
Bunyi peluit pertanda pertandingan berhenti terdengar. Galang bersama timnya pun melangkah ke sisi kanan untuk minum dan beristirahat sejenak.
"Ngajak ribut banget si Eza! Udah tahu nggak ada ekskul basket malah ngajak tanding. Seragam gue jadi bau kan jadinya!!" Kesal Dika tidak terima.
Karena tidak ada ekskul basket, jadi Dika tidak bawa baju basket. Jadi, mau tidak mau dia bermain basket menggunakan baju seragam.
"Dik, gue ada ide nih."
Dika berdecak. Galang berhasil membuatnya kesal sekarang. "Ide apaan sih Lang?! Emang lo mau apa?" Tanya Dika. "Orang gue lagi bahas si Eza. Eh lo malah bilang ada ide. Nggak nyambung!" Melipat kedua tangan di bawah dada. Dika menatap kesal Galang.
"Dih, baperan amat lo kayak cewek!" Galang tersenyum simpul. Kemudian mendekat pada Dika, dan berbisik menjawab pertanyaan Dika. "Gue mau nembak Gina di depan umum setelah pertandingan ini selesai, Dik."
Mendengar ide Galang sontak mata Dika membulat. "Yang bener aja lo!? Nggak! Gue nggak setuju! Kalo dia nolak lo, lo sendiri yang malu Lang!"
"Masalahnya gue udah pikirin ini matang-matang. Gina pasti akan terima gue karena dia nggak mau liat gue malu."
Dika menghela napas. Sebentar lagi, wejengan dari Dika Prasetyo akan terdengar di telinga Galang.
"Bukan itu masalahnya! Nggak sesederhana yang lo pikirin, Lang. Perasaan nggak bisa di paksain. Gina pasti akan nolak lo kalau dia emang nggak suka sama lo. Emang lo udah liat tanda-tanda Gina suka sama lo? Yang gue liat, Gina itu tipe cewek yang nggak sembarangan milih cowok. Buktinya, dia selalu judes sama cowok, termasuk lo, walaupun lo sedikit mencolok karena di juluki pangeran kelas."
"Dan lagi... emang lo siap nahan malu yang nggak ada ujung itu? Lebih baik jangan."
Galang terdiam. Perkataan Dika berhasil menyentilnya. Kata-katanya tidak salah. Galang jadi teringat kala dia menembak Gina beberapa hari lalu.
"Boleh gue minta waktu?"
"Berapa lama?"
"Hmm tak terhitung Lang. Soalnya masa lalu buat gue trauma. Makanya gue selalu judes, jutek, dan cuek sama lo. Bukan sama lo doang sih. Tapi sama cowok lain juga."
Dan saat dirinya meminta jawaban di unit kasih sayang. Eh, UKS maksudnya.
"Apa jawaban lo?"
"J--jawaban?"
"Kenapa diem? Lo belum siap ya gue tanya gitu?"
"I...ya. Gue masih belum siap buka hati Lang."
Omongan Dika nggak salah. Berarti gue harus bener-bener bikin Gina jatuh cinta sama gue, pikir Galang.
Menepuk bahu Galang. Dika kemudian beranjak berdiri. "Bentar lagi lanjut. Buru minum! Jangan melamun terus!" Ujar Dika.
__ADS_1
Pertandingan pun dimulai kembali. Tersisa satu babak lagi. Tim Galang, dan tim Eza kembali bermain di lapangan basket.
Gina menghela napas. Kenapa bel belum bunyi?, pikir Gina. Lalu dia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Dahinya berkerut. 'Harusnya bel udah bunyi tiga belas menit lalu. Kenapa belum bunyi juga? Apa karena pertandingan basket ini? Padahal ini cuma pertandingan biasa. Harusnya nggak berpengaruh buat nggak ngebunyiin bel dong?'
Gina pun hanya pasrah dan menonton pertandingan basket antar kelasnya dan kelas sebelah ini. Alea dan Tasya terlihat semangat menonton. Berbeda sekali dengan dirinya. Ingin ke kelas, tapi pasti kelas sepi. Jadi, dia urungkan.
"GALANG!! GO! GO! GO!!"
"EZA! EZA! EZA!!"
"SEMANGAT ZA!!"
"GALANG! GALANG! GALANG!!"
"SEMANGAT!! SEMANGAT!!"
"GALANG REBUT BOLANYA LANG!!"
Mendekati waktu pertandingan selesai, penonton semakin semangat menyoraki. Gina semakin ingin pergi rasanya. Berisik!
Skor tim Galang lebih unggul. Tak bisa di ragukan lagi kepandaian Galang dalam bermain basket. Cowok itu pun mendapat gelar kapten basket karena kepintaran dalam mengatur strategi. Dan karena itu Eza menjadi tidak suka pada Galang. Eza ingin merebut gelar Galang dengan mengajak cowok itu bertanding.
Galang merebut bola basket dari tim lawan dengan mudah. Dia langsung melrmparkan bola itu ke dalam ring, dan berhasil. Bola itu tepat sasaran. Masuk ke dalam ring lawan dengan mudahnya.
Priiiiiitt
Tim Galang memenangkan pertandingan. Galang tersenyum remeh pada Eza. Lalu berjalan mendekat. Cowok itu menepuk bahu Eza. Tapi langsung di tepis oleh sang empu.
"Kalau udah kalah, terima aja Bro!" Ucap Galang meledek.
"Cuma kebetulan. Denger ya, suatu hari gue akan ngajak lo tanding lagi. Seperti hari ini taruhannya, yang kalah harus menuruti permintaan apapun dari yang menang." Balas Eza percaya diri.
Sebelum bertanding, memang Eza sendiri yang mengajak taruhan. Jika kalah, maka harus menuruti permintaan pemenang.
Galang tersenyum tipis. "So... lo bilang sendiri yang kalah harus menuruti permintaan apapun pemenang. Jadi, gue minta lo mulai besok pulang dan berangkat sekolah naik angkot selama satu bulan."
Mata Eza membulat. 1 bulan naik angkot berangkat dan pulang sekolah? Yang benar saja!
"Ya nggak bisa gitu dong! Kalau satu hari sih nggakpapa. Lah ini satu bulan! Ogah banget!! Nggak lefel!"
Galang terkekeh mendengarnya. "Cowok itu yang di pegang kata-katanya. Lo tolak, berarti lo banci!" Tekan Galang.
Eza menggigit bibir bagian dalamnya. "FINE!" Katanya dengan nada keras. Dengan segala kekesalannya, Eza pun pergi.
__ADS_1
Seperti yang Galang pernah dengar, Eza itu anak Mami. Galang sengaja meminta permintaan itu, karena dia tahu, itu adalah hal berat bagi Eza.
Beberapa detik setelahnya, bel berbunyi membuat Gina merasa lega. Akhirnya...
•••
Saat ini Gina tengah berjalan di koridor bersama Alea dan Tasya. Merasa ponselnya bergetar, gadis itu lalu membuka ponselnya.
Dahinya berkerut. Ada 1 pesan dari nomor yang tidak di kenal. Lantas, Gina membuka pesan itu sambil terus berjalan.
08**********
Pulang sekolah bareng gue. Gue tunggu di depan perpus.
From : Aldo sebastian. Ketos ganteng SMA Mandala.
Tawa Gina pecah begitu saja saat membaca kalimat terakhir pesan tersebut. Hal tersebut berhasil membuat kedua sahabatnya terheran-heran. Kenapa sih?
Bahkan Gina sampai berjongkok dan memukul-mukul keramik yang tak bersalah. Gina gila ya?
Alea dan Tasya saling tatap. Kemudian beralih menatap Gina kembali. "Lo masih waras kan Gin?" Tanya Alea.
Pertanyaan Alea berhasil memberhentikan tawa Gina. Gadis itu beranjak berdiri. Sambil tersenyum, Gina menjawab. "Alhamdulillah, masih."
"Gue duluan ya! Daaah!" Gina melesat pergi membuat kedua sahabatnya menggeleng-nggeleng keheranan. Aneh...
Di sinilah Gina sekarang. Di depan perpustakaan SMA Mandala. Matanya langsung menemukan Aldo yang tengah berdiri sambil menatapnya. Dia pun berjalan mendekati Aldo.
"Lawakan lo lucu. Bisa bikin gue ketawa." Kata Gina sambil tersenyum geli.
Alis Aldo terangkat satu. "Lebih lucu lo."
"Emang gue lucu. Baru sadar lo?"
"Hm."
"Tumben ngajak gue pulang bareng? Padahal dulu waktu lo nolong gue antar pulang karena belum ada yang jemput, lo keliatan terpaksa banget. Eh sekarang ketos SMA Mandala yang katanya ganteng kok malah nawarin?"
"Dulu dan sekarang beda!"
"Apa bedanya? Muka lo masih sama!"
"Jadi? Mau pulang bareng gue?"
__ADS_1
Tanpa rasa malu, Gina menjawab. "Dengan senang hati. Lumayan tumpangan gratis. Duit gue kan jadi ada sisa buat beli skincare."
Aldo geleng-geleng kepala. Dasar kaum gratisan!