
Saat ini Galang dan Gina tengah berboncengan berangkat ke sekolah. Gina memasang wajah angkuhnya. Sepertinya gadis itu masih sebal dengan kejadian tadi.
"Gina," Panggil Galang.
"Hm." Sahut Gina.
"Gue ramal, jam pelajaran pertama kita akan ketemu,"
"Yaiyalah bege! Orang gue sama lo aja satu kelas kok! Malah semeja! Gimana sih! Ngajak gelud hah?!"
Galang terkekeh. "Santai dong. Jangan ngegas,"
Gina mengembungkan pipinya. Hal itulah yang biasa Gina lakukan saat merasa kesal.
"Gue ramal, nanti kita akan jadian,"
"Ramal-ramal! Lo pikir ini film dilan apa?! Nggak cocok tahu!"
Galang terkekeh lagi. "Yah.. padahal gue pengen romantis-romantisan sama lo. Tapi lo malah merusak suasana." Galang berujar sendu membuat Gina menggeleng pelan.
"Buodoamat." Balas Gina acuh.
Tak lama, mereka sampai di sekolah. Seperti biasa, jika mereka bersama, pasti ada kaum iri, dan mereka menjadi perhatian. Goodlooking sih...
"Pulang sekolah sama gue, inget."
"Iya-iya."
Setelah turun dari motor tinggi Galang, tanpa Galang duga, Gina malah berlari cepat. Siswa-siswi yang tadi memperhatikan Gina pun heran. Termasuk Galang.
"Lah, gue di tinggal nih?"
Galang mendengus. "Cowok ganteng loh ini. Pangeran kelas. Kok di sia-siain."
"Kalo gue nggak bakal sia-siain lo kok Lang!"
Galang menoleh kala mendengar suara perempuan yang membalas ucapannya barusan. Dia Diva. Masih ingat?
Itu loh, yang pernah bully Gina.
Alis Galang tertaut. Perlahan Diva mendekati Galang. Gadis berseragam ketat dengan muka full make up itu tersenyum ke arah Galang. Ia langsung memeluk lengan kekar Galang.
"Galang,"
"Ck. Lepas Div!"
"Nggak! Nggak mau! Anterin gue ke kelas yuk!"
"Ogah."
"Ih kok kamu gitu sih sayang? Marah? Jangan marah dong. Maaf deh kalo kamu marah gara-gara semalam kita nggak jadi jalan."
Galang memutar bola matanya malas. "Drama," cibir Galang. Sebenarnya ingin sekali ia mendorong Diva. Tapi perkataan Maminya terlintas di otak kecilnya, membuatnya tidak bisa melakukan hal kasar pada gadis di sampingnya ini.
Falshback
Seorang wanita duduk di sebuah taman. Di sampingnya ada anak laki-laki yang tengah memakan es krim Vanila.
__ADS_1
"Galang kalo udah besar jangan sakitin perempuan ya, kalau Galang sakitin perempuan, Galang sama aja nyakitin Mami. Dan Galang jangan kasar sama perempuan, karena perempuan itu harus di jaga,"
"Tapi kalo ada perempuan yang ngeselin gimana Mi?"
"Kasih pengertian aja, jangan pernah main tangan ya sama perempuan,"
"Jangan kayak Papi ya Mi?"
Wanita itu terdiam beberapa saat. Kemudian mengangguk. "Jangan pernah pukul perempuan. Kalau Galang pukul perempuan, berarti Galang banci. Masa cowok beraninya sama cewek. Paham?"
Galang kecil mengangguk. "Paham dong!" Jawabnya semangat.
Flashback of
Galang dengan pelan mencoba melepaskan tangan Diva dari lengannya. Tapi gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepas gue bilang!" Galang berucap dengan nada tinggi. Tapi sepertinya Diva ingin main-main dengan Galang.
"Nggak mau Galang!"
Sekarang keduanya sudah menjadi pusat perhatian. Karena waktu terus berputar, siswa-siswi pun semakin banyak yang berangkat sekolah, dan semakin banyak pula yang menonton adegan gratis di parkiran SMA Mandala pagi ini. Pasti akan di jadikan bahan ghibah.
"Di belakang lo ada anak osis yang mau razia tuh!" Seru Galang membuat Diva mengendurkan pelukannya, dan menoleh ke belakang. "Mana-mana?" Hal itu tidak di sia-siakan oleh Galang. Cowok itu langsung saja melepaskan tangan Diva yang masih melingkar di lengannya, dan berlari pergi.
Merasa Galang mengelabuhinya, Diva pun menatap kesal ke arah Galang yang kini berlari menjauh. "GALANG!!"
Beberapa siswi yang menonton tertawa. Percayalah, Diva terlihat seperti wanita murahan saat ini.
Diva langsung memelototi siswi yang menertawainya. "Apa lo!"
•••
Seperti saat ini, Gina tengah belajar di perpustakaan. Entah kenapa hari ini ia sedang semangat belajar. Jadi jam istirahat hari ini rencananya akan ia habiskan untuk membaca buku di perpustakaan.
Suasana sunyi membuat Gina betah untuk terus membaca buku sejarah. Biasanya gadis itu sangat malas jika berhubungan dengan sejarah.
Brakk
Suara pintu yang di buka keras terdengar nyaring di telinga membuat semua yang ada di perpustakaan merasa kaget. Termasuk Gina tentunya. Gina dengan alis tertautnya pun langsung mendongak mengalihkan pandangannya ke arah pintu perpustakaan. Namun karena ia sebelumnya memilih tempat paling pojok jadi tak terlihat karrna terhalang rak buku yang tinggi. "Ck. Nggak kelihatan lagi."
Gina menghela napas, kemudian mencoba fokus membaca kembali. Gadis itu tak menghiraukan perkataan orang-orang di sekitarnya.
Brakk
Kembali Gina di kagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba menggebrak meja yang ada di depan gadis itu. Gina langsung saja melihat dan menatap orang itu. Ada tiga orang. Yaitu Diva, dan dua antek-anteknya. Entah namanya siapa Gina lupa.
Gina menatap tak suka ke arah Diva. "Apa-apaan lo? Tiba-tiba dateng langsung gebrak meja! Lo pikir lo oke?" Kata Gina dengan tampang judesnya.
Diva tersenyum remeh. "Iya lah gue oke," Diva mengibaskan rambutnya sok cantik, "waktu itu udah gue peringatin loh! Jangan deketin Galang! Galang itu punya gue!" Ucap Diva penuh penekanan.
Gina berkacak pinggang. "Heh! Gue nggak deketin Gakang ya! Tu cowok aja yang malah deketin gue! Emang gue elo, cewek murahan!"
"Gue nggak murahan, yang ada lo yang murahan!" Diva maju, dan langsung menjambak rambut Gina. Gina yang tak mau kalah pun membalasnya. Terjadilah aksi jambak-jambakan antara Gina dan Diva.
"Musnah lo j*lang!"
"Lo yang j*lang!"
__ADS_1
Kedua antek-antek Diva tidak tahu harus apa. Mereka juga tidak mau kena amukan Gina ataupun Diva. Ini di luar rencana mereka. Mungkin karena terbawa emosi, jadilah Diva langsung menjambak rambut Gina.
Perpustakaan sepi. Karena sebelumnya, Diva dkk mengusir para siswa-siswi yang ada di dalam perpustakaan. Kebetulan sekali, penjaga perpustkaan sedang sakit.
"Sakit bego! Jauhi Galang! Kalo lo jauhin Galang, gue lepasin jambakan gue!"
"Gue nggak ngedeketin tu cowok tengil bagong!"
•••
Galang menatap Alea dan Tasya bingung. Sedangkan Alea dan Tasya menatap kagum ke arah Galang. Saat ini mereka tengah berada di kantin. Galang menghampiri kedua teman dekat Gina itu. Tapi herannya Gina tidak bersama mereka.
"Kalian temen deketnya Gina kan?" Tanya Galang.
Alea dan Tasya kompak mengangguk. "Kita sahabatnya Gina malah!" Jawab Alea sambil tersenyum. Demi apa Alea sangat gugup di tatap Galang seperti ini!
"Terus, Ginanya mana?"
"Gi-Gina?"
"Iya. Gina. Taukan? Katanya sahabat, masa nggak tau," Galang memberikan senyum manisnya membuat kedua gadis itu tak berkedip.
"Gina ada di perpustakaan. Lagi belajar."
"Oke, thanks. See you cantik." Dengan sengaja Galang mengedipkan satu matanya ke arah Alea dan Tasya membuat keduanya mendadak sesak napas.
"Galang ngewink ke gue njir," Gumam Alea tak percaya.
Galang berlari menuju perpustakaan. Tangannya penuh dengan roti dan air mineral. Cowok itu yakin pasti Gina belum makan. Jarak kantin dan perpustakaan tidak terlalu jauh membuat Galang cepat sampai karena tadi berlari.
"Gue nggak ngedeketin tu cowok tengil bagong!"
Mendengar suara Gina, lantas tanpa menunggu lama Galang langsung membuka pintu perpustakaan.
Brakk
Galang berlari menuju Gina berada.
"GINA, DIVA, STOP!"
Teriakan Galang cukup ampuh membuat kedua gadis yang sedang jambak-jambakan itu berhenti dari kegiatannya.
Rambut Gina dan Diva acak-acakan seperti gembel. Diva langsung menghampiri Galang dan memeluk lengan cowok itu. Ia bergelanyut manja. "Galang... dia jambak gue duluan." Adu Diva sambil menunjuk Gina.
"Nggak ya! Lo yang duluan!"
"Ada saksinya kok. Yakan Mita? Tadi Gina yang jambak gue duluan,"
Galang menatap heran ke empatnya secara bergantian. Kenapa sih?
"Iya. Tadi yang mulai duluan Gina." Balas Mita kompor membuat senyum miring Diva muncul.
Gina yang geram langsung maju, dan
Plak
Gina menampar keras pipi Diva. Membuat Diva tertoleh dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh, tamparan Gina tak main-main. Bahkan suara tamparannya sampai terdengar ke luar perpustakaan.
__ADS_1
"Denger ya, gua nggak deketin ni cowok," Gina menunjuk Galang, "dan kalau lu suka sama dia ya nggak usah sok bully gua Sat! Cuma karena gua di bonceng sama dia aja lu sampe jambak rambut gua. Gua nggak ada hubungan sama Galang! Mau lu deket sama dia kek, gua nggak peduli! Ambil aja, ambil! Dan gua nggak pernah takut sama lu! Gua bisa lebih kasar kalo lu kasar. Bye!"
Gina berjalan pergi. Tangannya terasa perih karena Diva mencakarnya tadi. 'Shitt! Ni cewek monyet ngapain cakar tangan gue segala sih!'