
Galang berdiri di dekat pagar pembatas. Matanya menatap kosong ke depan. Saat ini cowok itu tengah berada di rooftop kafe G'A. Galang semalam bermalam di sana tanpa tidur. Ya, Galang tak bisa tidur semalam. Pikirannya kacau.
Penampilan Galang saat ini terlihat berbeda. Ia seperti tak ter-urus. Hanya menggunakan kaos polos berwarna putih, dan celana jeans hitam. Jaketnya ia taruh di sofa yang memang sudah ada di rooftop. Rambutnya juga terlihat berantakan. Tapi itu malah membuat ketampanan Galang bertambah berkali lipat.
"Galang!"
Mendengar suara Gina yang memanggil namanya, Galang diam saja. Cowok itu tak menoleh sama sekali membuat Gina menghampirinya.
"Lang, kenapa?" tanya Gina lembut. Tangannya menyentuh lengan kekar Galang, "Ada masalah?"
Galang diam.
"Lang?"
Deg
Tanpa di duga, Galang langsung memeluk Gina dengan erat. Cowok itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gina.
"Hiks,"
Mendengar isakan kecil Galang membuat dahi Gina berkerut. Sebenarnya Gina bingung mau berbuat apa. Jantungnya kini sudah berdebar tak karuan, entah kenapa.
Gina akhirnya membalas pelukan Galang. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Galang, berusaha menenangkan.
"Gin, gue nyesel Gin. Gue nyesel ngelakuin itu..."
Gina hanya diam membiarkan Galang melanjutkan kata-katanya. Gina tahu kondisi. Dia tidak akan bertanya sekarang. Biarkan saja Galang bercerita sendiri.
Sebelumnya Gina bingung mau datang ke rooftop kafe G'A ini atau tidak. Tapi, mengingat kebaikan Galang yang sering menolongnya membuat gadis itu akhirnya memutuskan untuk datang ke sini saja.
"Gin,"
"Hm? Kenapa? Cerita aja,"
Galang semakin mengeratkan pelukannya. Menghirup aroma vanilla yang ada di tubuh gadis mungil yang tengah di peluknya itu. Galang merasa sedikit tenang.
"Kalau gue pergi, apa mereka akan cari keberadaan gue? Apa mereka akan sedih?"
"Jangan pergi,"
"Kenapa?"
"Ntar gue kangen,"
__ADS_1
Galang tersenyum tipis mendengarnya. Tidak salah ia menyuruh Gina datang tadi. "Masa? Bukannya lo selalu ingin gue jauh-jauh ya?"
"Nggak kok,"
"Gin,"
"Iya?"
"Gini dulu ya," pintanya, "pelukan dulu,"
"Gue pegel kalo lama-lama,"
Tak mendengar balasan Galang membuat Gina cepat-cepat menarik perkataannya lagi. "Nggakpapa kok kalau lama juga nggakapapa,"
Keadaan menjadi hening beberapa detik. Sampai suara Galang memecahkan leheningan itu. "Dika marah sama gue,"
"Karena?"
"Karena gue baru cerita rahasia gue ke dia tadi malam. Gue salah ya? Gue nyesel banget Gue jahat Gin. Gue nyesel banget sumpah. Andai waktu bisa gue putar kembali. Gue nggak akan pernah nutupin semuanya dari Dika, dan pastinya gue nggak akan pernah ngelakuin hal itu,"
"Gue..."
"Gue takut kehilangan orang yang gue sayang lagi,"
Galang membalas tatapan Gina. "Kenapa liatin gue? Terpesona ya?" Tanya Galang jail dengan senyum menggoda membuat semburat merah muncul di kedua pipi Gina.
Gina memalingkan wajahnya, malu. "Enggak!" kilahnya, "siapa juga yang terpesona. Ngaco!"
Galang terkekeh kecil. "Sini duduk!" Ajaknya. Galang melangkah berjalan menuju sofa. Di ikuti oleh Gina di belakangnya. Keduanya pun duduk bersebelahan.
Galang merentangkan tangannya. "Peluk,"
Pipi Gina bersemu merah kembali. Gadis itu dengan cepat memeluk Galang. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang Galang. Debaran jantungnya masih sama. Berdetak lebih cepat dari biasanya. Gina bisa mendengar detak jantung Galang yang juga berdetak cepat sepertinya.
Sedangkan Galang kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gina.
"Gin. Mau janji sama gue nggak?"
"Janji apa?"
"Janji kalo apa pun rahasia gue yang lo tahu nanti, lo jangan pernah benci gue ya? Gue... cinta sama lo. Gue nggak mau kehilangan lo. Walaupun lo bukan cewek gue,"
Tanpa pikir panjang Gina mengangguk. "Iya, janji."
__ADS_1
Senyuman Galang langsung terukir. Cowok itu melepaskan pelukannya dan menatap Gina tak percaya. "Serius?"
Lagi, Gina mengangguk.
"Kalo jadi pacar gue mau nggak?"
"Lo nembak gue?" Bukannya menjawab, Gina malah balik bertanya.
"Iya. Gue pengen lo jadi pacar gue. Will you be my girlfriend?" Mata Galang menatap penuh harap ke arah Gina. Walaupun sudah puluhan kali dirinya menyatakan cinta ke Gina dan selaku di tolak, perasaan Galang tidak pernah berubah.
"Em... gue...-"
"Yes or No?"
"No,"
Kretek kretek
Senyuman Galang luntur seketika. Menjadi wajah datar tanpa ekspresi. Ia juga beralih menatap ke depan. Menatap langit. "Oh, yaudah."
Gina menggigit pipi bagian dalamnya. "Ta-tapi, kalo lo mau... kita ko-komitmen aja gimana?"
Galang menoleh. "Komitmen?" Tanyanya.
"Iya, komitmen. Kalau pacaran gue belum siap. Gue yakin lo orang baik. Dengan perkataan lo yang bilang lo cinta gue, mungkin lo bisa buka hati gue lagi. Lo mau nggak, Lang?"
Galang terdiam. Ia merasa tak pantas di sebut orang baik oleh Gina barusan. Tapi tentu saja Galang mengangguk. "Gue mau," jawabnya, "gue panggil lo sayang ya?"
Seketika mulut Gina terbuka. "Hah? Sayang?"
Galang tak bisa menahan senyumnya melihat ekspresi Gina yang menggemaskan di matanya. "Kenapa Sayang?"
"A-apaan sih!"
"Cieee blushing,"
"Ih Galang... Jangan panggil sayang ah!" Gina langsung menabok lengan Galang membuat Galang tertawa senang karena berhasil menjahili Gina.
Mereka bertatapan kembali. Galang beralih fokus menatap bibir mungil Gina yang sedari tadi berhasil menggodanya. Ingin sekali Galang menciumnya. Tapi Galang tahu batasan. "Regina Valeria, Will you marry me?"
"Dasar gila!"
"Sayang, jangan lari!"
__ADS_1