuh cinta cuma satu aja."
"Iye dah. Eh gimana? Ikut nggak lo? Masa iya cuma gue sama Dika aja, nggak seru ah!"
Galang menatap Gina dan Gilang secara bergantian. Ia merasa bingung sekarang. Ingin ikut sebenarnya, tapi di sini ada Gilang yang harus di jaga.
"Nggak deh Kaf! Gue nggak ikut dulu."
"Yah... kenapa emang?"
"Nggakpapa. Lagi males keluar aja."
"Oh yaudah kalau gitu."
"Next time gue bisa insyaAllah."
"Oke."
Tut
Galang menghela napasnya. Ia menaruh ponselnya kembali ke atas meja, dan kembali duduk.
"Kafi, ngajak nongkrong." Jawab Galang.
"Terus lo mau ikut?"
Galang menggeleng. "Nggak."
"Kenapa?"
"Mau jagain Gilang. Soalnya kalau malam kan Mba Mirna pulang."
Dahi Gina berkerut. Apa itu berarti malam ini ia tidur di sini lagi? Di apart ini? Bersama Galang dan Gilang?
"Tidur di sini?"
"Iyalah! Mau di mana lagi? Di rumah ortu gue gitu? Ya kalik! Yang ada gue di suruh nikahin lo nanti." Kata Galang ketus.
"Ya juga sih. Terus gue harus tidur di sini juga? Gue keberatan Lang!" Tolak Gina. Bukannya kenapa, tapi Gina tidak ingin terlalu banyak berbohong pada Ayah dan Bundanya untuk memberikan alasan. Sudah pasti jika Gina keluar rumah Bundanya akan bertanya, dan Gina berbohong lagi. Maka dari itu Gina merasa keberatan jika harus tidur di apartemen Galang setiap hari. Apa kata Chiko? Pasti adiknya itu akan berfikiran macam-macam.
__ADS_1
"Gue nggak mau tahu, intinya kalau lo masih mau Gilang, lo tidur di sini. Titik!"
"Kok lo beda sih? Nggak biasanya lo gini,"
"Nggak tuh!"
"Serius Lang! Lo jangan ketus gitu dong sama gue! Nggak cocok tahu!"
"Lo pikir, cuma lo doang yang bisa ketus sama gue? Iya?"
Gina menggeleng. "Ck. Lang! Bukan gitu!"
Euuunggh
Lenguhan Gilang membuat perhatian Gina teralihkan. Gilang yang sebelumnya ingin menangis kembali pun tidak jadi karena merasakan elusan Gina.
Melihat Gilang yang kembali tertidur, membuat Gina tersenyum lega. Kemudian gadis itu ikut duduk di samping Galang yang kini tengah bermain ponsel.
"Gue nggak mau bohongin Ayah, Bunda, dan Chiko lagi," Ucap Gina sendu membuat Galang sedikit tak enak hati. Apa ia egois?
"Sorry gue udah egois. Tapi gue juga nggak bisa jagain Gilang sendirian Gin. Lo tahu sendiri kan kalau gue aja nggak bisa gantiin popok Gilang. Gimana nanti kalau Gilang nangis karna popoknya penuh?" Balas Galang membuat Gina terdiam. Benar juga.
"Kalau boleh tahu, kenapa lo selalu nggak mau kalau Gilang gue taruh di panti asuhan?" Tanya Galang.
"Karena gue merasa kalau Gilang tanggung jawab gue. Gue yang nemuin Gilang. Dan... kalau di taruh di panti asuhan gue takutnya Gilang nggak di urus dengan baik." Jawab Gina.
Galang mengangguk paham. "Gue ada sih uang buat sewa babysitter yang dua puluh empat jam. Kalau menurut lo perlu, it's oke nggakpapa pake uang gue."
"Kelihatannya kayak nggak adil nggak sih kalau cuma pake uang lo? Kita patungan aja?"
Galang menggeleng tak setuju. "Cuma bayar babysitter itu mudah bagi gue."
"Dih sombong," Cibir Gina.
"Bukannya sombong, ntar kalau uang jajan lo kurang kan badan lo tambah kurus,"
"Heh enak aja! Badan gue langsing tahu!"
"Hm. Suka-suka lo aja. Sini biar gue yang pangku Gilang! Ntar lo cape," Gina mengangguk mengiyakan. Kemudian Galang mengambil Gilang dari gendongan Gina. Bayi laki-laki itu masih tertidur pulas. Percakapan antara Galang dan Gina tidak membuatnya terganggu.
Gina menghela napasnya. "Apa lo sama gue akan kayak gini terus ya?"
"Mungkin. Jalanin aja. Biar takdir yang menjawab. Tapi satu hal gue minta, lo jangan anggap Gilang beban. Karena siapa tahu dengan adanya Gilang itu memang takdir kita."
__ADS_1
Alis Gina tertaut. "Kita?"
"Iya. Lo sama gue. Jadi, kita kan?"