
Kafi mengambil kertas yang baru saja terbang dan mengenai wajah tampannya.
"Siapa sih yang buang kertas sembarangan! Mana kena muka ganteng gue lagi!" Gerutunya.
Saat akan meremas kertas itu, Kafi yang melihat foto Gilang pun mengurungkan niatnya. Kemudian di bacanya kertas itu dengan seksama. Cowok itu tersenyum. "Bego." Umpatnya.
"Kalo emang Gilang di buang, lo bikin ginian juga nggak akan pernah ada yang telfon ke nomor ini Galang!"
1 minggu kemudian...
Di apartemen Galang, kini cowok itu tengah menyuapi Gilang makan sambil sesekali bermain ponsel. Ya wajar saja lah, masih SMA jadi Bapak mendadak ya gini.
Ting!
BebebGina
Udh ada info tntng ortu Gilang blom?
Galang tersenyum mendapat pesan dari Gina. Ya walaupun membicarakan itu, tapi tak apalah.
^^^Galang^^^
^^^Belum nih Gin^^^
BebebGina
Hmm gitu
Ntar gue transfer uang ke rekening lo
Uangny buat kbtn Gilang oke?
Lo ksh no-ny aja
^^^Galang^^^
^^^Eh, nggak, nggak usah^^^
__ADS_1
BebebGina
Please Lang
Terima aja sih
^^^Galang^^^
^^^Nggak^^^
BebebGina
Pokokny krm no-ny skrg!!
Kalau nggak gue ngambek
Galang menghela napas. Jika sudah seperti ini, Galang hanya mengiyakan.
^^^Galang^^^
BebebGina
Ok
Galang menatap Gilang yang kini tengah mengoceh tak jelas. Ya, bayi laki-laki itu kini sudah sering berbicara tak jelas. Umurnya sekitar 8 bulanan.
Galang mengelus kepala Gilang sayang. "Pa!" Ucap Gilang.
Gilang memang sudah bisa mengucap Pa. Entah kenapa Galang rasa bayi Gilang lebih cepat menangkap apa yang orang lain katakan daripada bayi-bayi lain yang Galang temui. Tapi itu hanya pemikiran Galang saja loh! Dan saat ini, Galang sedang gemas-gemasnya pada Gilang. Si bayi berpipi chubby dengan paras tampan. Galang yakin, pasti jika sudah besar nanti Gilang banyak di incar oleh cewek-cewek di sekolahnya.
Galang mencubit gemas pipi Gilang, lalu mengecup dahi Gilang. "Kalau pun orang tua kamu nggak mau terima kamu, biar Papa yang rawat kamu sampai besar, Gilang,"
Gilang tersenyum. Tangannya terangkat meminta Galang untuk menggendongnya. Dengan senang hati, Galang menggendong bayi itu. "Siapa yang mau minum susu? Gilang mau nggak? Hm?"
Ting nong
Ting nong
__ADS_1
Tiba-tiba suara bel apartemennya berbunyi. "Pasti Dika." Kata Galang. Galang berkata seperti itu karena memang beberapa menit yang lalu Dika bilang akan datang ke apartemennya.
Tanpa menunggu lama lagi, Galang pun berjalan menuju pintu dengan Gilang yang anteng di gendongannya.
Galang membuka pintu apartemennya. "Dik lo lang-"
"Galang, ini Mami,"
Galang membulatkan matanya. Matanya bertatapan langsung dengan mata Maminya. Terkejut? Tentu saja. Galang sangat terkejut saat ini akan kedatangan Maminya.
Mami Galang menatap bayi yang di gendong Galang dengan tatapan penuh curiga. Galang merasa menjadi tersangka sekarang. Ah, jangan sampai Maminya berpikiran buruk.
"Mi, Gal-"
"Ini anak kamu Galang? Mami sudah punya cucu?" Tanya Mami Galang memotong ucapan Galang membuat Galang ingin menghilang saja rasanya.
Sedangkan Maminya Galang itu sukanya nething, dan juga suka memotong ucapan orang lain seperti tadi. Bagaimana nanti Galang menjelaskan? Orang belum berucap satu kalimat pun sudah di potong kok ucapannya tadi.
"Galang jawab Mami... kamu selama ini memilih tinggal di apartemen karena sudah punya anak? Iya?"
"Buk-"
"Jawab Galang!"
"Ih Ma-"
"Mami nggak nyangka! Mami nggak nyangka kamu bakal berbuat hal bejat seperti ini, Galang,"
Tuh kan..
Tamat deh riwayat Galang jika begini..
"Galang nggak ngelakuin kayak apa yang Mami pik-"
"Udah deh jujur aja!"
'Ini mau jujur, tapi Mami malah motong ucapan Galang terus! Gimana Galang mau jujur kalo gini!' -Batin Galang kesal sambil menatap Maminya yang tengah menatapnya horor.
__ADS_1