Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Terkunci


__ADS_3

Saat ini Galang tengah duduk di pinggir lapangan basket dengan Dika di sebelahnya. Hari ini hari ekskul basket. Keduanya masih berada di sekolah.


"Dik,"


"Naon?"


"Kok gue ngerasa kalau Gina jauhin gue ya?" Galang berucap sambil memainkan bola basket yang sedang ia pegang. Memantul-mantulkannya di lantai.


Dika menggidikkan bahunya. "Mana gue tahu ferguso! Lagian lo kalo suka sama cewek tuh di tembak. Di tembak Lang! Jangan cuma di deketin, gimana sih!" Kata Dika ngegas. Lah kok sewot...


"Gue udah pernah nembak dia. Dua kalik malah! Tapi ya...--"


"Di tolak?"


Galang mengangguk. "Lo liat kan, kejadian kemarin lusa di kantin? Setelah itu, Gina kayak jaga jarak sama gue. Gina jauhin gue Dik."


Dika mengangguk paham. Tangan cowok itu mengelus dagunya seperti sedang berfikir. "Mmm, menurut gue sih, lo lebih baik kasih dia waktu deh. Kayaknya dia nggak mau berurusan sama Diva. Ya lo tau sendiri kan si Diva anak bully. Suka ngebully dia. Nggak mandang siapa-siapa, yang penting korban yang dia incar menderita. Jadi, lo jangan deketin Gina dulu."


"Tapi Dik, Gilang gimana? Gina juga nggak ke apart gue. Kasihan tu anak nggak punya emak."


"Emang lo nggak ada kepikiran buat cari emak kandungnya si Gilang Lang?"


Galang terdiam. 'Kok gue lupa ya. Kan tujuan gue sebelumnya emang mau rawat Gilang sambil cari orang tuanya.' -Batin Galang.


Galang beranjak berdiri dan langsung melangkah pergi membuat dahi Dika berkerut. "Lah kok gue di tinggalin? GALANG!! OY TUNGGUIN!!"


Beberapa menit kemudian...


Di sinilah Galang dan Dika sekarang. Di depan ruang musik SMA Mandala. Rencananya, Galang ingin bertemu Gina, dan mengajak cewek itu bicara tentang Gilang.


"Masih lama nggak ya Dik?" Tanya Galang pada Dika.


"Kayaknya enggak lama lagi Lang. Orang anak-anak ekskul basket aja udah selesai kok. Udah pada pulang." Jawab Dika.


Galang manggut-manggut.


Benar saja. Tak lama dari itu, beberapa murid mulai keluar dari ruang musik. Melihat ada Galang, beberapa siswi menebar pesona dengan menyugar rambut atau tersenyum kepada Galang.


Dika yang melihat itu hanya mengulas sabar. Pasalnya, kehadirannya seperti tak di anggap.


"Gin," Galang memanggil Gina ketika melihat gadis itu baru saja keluar dari ruang musik.


Melihat Galang, Gina menghela napas, dan berusaha menghindar. Namun pergerakannya kalah cepat dengan Galang. Galang mencekal pergelangan tangan Gina. Galamg langsung menarik pelan Gina agar pergi dari tempat itu. Dan berakhir di lorong sepi. Tak ada orang di sana selain Galang dan Gina. Karena memang murid-murid sudah mulai pulang.

__ADS_1


Dika yang merasa tidak berkepentingan memilih pergi.


"Gin gue mau ngomong sama lo," Gina diam sambil berontak mencoba melepaskan tangannya dari tangan Galang.


"Gin,"


"Gina please..."


Gina masih saja diam. Seperti tidak mau membalas ucapan Galang.


"Gina,"


"Ini tentang Gilang."


Mendengar nama Gilang di sebut. Gadis itu membalas tatapan Galang. "Kenapa sama Gilang?" Tanyanya.


Galang tersenyum. "Cari orang tuanya Gilang yuk!" Ajak Galang membuat dahi Gina berkerut.


"Ngapain cari orang tuanya Gilang? Orang mereka aja udah tega kok buang Gilang di danau!"


Suasana hening. Bener juga sih omongan Gina. Tapi...


"Emang lo mau urus Gilang sampe dia gede?"


Damn it


"Kok bengong?" Galang melambaikan tangannya di depan wajah Gina.


"Eh, i--iya."


"Gimana? Pilihannya ada tiga. Cari orang tuanya Gilang, taruh Gilang di panti asuhan, atau kita yang urus Gilang sendiri? Tapi pilihan ketiga itu resikonya besar."


"Maksud lo?"


"Ya kalau orang-orang salah paham ke kita gimana? Ntar Gilang disangka anak kita loh."


Gina mengangguk. Ini sepertinya akan rumit. "Cari orang tuanya Gilang besok aja Lang. Sekarang gue mau pulang, capek nih."


Galang menghela napas. "Oke."


Keduanya pun berjalan beriringan menuju parkiran. "Lo udah dapet babysitter yang dua puluh empat jam buat Gilang belum?" Tanya Gina.


Galang menggeleng. "Belum Gin. Susah carinya."

__ADS_1


"Oh, yaudah. Maaf ya, gue bisa jagainnya cuma weekend aja. Itupun cuma satu hari. Soalnya takut Ayah Bunda curiga."


"Iya nggakpapa kok. Gue paham." Galang jadi teringat akan Papi Maminya di rumah. Sudah lama Galang tidak tidur di rumahnya. Ada rasa rindu sebenarnya. Maminya pun tak jarang menelfonnya, sekedar menanyai kabar, dan membujuk agar Galang mau tinggal bersama lagi.


"Lang, kok gerbangnya di gembok sih?!" Gina bertanya cemas. Berlari cepat menuju gerbang. Begitupun Galang ikut berlari menuju gerbang.


Benar saja. Gerbang sekolah sudah di gembok dari luar. "Yah gimana dong?" Tanya Gina frustasi.


"Ya gue juga nggak tahu Gin. PAK!! PAK YOTO!! BUKAIN PAK!! BAPAK JANGAN BERCANDA PAK!!" Galang berteriak mencoba meminta pertolongan. Memanggil nama Pak Yoto yang merupakan satpam penjaga.


Gina sudah terduduk lesehan. "Pengen rebahan..." Ucapnya tak bersemangat.


"PAK YOTO!! TOLONG! TOLONG!! BUKAIN!!" Galang sudah berteriak sebisanya. Namun hasilnya nihil. Tidak ada yang menyahutnya sama sekali. Sepertinya semesta sedang tak berpihak kepadanya. Matahari mulai turun. Hari semakin sore.


Galang pun ikut duduk di samping Gina. Menatap gadis itu dalam. "Ada satu jalan yang bisa gue laluin. Tapi gue nggak tahu lo bisa apa nggak lewat situ." Ujar Galang membuat setitik harapan muncul.


Gina menoleh cepat. "Dimana Lang?"


"Tembok belakang. Pagar depan terlalu tinggi buat di lewatin."


"Yaudah yuk ke sana!" Gina langsung berdiri, dan menarik tangan Galang membuat cowok itu tersenyum.


"Ayuk!" Galang pun berdiri. keduanya berjalan menuju tembok belakang.


Ketika sudah sampai...


"Yah Lang, kok di atasnya ada kawat sama kaca sih? Kalau kena kan sakit," Keluh Gina pada Galang. Tembok belakang sekolah memang tidak tinggi. Hanya sekitar 1 meter saja. Tapi ada penghalangnya.


"Ini dia. Makanya gue bilang nggak tahu lo bisa lewatin apa nggak, karena memang sejak tiga minggu kemarin udah di kasih kawat sama kaca tajam. Waktu dua mingguan lalu sih, gue bisa lewat dan lecet sedikit. Untung aja tu kaca nggak nancep di kaki gue."


Mendengar penuturan Galang, Gina jadi bergidik ngeri. Kalau kaca itu mengenai kulitnya saja pasti sakit. Apalagi kalau sampai mengenai kakinya?


Gina meundur satu langkah. "Gue nggak bisa Lang. Takut." Ucap Gina.


Galang menoleh ke arah Gina. "Sorry ya. Ini salah gue. Harusnya gue nggak usah nyamperin lo, dan berakhir kita ke kunci di sini." Kata Galang merasa bersalah.


"Ini bukan salah lo. Sorry juga gue udah menjauhi lo dari kemarin. Kalau gue nggak ngejauhin lo, pasti sekarang kita nggak di sini."


"Tunggu-tunggu, ini kenapa jadi salah-salahan ya?"


"Iya juga."


Galang menarik tangan Gina agar gadis itu mendekat. Lalu, Galang langsung memeluk Gina membuat jantung Gina berdetak dua kali lebih cepat. "Lang..." Gina merasa gugup sekarang. Takut juga jika Galang bisa mendengar detak jantungnya. Kan malu...

__ADS_1


"Jangan takut ya? Gue pasti bisa kok bawa lo keluar dari sini." Bisik Galang tepat di depan telinga Gina. Bulu kuduk Gina meremang. Nafas galang terasa menyapu di lehernya.


Gina mengangguk dalam dekapan Galang. "Caranya?"


__ADS_2