
"Lo ajak gue ke danau?" Tanya Gina dengan mata yang berbinar melihat pemandangan indah di depannya.
"Iya. Seperti yang lo lihat." Jawab Galang. Cowok itu ikut senang melihat ekspresi Gina yang tersenyum. Sepertinya Ia tidak salah membawa Gina ke tempat ini.
"Cantik banget pemandangannya asli." Kata Gina tanpa menghilangkan senyumnya.
Galang mengangguk. Ia menggapai tangan Gina, dan menggandengnya. "Kita duduk di sana," Galang menunjuk bangku yang ada di pinggir danau.
Gina mengikuti langkah Galang tanpa membantah. Galang dan Gina pun duduk berdampingan di atas bangku itu.
"Lo sering ke sini Lang?"
"Kadang aja kalau gue pengen nenangin diri."
"Oh, enak dong. Bisa kayak di film-film gitu kalau lagi stres banyak pikiran terus ngelemparin batu ke danau?"
Galang terkekeh. "Kalau lo mau coba, coba aja kalik Gin! Emang sih gue sering ngelemparin batu ke danau kalau datang ke sini. Rasanya semua beban jadi berkurang. Lega aja gitu."
Gina beranjak berdiri. Gadis berbandana pink itu mengambil batu yang ada di pinggiran danau. Ia melirik ke arah Galang sekilas. Kemudian langsung melemparkan batu itu sekuat tenaga.
"Gimana?" Tanya Galang.
"Hm lumayanlah. Tempatnya yang sunyi juga nenangin." Jawab Gina sambil duduk kembali di samping Galang.
Galang mengangkat tangannya dan mengelus puncuk kepala Gina. Hal itu sontak membuat Gina diam mematung. Kedua mata Galang dan Gina saling tatap satu sama lain.
"Gin,"
"Hm?"
"Lo mau nggak jadi pacar gue?"
Deg
'Galang nembak gue?'
Gina langsung membuang muka ke arah lain. "Gue..."
Galang menatap berharap ke arah Gina yang menggantungkan ucapannya. Detak jantung Galang sudah berdetak dua kali lipat sekarang. Ia sudah yakin akan perasaannya. Cowok itu jatuh cinta pada Gina. Setiap berada dekat dengan Gina, jantung Galang selalu berdetak tidak karuan. Ketika melihat Gina tertawa, Galang ikut senang. Ketika Gina sakit waktu beberapa hari lalu, Galang juga merasa cemas dan khawatir.
Eaaaakk... eaaaaakkk
Suara tangisan bayi membuat kedua sejoli itu terlonjak kaget. Gina menatap Galang. "Itu suara bayi dimana ya? Perasaan cuma kita aja yang dari tadi ada di sini. Kok ada suara bayi?" Tanya Gina penasaran.
Galang menggeleng. "Gue juga nggak tahu. Mungkin bayi itu baru datang sama Mamanya kalik." Jawab Galang seadanya.
Gina mengangguk paham. Maybe...
Tetapi lama-lama tangis bayi itu masih terdengar. Gina celingak celinguk mencari sumber suara.
__ADS_1
Gina beranjak berdiri hendak mencari keberadaan bayi itu. Namun pergelangan tangannya segera di cekal oleh Galang. Mereka pun kembali bertatapan. "Apa jawaban lo? Mau nggak? Gue jujur udah tertarik sama lo dari lama. Dan rasa tertarik itu... berubah jadi rasa cinta." Ucap Galang manis.
Gina tersenyum. "Boleh minta waktu?" Balas Gina.
Galang menghela napasnya kasar. "Berapa lama?" Tanya Galang dengan nada serius.
"Hmm tak terhitung Lang. Soalnya masa lalu buat gue trauma. Makanya gue selalu judes, jutek, dan cuek sama lo. Bukan sama lo doang sih. Tapi sama cowok lain juga. Bentar dulu ya, suara tangisan bayi itu makin keras. Gue mau cari asal suaranya."
Galang mengangguk. Seperginya Gina, Galang termenung memikirkan kata-kata Gina yang mengatakan trauma. 'Jadi itu alasannya lo selalu judes ya Gin? Trauma? Tapi trauma karena apa?'
"GALANG!!" Teriak Gina membuat Galang langsung celingak celinguk mencari keberadaan gadis itu.
"GALANG CEPAT SINI!"
"IYA!"
Galang beranjak berdiri. Cowok itu berlari menuju ke arah Gina.
"Kenapa Gin?" Tanya Galang.
Gina menunjuk ke arah bawah. Di sana ada bayi yang tengah menangis di atas rerumputan.
Eaaaaakk eaaaakkk
"Ya Allah, ini siapa sih yang tega buang bayi gini?!" Ucap Galang dengan nada yang sedikit tinggi karena kesal. Bisa-bisanya ada bayi di tempat seperti ini. Orang tuanya sangat tidak bertanggung jawab!
Dengan cepat Galang menggendong bayi itu. "Ssst ssst sst sayang... jangan nangis dong. Utututu anak ciapa cih?"
"Lang. Kita apain nih bayi? Mana udah sore gini lagi?"
"Yakali mau di tinggal Gin. Kita bawa pulang aja gimana?"
Gina menggeleng keras. "Gila lo! Bisa-bisa kita di kira gituan terus ini hasilnya."
"Ambigu Gin."
"Issh! Gimana dong? Kasihan juga kalau di biarin di sini."
"Udah. Satu-sarunya jalan kita bawa bayi ini pulang. Gue punya apartemen kok. Nanti kita cari orang tuanya." Usul Galang.
Gina langsung mengangguk setuju. "Yaudah yuk pergi! Kasihan babynya di gigitin nyamuk dari tadi."
Galang mengangguk. Mereka berdua pun pergi dari danau itu. Gina mengambil alih menggendong bayi itu karena Galang yang mengendarai motor.
Di sepanjang jalan, Gina menatap kasihan ke arah bayi malang yang ada di gendongannya. Gadis itu mengelus kepala bayi itu sayang. Tanpa sengaja, Gina melihat kalung berbandul bulan sabit yang melingkar di leher bayi itu.
•••
"Lang, apartemen lo kok gede sih?"
__ADS_1
"Lah emang harus kecil gitu?"
"Ini apartemen, lo dapet dari mana?"
"Dari hadiah ulang tahun. Almarhum kakek gue yang ngasih. Di apartemen ini cuma ada dua kamar."
Gina manggut-manggut. Gadis itu mengikuti langkah Galang menuju salah satu kamar yang ada di dalam apartemen itu.
"Nah ini..." Galang membukakan pintu mempersilahkan Gina masuk. Dengan senang hati Gina langsung masuk ke dalam.
"Bersih nggak ni?"
"Bersih kok. Baringin aja tuh dede bayi di kasur."
Gina membaringkan bayi itu ke atas kasur king size. "Lang! Kasihan ya babynya? Pada bentol-bentol gini." Ucap Gina sambil menatap ke arah bayi yang tengah tertidur.
Galang mengangguk kemudian ikut duduk di hadapan Gina. Bayi itu menjadi penengah di antara Galang dan Gina.
"Hmm ini bayi cowok kayaknya." Ucap Galang.
"Tau dari mana? Bayi mah mukanya gitu-gitu aja."
"Eh jangan salah. Nggak lihat noh mukanya ganteng kayak gue? Coba lihat aja kalau pengen tahu."
Gina menatap lekat wajah bayi itu. "Emang mukanya cowok sih. Terus gimana?"
"Gimana apanya?"
"Ya ini bayinya siapa yang urus? Terus juga gue pulangnya kapan oy?! Mak gue udah telfonin dari tadi."
"Nanti gue sewa babysitter buat jagain bayi ini kalau kita lagi sekolah. Untuk malam ini... lo ikut jagain ya? Nginap di sini! Masa cuma gue aja. Kan kita yang nemuin ini bayi ganteng?"
Gina menggeleng kuat. "Nggak! Gue nggak mau!"
"Issh! Gina... lo tega sama gue?"
"Iyalah! Siapa lo?!"
"Gue? Bapak dari anak-anak lo nanti."
"Serius Lang!"
"Iya-iya. Please lah Gin, di sini aja satu malam. kasih alasan apa gitu ke nyokap lo."
Gina diam sambil memikirkan alasan yang tepat. 'Kasihan Galang sih kalau jagain ini bayi sendirian.'
"Yaudah gue ntar tidur di sini. Tapi gue mau pulang dulu ngambil piyama, seragam sekolah, sama tas dan lainnya. Lo jagain baby dulu. Gue bisa pulang pake taksi kok."
"Hmm oke. Jangan lama-lama."
__ADS_1
"Iya. Dah baby kakak pulang dulu ya? Baik-baik di sini."
Setelah itu pun Gina pulang untuk mengambil barang-barangnya. Sedangkan Galang bermain game sambil sesekali melirik bayi yang tengah tertidur pulas itu.