
Galang menyentak tangan Diva. Matanya menatap tajam gadis itu. "Denger baik-baik, kalo sampe lo bully Gina lagi. Lo bakal berurusan sama gue!" Katanya penuh penekanan.
Diva tersenyum kecut. "Nggak janji. Kenapa sih Lang? Lo suka sama dia?"
"Iya. Gue suka sama Gina."
"Ck. Lo liat gue dong Lang! Jangan cuma liat ke Gina! Gue juga bully Gina kan karena lo! Karena kalian de-"
"Karena lo iri kan? Lo sirik karena Gina jadi terkenal setelah deket sama gue? Dan lo pengen itu terjadi juga sama lo?"
Diva diam seribu kata. Memang itu adalah motif utamanya mendekati Galang. Yaitu agar populer.
"Kenapa diem? Div, jangan bikin gue natap lo sebagai wanita murahan!"
Setelah mengatakan itu, Galang berlari pergi. Meninggalkan Diva yang tangannya terkepal dengan antek-anteknya yang sedari tadi menonton.
Senyum miring Diva terukir. Awas aja ya lo Gin, gue akan bales!
•••
Suara bel pertanda jam istirahat selesai berbunyi. Bertepatan dengan Galang yang berdiri di pintu kelas. Tangannya yang sebelumnya penuh dengan roti dan air mineral sekarang tidak lagi. Karena roti, dan air mineral yang Galang bawa dari kantin sudah cowok itu jatuhkan di lantai perpustakaan.
Galang langsung berjalan menuju bangkunya, dan menduduki bangku itu. Mata Galang menatap Gina yang kini tengah membaca buku.
"Gin," panggil Galang.
Karena tidak mendengar respon, Galang memanggil Gina lagi. "Gina."
"Gin, jawab dong!"
"Gina gue tahu kalo telinga lo masih berfungsi dengan baik! Nggak usah pura-pura nggak denger!"
"Gina.."
"Gin kenapa sih diem terus?!"
Galang jadi kesal sendiri karena Gina yang mendiaminya. Sudah ia ajak bicara tapi gadis itu masih saja diam. Siapa sih yang tidak kesal jika di perlakukan begitu?
__ADS_1
"Gin-"
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
'Anj.' Galang mengumpat dalam hati kala ucapanya terpotong karena guru sudah datang. Menyebalkan!
•••
Galang benar-benar tidak mengerti kenapa Gina mendiaminya. Galang sempat berpikir, apa karena Diva? Apa karena kejadian sewaktu jam istirahat itu? Ah, memikirkannya saja Galang sudah merasa pusing.
Kini Galang menatap punggung Gina. Gadis itu sudah di ajak bicara puluhan kali, bahkan ratusan kali tetap saja diam. Jika Galang bisa memilih, lebih baik Gina memarahinya daripada mendiaminya.
Sudah Galang ajak Gina pulang bersama juga, tapi Gina menolaknya. Galang paksa, Gina langsung menepis tangannya, bahkan menaboknya dengan keras.
Galang berdecak melihat Gina yang lebih memilih naik taksi daripada pulang bersamanya. Tapi Galang tetap ingin mengantar Gina. Cowok itu mengikuti taksi online yang Gina naiki.
Tapi ada yang aneh dari taksi yang Gina naiki. Kenapa malah ke jalan ini? Bukannya ini jalan sepi ya?
Taksi itu berhenti di jalan yang sangat sepi. Bahkan tidak ada seorang pun yang lewat. Benar dugaan Galang. Taksi itu pasti punya niat buruk.
"LEPASIN!! LEPAS IH!"
Gina berontak. Tentu saja tidak mau!
Galang berdecak kesal melihat Gina yang di kasari seperti itu. Jika saja Gina menerima tawarannya. Tidak akan jadi begini kan jadinya?
"SIALAN LO LEPAS!!"
Galang turun dari motor sportnya. Baru sekali langkah, tapi ia di kejutkan dengan 3 orang berbadan besar yang menghampiri Gina dan pengemudi tadi.
Galang melihat 3 orang itu menyeringai.
"KALIAN MAU APA?! LEPAS, GUE MAU PULANG!!"
Tanpa menunggu lama lagi. Galang dengan langkah pelan mendekati Gina. Cowok itu langsung menendang keras punggung pengemudi yang mencekal tangan Gina dengan tendangan andalannya.
Dugh
__ADS_1
Cowok itu pun tersungkur karena serangan mendadak, dan tangan Gina terlepas dari cekalannua. Gina yang melihat Galang langsung berdiri di belakang cowok itu. "Galang, takut.." cicit Gina.
"Nggak usah takut! Ada gue."
"Wah wah, lihat, ada pahlawan kesiangan nih yang datang," salah satu dari 3 orang berbadan besar itu berucap.
"Pergi sana bocah! Atau lo mau pulang dengan muka babak belur?"
Galang berdecih. "Nggak usah banyak b*cot lo semua!"
Setelah itu, terjadilah perkelahian. Galang dengan gerakan lincah membalas dan menangkis serangan-serangan mereka. Keahlian Galang tidak bisa di ragukan. Buktinya, 4 orang itu sudah terkapar. Galang bisa walau sendiri, karena cowok itu pintar, ia menyerang di bagian-bagian inti yang membuat ke empat orang itu sekarang tak bisa menyerang lagi. Gina pun sempat tak menyangka.
Galang keren
Galang langsung menarik tangan Gina menuju motornya. Ia memakai helm full facenya. Melihat Gina yang belum naik juga membuat Galang berdecak. Ia mengulurkan tangannya membantu agar Gina lebih mudah menaiki motornya. "Cepet naik atau gue tinggal!"
Gina pun langsung menaiki motor Galang. Galang menjalankan motornya cepat. Gina di belakangnya memejamkan mata takut. Takut jatuh karena Galang yang menjalankan motor seperti orang kesetanan, Gina pun memeluk Galang.
"MAKASIH UDAH TOLONGIN GUE!" Gina berteriak agar suaranya terdengar oleh Galang.
"SAMA-SAMA CALON PACAR!" Balas Galang juga berteriak.
Sebenarnya bukan pertama kali Gina melihat Galang berkelahi. Sudah dua kali malah. Karena sudah dua kali juga Galang menolongnya dari orang jahat. Kalau di tambah hari ini, berarti sudah tiga kali cowok itu menolongnya. Galang bagaikan sayap pelindung yang melindungi dirinya.
Di lain tempat..
"Apa?! Gagal lagi?!"
"I-iya Nona. Maaf, kami gagal untuk kedua kalinya."
"Kalian saya pecat!"
"Tap-"
Tut
Seseorang memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Tatapan matanya menajam dengan tangan yang terkepal. Gagal terus sih!
__ADS_1