
Gina menatap kosong ke depan. Saat ini gadis itu tengah berada di balkon kamarnya. Ia duduk di atas kursi sambil memeluk lututnya sendiri.
"Kenapa sih takdir gue gini? Kenapa di saat orang-orang merasa bahagia, gue malah gini?"
Air mata Gina menetes bersamaan dengan rintik hujan yang perlahan turun. Gadis itu menarik keras rambutnya sendiri.
"Siapa sih yang mau jahat sama gue?!" Gina menaikkan nada bicaranya. Untungnya suaranya teredam suara hujan.
"Hiks, gue capek. Gue capek kenapa ada aja yang mau ambil mahkota gue, dan hancurin hidup gue,"
"Gue punya salah apa Tuhan? Hiks,"
"Gina?
"Gin?"
Suara derap langkah kaki yang mendekat di sertai suara seseorang yang memanggil nama Gina, membuat Gina dengan cepat menghapus air matanya. Gadis itu dengan cepat merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa-biasa saja.
"Gina?" Bundanya ~ Riri membuka pintu balkon. Setelah melihat Gina berada di sana, wanita paruh baya itu tersenyum.
"Putri Bunda, kok malem-malem masih di luar sih sayang? Dingin loh, hujan ini,"
__ADS_1
Tanpa aba-aba Gina langsung memeluk Riri. Riri pun merasa bingung. Tapi ia pun membalas pelukkan Gina. Riri mengelus-elus punggung putrinya lembut.
"Kenapa hm?"
"Hiks,"
"Loh kok nangis?!"
Awalnya Gina tak ingin menangis, tapi entah kenapa mendengar pertanyaan Bundanya, ia jadi ingin menangis. Hari ini Gina merasa menjadi manusia cengeng.
Riri membiarkan Gina menangis. Wanita itu menunggu sampai putrinya merasa tenang agar Gina bisa menceritakan penyebab kenapa ia menangis.
"B-bunda..."
"Iya Gina Bunda di sini. Kenapa? Coba cerita, Gina kenapa hm?"
"A-ada ya-yang mau jahatin Gina... hiks,"
"Siapa sayang? Siapa yang mau jahatin kamu?"
Gina menggeleng dalam pelukkan Bundanya. "Ng-nggak tahu hiks,"
__ADS_1
Dan akhirnya, Gina menangis lagi.
•••
Galang menatap Gina yang berada jauh darinya dengan raut cemas. Hari ini adalah hari senin. Seperti biasa, pagi sebelum *** di mulai, sekolah melakukan upacara bendera. Tapi yang tak biasa bagi Galang adalah melihat Gina yang berada di barisan murid tidak taat aturan. Walaupun atribut Gina lengkap, tapi gadis itu tadi terlambat datang.
Galang merasa cemas melihat Gina karena Gina yang baru saja sembuh dan berangkat sekolah, kini malah langsung di hukum. Wajah Gina pun terlihat pucat. Galang takut jika Gina sakit lagi karena pasti setelah upacara selesai, hukuman bagi barisan itu adalah di jemur sampai bel istirahat berbunyi.
"Bssstt,"
"Bssstt,"
Mendengar bisikkan orang di sampingnya membuat Galang menoleh. Cowok itu mendapati Dika yang tersenyum menggoda. "Ciee bucin," bisiknya pelan.
"Apa sih lo!" balas Galang juga berbisik.
Dika malah terkekeh
"ADA YANG PINGSAN TUH!!" Teriakan seseorang membuat hampir semua peserta upacara celingak celinguk mencari orang yang di bilang pingsan tadi. Termasuk Galang. Galang langsung menoleh menatap ke arah barisan Gina.
Tapi yang Galang lihat malah Gina yang sudah di gendong beberapa kakak kelas. Mata Galang sontak melotot.
__ADS_1