Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Caper


__ADS_3

Seperti pesan Galang kemarin, cowok itu akan menjemput Gina. Ia menepatinya walaupun bukan janji. Cowok itu sengaja datang sangat pagi. Mau tau alasannya?


Karena Galang akan sedikit caper pada orang tua Gina. Bukan tanpa alasan juga Galang caper. Karena ia ingin orang tua Gina kenal, dan percaya padanya. Pastilah ada dari kalian yang tahu, bahwa orang tua yang mempunyai anak perempuan lebih suka jika teman lelaki anaknya itu datang ke rumah dengan niat baik. Jika hanya menjemput di depan gang meragukan bukan?


Dan juga agar di restui?


Galang menekan bel rumah Gina. Seorang satpam pun membukakannya. "Siapa ya? Ada perlu apa datang ke sini?" Tanya Satpam itu yang Galang baca di nametagnya bernama Darma. Galang menebak, pasti orang tua pak satpam ini ingin anaknya kelak rajin berdarma. Canda..


"Saya temannya Gina, Pak. Boleh saya masuk?" Kata Galang.


Pak Darma menatap Galang dari bawah hingga atas. Nampak tidak ada yang mencurigakan, karena Galang memakai hoodie hitam dan celana abu-abu anak SMA, Pak Darma pun mengangguk dan mempersilahkan Galang masuk, dan juga motor cowok itu.


Pak Darma menyuruh Galang menunggu di halaman rumah, lelaki yang berusia sekitar 40 tahunan itu berjalan memasuki rumah besar bertingkat tiga itu.


Setelah beberapa menit, Pak Darma kembali, dan bilang bahwa Galang di perbolehkan masuk. Galang tersenyum tipis. Kakinya melangkah masuk. Cowok itu mengucapkan salam sebelum masuk.


Nampak Ayah Gina, dan seorang cowok berpakaian seragam putih biru. Pasti itu adiknya Gina yang bernama Chiko, pikir Galang.


Ayah Gina yang bernama Handi itu tersenyum ramah ke arah Galang, dan di balas dengan senyum juga oleh Galang. Galang menyalami Handi dengan sopan.


"Temannya Gina?" Tanya Handi.


Galang mengangguk. "I-iya, Om." Jawab Galang. Galang canggung sebenarnya. Karena ini kali pertama Galang bertamu dan bersalaman langsung dengan orang tua teman yang ia cintai. ck ck ck.


"Santai saja anak muda, saya tidak gigit kok," Handi terkekeh sambil menepuk pundak Galang. Lelaki itu tau jika Galang gugup. Dulu iapun seperti itu.


Galang tersenyum kikuk.


"Kakak temannya Kak Gina?" Kini gantian Chiko yang bertanya.


"Iya Dek. Nama kamu Chiko kan?" Dulu Gina pernah bilang bahwa ia mempunyai adik laki-laki bernama Chiko.

__ADS_1


Chiko mengangguk antusias. Matanya tak beralih dari wajah Galang. "Kakak kenapa nggak pacaran sama kak Gina aja? Ah, kan Kakak ganteng padahal,"


Bunda Gina ~ Riri menyahut, "Huss! Kamu ini Chiko, sembarangan saja," wanita itu menghela napasnya, sedangkan Chiko menyengir tanpa dosa, "ada tamu kok nggak di suruh duduk sih?"


"Ayah tuh Bun, masa nggak nyuruh calon kak Gina duduk!" Kata Chiko kompor membalas pertanyaan Bundanya.


Calon?


Handi mendengus. Tapi lelaki itu langsung saja mempersilahkan Galang duduk. Bukan di ruang tamu, melainkan di ruang makan.


Chiko sengaja duduk di samping Galang. Ia kepo pada teman kakak perempuan galaknya itu. Eh..


"Nama kakak siapa?" Tanya Chiko.


"Galang. Panggilnya Bang Galang aja, jangan kakak,"


"Emang kenapa?" Chiko mengerjap polos bagaikan anak polos yang tak tahu.


"Nggakpapa Bang! Chiko malah seneng! Punya kakak galak, dan juga Abang ganteng," kata Chiko tanpa menghilangkan senyumnya. Untung Gina tak mendengarnya, "tapi pake lo-gue aja Bang, soalnya kek aneh gitu panggil harus pake Abang terus. Kan enakan ada lo-gue sama Bang, Chik, atau dek."


"Okelah."


Handi, dan Riri tersenyum melihat keduanya. Perkenalan yang baik. Sepertinya Galang ini anak baik-baik, pikir Handi dan Riri.


Galang dan Chiko mengobrol seru. Tak menghiraukan keberadaan Handi dan Riri yang kini juga mengobrol sendiri karena mereka seperti tak di anggap keberadaannya oleh dua remaja itu.


Mereka tak sadar bahwa di tangga, ada seorang gadis cantik yang memakai tas punggung berwarna pink hitam itu menatap mereka dengan tatapan sulit di artikan. Tepatnya menatap cowok berhoodie hitam yang terlihat akrab sekali dengan adiknya.


Siapa lagi jika bukan Gina?


Gadis itu melangkah pelan menuju meja makan. Ia memilih duduk berhadapan dengan Galang dan Chiko. Melihat keberadaan Gina, sontak perhatian keempat manusia itu teralihkan.

__ADS_1


"Kak, lo kok nggak bilang sih kalau punya temen ganteng gini?" Chiko menatap protes ke arah Gina.


Sedangkan Gina menaikkan satu alisnya. "Apa urusannya sama lo?" Balasnya balik bertanya.


Chiko mendengus tak suka. "Kan bisa buat jadi temen Chiko juga. Ya nggak Bang?"


Galang hanya mengangguk membalas perkataan Chiko.


"Abang tukang bakso mari-mari sini aku mau beli.. satu mangkok sa-" Gina bernyanyi meledek.


"Gina!" Peringat Handi membuat Gina tersenyum kikuk.


"Santai Yah."


Galang merasakan keharmonisan di sini. Keluarga harmonis yang tidak berpura-pura harmonis. Tidak seperti keluarganya sekarang. Ah, Galang jadi malas jika mengingatnya. Lebih baik cowok itu menikmati suasana ini saja bukan? Jarang-jarang..


Beberapa menit kemudian...


"Lang, kok lo malah masuk ke rumah gue sih?! Kan harusnya enggak! Lo cukup di luar aja, ntar juga gue temuin," Gina menggerutu kala dirinya dan Galang sudah ada di depan rumah. Tepatnya di halaman rumah bertingkat tiga itu.


Galang menaiki motornya. "Gue emang sengaja. Pengen kenalan sama orang tua lo, dan adik lo itu." Balas Galang.


Gina mencebikkan bibirnya. "Ihh, nggak suka ah!" Gina bersedekap dada, pipinya mengembung, dan membuang muka ke arah lain membuat Galang gemas.


Galang mencubit pipi Gina membuat sang empu meringis. "Ih lepas Galang!"


"Gemes deh. Jadi pacar gue aja yuk!"


"Nggak!"


Yah... di tolak lagi.

__ADS_1


__ADS_2