
Kini Galang dan Gina sudah berada di depan rumah sakit sejahtera. Tepatnya di parkirannya.
Gina menoleh menatap Galang. "Kita mau jenguk sodara lo dulu? Kok ke rumah sakit Lang?" Tanyanya heran. Karena Galang juga tidak bilang akan ke rumah sakit sebelumnya.
Galang menggeleng. "Bukan sodara gue yang sakit. Yuk!" Ajaknya.
"Ayuk kemana?"
"Ayuk masuk ke rumah sakit lah Gin. Kan kita lagi ada di depan rumah sakit ini,"
"Oh iya ya," Gina menggaruk tengkuknya, "yaudah ayuk!"
Kok gue kayak orang bego gini sih?
Keduanya pun berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sakit sejahtera.
Setelah masuk, Galang bertanya arah nama ruangan yang Kenzo tempati itu berada dimana dahulu, barulah mereka kembali berjalan.
"Lang... sebenernya kita itu mau jenguk siapa sih?"
"Kenzo."
"Kenzo? Siapa tuh Kenzo?"
Galang menggidikkan bahunya. "Nggak tahu,"
Rasanya Gina ingin sekali menampleng kepala Galang sekarang. Jawaban macam apa itu? Nggak tahu?
"Ish, lo-"
__ADS_1
"Diem dulu Gin! Gue lagi inget-inget ni arahnya kemana. Lupa kan jadinya," potong Galang dengan langkah yang terhenti. Cowok itu celingak celinguk sambil mencoba mengingat arah yang di katakan oleh suster yang ia tanyai sebelumnya.
Langkah Gina pun ikut terhenti. Ia berdehem. Sedikit merasa bersalah sekarang. Gina juga tidak tahu arahnya, karena Gina tidak terlalu memperhatikan apa yang di jelaskan suster yang Galang tanyai. "Sorry,"
"It's oke, nggakpapa."
Setelah sekian menit akhirnya keduanya sampai di depan ruangan Kenzo. Di samping pintu sudah ada Kafi yang terlihat menunggu dengan wajah lesunya. "Lama banget sih!" Kesal Kafi.
"Masih untung gue dateng!" Balas Galang tak terima.
Kafi berdecak. "Ck. Oke-oke. Udah ah, gue udah geranh banget. Kalian langsung masuk aja. Orangnya juga lagi istirahat tuh," ujar Kafi.
Galang dan Gina mengangguk kompak.
"Yaudah gue cabut. Bye!"
Tanpa menunggu lama, Galang langsung berjalan dan masuk ke dalam ruangan Kenzo. Di ikuti oleh Gina di belakangnya.
Galang berjalan mendekati kasur rumah sakit. Ia ingin melihat wajah orang yang bernama Kenzo itu lebih dekat.
Deg
Mata Galang membulat.
'Loh? Ternyata dia! kalo gue tahu dia mah ogah banget gue dateng. Kenapa nggak mati aja sih ni orang!'
Tiba-tiba tangan Galang mengenggam tangan Gina membuat gadis itu keget. Gina melirik tangannya yang di genggam oleh Galang.
"Kita pergi!" Seru Galang.
__ADS_1
Dahi Gina berkerut. "Emang kenapa? Kita baru sampe loh Lang! Masa mau langsung pergi sih?"
"Udah jangan banyak bacot!" Galang menarik tangan Gina membuat Gina mau tidak mau mengikuti langkah cowok itu keluar dari ruangan Kenzo.
Langkah Galang yang lebar dan panjang membuat Gina kesusahan untuk menyeimbangkannya.
"Lang, jalannya jangan cepet-cepet dong!"
"Galang ih!"
"Lang, lo kenapa sih!"
"Diem Gin! Gue nggak mau kasar sama lo."
"Hah? Maksudnya?"
Galang berdecak. Gina ini tidak tahu situasi apa!
"Gue antar lo pulang ke rumah lo. Next time aja ke apart,"
"Emang kenap-"
"Jangan banyak tanya kenapa sih!"
Bentakan Galang membuat Gina terdiam. Gadis itu menggigit bibir bagian dalamnya. Sesak rasanya mendengar bentakan Galang. Karena biasanya cowok itu sangat baik dan bersikap manis padanya.
Galang menjalankan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Cowok itu menjalankan motornya seperti orang kesetanan membuat Gina takut bukan main.
"GALANG JANGAN NGEBUT IH!!"
__ADS_1