Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Why? 2


__ADS_3

Setelah mengatarkan Gina pulang, Galang langsung menjalankan motornya lagi menuju kafe miliknya. Kafe G'A atau singkatan dari Galang Arga.


Kafe ini merupakan hasil tabungan Galang sendiri. Cowok itu membeli Kafe ini dengan tabungannya selama beberapa tahun. Gaji pegaiwainya, dan modal pertama pun dari tabungannya. Tidak ada campur tangan orang tuanya. Bahkan orang tuanya tidak tahu kalau Galang mempunyai usaha sendiri. Sampai sekarang, Kafe G'A memiliki banyak pelanggan setia dan selalu ramai pengunjung.


Setelah memesan apa yang ia inginkan, kini Galang tengah duduk termenung dengan mata yang menatap keluar jendela.


"Galang nggak mau Mami di ambil lagi sama Kenzo." Gumam Galang.


Tiba-tiba seorang waiter tampan dengan nampan di kedua tangannya datang dan menaruh pesanan Galang di atas meja. "Silahkan di nikmati Bos," ucapnya mempersilahkan dengan senyuman manis.


Galang menoleh menatapnya. Ia tersenyum tipis. "Udah lama gue nggak liat lo, Elang," ucap Galang, "duduk!"


Seorang waiter yang di panggil Elang itu mengangguk, kemudian duduk di hadapan Galang. "Kenapa murung? Ada masalah?"


Galang menghela napasnya. "Nggak sih. Cuma kepikiran sama masalah dulu,"


Dahi Elang berkerut. "Maksudnya?"


Galang dan Elang memang cukup dekat. Walaupun Elang itu pelayan dari Kafe Galang, tapi Galang menganggap Elang teman. Teman spesial. Karena Elang itu seumuran dengannya, Elang juga orang yang bisa ia percaya, dan cukup bijak orangnya. Bisa di bilang, Elang itu teman curhat Galang. Galang sering bercerita tentang kehidupannya pada Elang dari lama. Bahkan cerita hidup Galang hampir semua Elang tahu. Kecuali tentang Gilang. Galang belum cerita padanya.


"Kenzo." Jawaban singkat dari Galang langsung membuat Elang mengerti. Cowok itu cukup peka.


"Kenapa sama Kenzo? Bukannya dia udah pindah kota ke kota Oma lo?"

__ADS_1


"Dia kembali. Gue takut dia rebut kehidupan gue lagi El. Gue...-"


"Menurut gue sih itu nggak mungkin,"


"Ya mungkin-mungkin aja lah! Di dunia ini itu, nggak ada yang mustahil El,"


Setelah mengatakan itu, Galang menyesap kopinya.


"Nyokap lo udah tahu kan dulu, kalo semua aduan Kenzo itu bohong?" Tanya Elang yang hanya mendapat jawaban anggukan dari Galang.


"Lo perlu waspada. Kalaupun Kenzo jahat sama lo lagi, gue yakin nyokap lo pasti akan percaya sama lo. See, Orang yang sebelumnya sering bohong, walaupun berkata jujur sekalipun sama orang yang pernah dia bohongin, orang yang dia bohongin itu pasti nggak akan gampang percaya. Malah menganggap ucapan orang itu bohong,"


Dahi Galang berkerut. "Kesimpulannya?" Tanyanya tak mengerti.


Galang mengangguk paham walaupun di hatinya masih ada rasa cemas. Ya, Galang merasa takut. Takut kehilangan lebih tepatnya.


"Thanks, El. Lo yang terbaik," ucap Galang tulus.


Elang tersenyum. "Gaji di naikin dong!" Balas Elang dengan cengiran khasnya.


"Sip, buat lo gue tambahin,"


"Eh serius lo? Tadi gue cuma bercanda loh,"

__ADS_1


"Nggakpapa kok. Ntar gue tambahin. Udah mau ulangan ini, biar bisa buat bayaran,"


"Lo terlalu baik Lang."


•••


Malam ini Galang mengajak kedua sahabatnya untuk nongkrong di kafe G'A. Bukan tanpa alasan, Galang ingin Dika dan Kafi berhenti bersikap baik pada Kenzo.


Kini Galang duduk sendiri sambil menunggu kedatangan Dika dan Kafi. Sesekali cowok itu menatap pintu masuk Kafe.


"Galang!" Mendengar suara Kafi yang memanggilnya, membuat Galang sontak menoleh dan mendapati Kafi yang tengah berdiri dengan Dika di sampingnya.


"Oy!"


Kedua cowok itu kemudian berjalan mendekati meja Galang. Lalu keduanya duduk di hadapan Galang. "Udah lama nunggu?" Tanya Dika pada Galang.


"Lumayan." Jawab Galang.


"Why? Apa yang mau lo omongin? Penting banget ya, sampe lo bilang wajib dateng?" Kini giliran Kafi yang bertanya.


Galang mengangguk. Ia menatap Dika dan Kafi serius. "Tentang Kenzo. Cowok yang kalian tolong itu,"


"Kenzo?!" Kata Dika dan Kafi kompak.

__ADS_1


__ADS_2