
Saat ini Gina tengah kelimpungan dengan Gilang. Bayi laki-laki itu jika Gina melepaskan gendongannya langsung menangis. Galang pun bingung harus bagaimana. Masalahnya, tujuan Gina yang sebenarnya hendak mencari orang tua Gilang belum terlaksanakan.
"Lang, gimana?" Tanya Gina bingung.
Gilang sudah tenang di gendongannya. Bayi itu masih setia membuka mata dan menatap wajah cantik Gina.
Galang menggidikkan bahunya acuh membuat Gina menghela napas.
Tak lama Mba Mirna-pengasuh Gilang datang dengan dot berisi susu di dalamnya. "Ini susu untuk den Gilang, Nyonya," kata Mba Mirna sambil menyodorkan dot itu pada Gina.
Gina mengambilnya. "Mba kalau Bayi rewel, di tidurin nggak mau, maunya di gendong itu gimana ya? Terus juga nggak mau di gendong sama yang lain. Padahalkan Gina ada keperluan," ujar Gina. Gadis itu meminumkan susu pada Gilang.
"Oh Den Gilang maunya di gendong Nyonya terus ya?" Tanya Mba Mirna menyimpulkan.
Gina mengangguk. "Iya Mba." Jawabnya.
Mba Mirna tersenyum. "Akhir-akhir ini kan Nyonya jarang bertemu Den Gilang. Mungkin Den Gilangnya kangen,"
"Oh gitu ya?"
"Tapi coba di tidurkan dulu. Biasanya Den Gilang setelah minum susu terus tidur,"
"Makasih ya Mba,"
"Iya, Nyonya. Saya permisi dulu,"
Seperginya Mba Mirna, Galang menghampiri Gina. Cowok itu mencubit pipi Gilang gemas. "Gemoy ih. Di gendong Papa nangis, dasar!" Ucapnya.
Beberapa menit kemudian...
__ADS_1
Gilang tertidur pulas di gendongan Gina. Gina tersenyum melihat Gilang. Kemudian gadis itu membawa Gilang ke kamar, dan membaringkan Bayi laki-laki itu.
Gina sengaja membuka pintunya agar jika Gilang menangis nanti Mba Mirna bisa mendengarnya.
"Udah?" Tanya Galang yang melihat Gina menuruni satu persatu anak tangga.
"Udah."
"Mau berangkat sekarang?"
Gina mengangguk. "Iya. Yuk! Keburu sore."
Untungnya hari ini hari jum'at. Jam pulang sekolah tadi di percepat. Jadi sekarang belum terlalu sore untuk mencari keberadaan orang tua Gilang.
•••
Gina terduduk lesu di pinggiran jalan. Keringat menetes di pelipisnya. Hari yang melelahkan. Sedangkan Galang masih sibuk membagikan kertas yang bergambar Gilang yang tertulis beberapa kalimat dengan nomor ponsel yang tertulis di bawahnya.
Merasa namanya di panggil, Galang menoleh manatap Gina. Tanpa di suruh, Galang langsung berjalan menghampiri Gina. "Kenapa Gin?" Tanya Galang to the poin.
"Lo nggak cape apa?" Gina balik bertanya.
"Enggak. Lo cape?"
Gina mengangguk.
"Mau pulang?"
"Nanti deh pulangnya,"
__ADS_1
"Oh yaudah. Gue sebarin ini dulu. Tinggal dikit,"
"Oke."
Galang pergi untuk membagikan kertas itu lagi. Hari sudah senja. Mungkin setelah azan maghrib berkumandang barulah Galang akan berhenti.
Tak terasa air mata Gina menetes. Gina menangis. Galang yang sedang memperhatikan Gina langsung menyebrang jalan untuk menghampiri gadis itu. Padahal lembaran kertas di tangannya masih ada.
Galang berjongkok di depan Gina. "Gin. Kenapa hmm? Kenapa nangis?" Tanya Galang lembut.
Gina menggeleng pelan. Air matanya masih menetes.
Galang menghela napas. "Pulang aja yuk!" Ajaknya. Galang juga tidak tega melihat Gina duduk di pinggir jalan seperti ini. Mirip gelandangan, eh.
Gina mengangguk. Akhirnya Galang dan Gina pun memutuskan untuk pulang. Pastinya menggunakan motor sport Galang. Mereka berboncengan.
"Galang," panggil Gina dengan suara paraunya. Saat ini mereka masih di perjalanan.
"Iya?" Sahut Galang.
"Gue pinjem punggung lo ya?"
"Silahkan,"
Gina langsung menyenderkan kepalanya di punggung Galang. Rasanya nyaman. Galang tersenyum geli di balik helm full facenya. Ini Gina kan?
"Lang," panggil Gina, lagi.
"Hm?"
__ADS_1
"Peluk lo boleh nggak?"
"Hah?"