
Jangan terlalu percaya, semuanya akan mengecewakan pada waktunya.
-Pangeran Kelas-
...♡•♡•♡...
2 minggu 1 hari kemudian
Galang berjalan lesu di koridor menuju kelas. Pagi ini ia tidak terlalu bersemangat karena Gilang yang tengah sakit.
"Eh, itu yang katanya pangeran kelas sebelas IPS dua kan?"
"Iya, namanya Galang,"
"Gila, ganteng banget. Kok cowok di kelas gue burik-burik semua ya?"
Di sepanjang koridor, banyak pasang mata yang menatap Galang memuja, dan terkagum-kagum. Banyak juga yang memujinya secara terang-terangan. Tapi Galang hanya acuh saja. Ah, sudah biasa!
Langkah Galang seketika berhenti ketika melihat seseorang yang sangat ia kenali berjalan mendekat. Cowok itu langsung bersembunyi di balik pilar.
"Kenapa dia harus sekolah di sini sih?!" Gumam Galang. Terlihat tak suka dengan orang itu.
Setelah orang itu pergi, Galang kembali berjalan dengan langkah yang lebih cepat agar cepat sampai.
"GALAAANG!!"
"Astaghfirullah,"
Langkah Galang berhenti lagi karena suara teriakan Kafi yang mengagetkan. Matanya menatap sebal ke arah sahabatnya itu. "Ngagetin aja lo! Mau gue jantungan, hah?"
Kafi nyengir. "Ehehe, enggak lah! Lo kenapa baru berangkat Lang? Lo sakit? Atau apa?" tanya Kafi sambil memutar tubuh Galang. Galang hanya memutar bola matanya. "Tapi kata Bibi yang ada di apart lo, lo itu pergi. Pergi kemana dah? Berobat? Dua minggu loh! Dika sampe bela-belain bohong demi lo!"
Deg
'Dika bohong demi gue? Bohong tentang apa?'
Dengan dahi berkerut, Galang menatap Kafi. "Maksud lo?" Tanyanya tak mengerti.
"Kita ke rooftop aja gimana? Katanya sih pagi ini freeclas,"
Galang mengangguk.
__ADS_1
Kedua cowok itu pun akhirnya pergi ke rooftop atau atap sekolah. Keduanya duduk di sofa lusuh yang ada di sana.
"Selama ini Dika bohong dan bilang ke nyokap lo kalo lo itu ada lomba basket antar provinsi. Dua hari lo nggak berangkat tanpa ijin itu, nyokap lo tahu. Tapi... setelah Dika bohong tentang lomba itu, nyokap lo ngertiin,"
Galang manggut-manggut. "Ooh."
Keadaan hening beberapa saat. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai suara Kafi memecahkan keheningan itu.
"Sekarang gue tanya, dua minggu lo ngapain aja? Selama itu, dan lo nggak pernah pulang ke rumah ortu atau apart lo. Lo tinggal di mana sih Lang? Bikin khawatir tahu nggak?!"
Galang menunduk. "Ada sesuatu yang nggak bisa gue jelasin,"
"Apa?"
"Apa sih yang nggak bisa lo jelasin?"
"Gue... gue nggak bisa cerita Kaf, sorry,"
"Gue butuh jawaban Lang! Lo pikir, dengan lo menghilang selama dua minggu itu nggak bikin gue khawatir? Gue sama Dika khawatir sama lo!"
"Apa perduli kalian! Gue bukan siapa-siapa lo!" Balas Galang sambil beranjak berdiri.
Galang menatap Kafi datar. Senyum miringnya terukir menyeramkan. "Bacot!" Umpatnya.
Saat Galang melangkah hendak pergi, Kafi langsung mencekal tangan Galang yang langsung Galang tepis begitu saja. "Apa lagi sih Kaf?!"
"Lo kenapa sih?! Ini bukan Galang yang gue kenal!"
Alis Galang terangkat satu. "Oh ya?"
"Lang..."
"Apa!"
"Kalo ada masalah ceritalah! Lo kebiasaan banget sih!"
"Ngapain gue cerita sama lo. Toh nggak ada manfaat-"
"Galang! Lo... bener-bener ya," Kafi sampai kehabisan kata-kata menghadapi Galang kali ini. Ini bukan Galang yang Kafi kenal.
"Jangan. Halangi. Gue. Pergi. Atau. Lo. Akan. Gue. Bunuh!"
__ADS_1
Deg
•••
Senyum lebar Gina seketika terukir kala melihat Galang yang baru saja memasuki kelas.
Galang duduk di samping Gina. "Hai," sapanya.
"Hai, Lang," sapa balik Gina.
Galang tersenyum. "Gimana?"
"Apanya?"
"Hari-hari lo tanpa gue? Pasti hambar kan?" Tanyanya menggoda.
"Emm, biasa aja sih. Emang lo kemana aja Lang?"
"Ada urusan," balas Galang. "Gilang sakit,"
Alis Gina tertaut. Gadis itu tidak mengerti apa yang di katakan Galang. Sepertinya karena melihat senyuman Galang, jadi ambyar. "Urusannya... Gilang sakit? Karena Gilang sakit lo nggak berangkat? Gitu?"
Galang mengulum senyumnya. "Ya nggak lah! Bukan gitu. Gue cuma mau ngasih tahu kalo Gilang sakit. Bukannya nggak berangkat karena Gilang sakit,"
Gina tersenyum malu. "Ooh, ya--yaudah ntar gue jenguk deh. Gue juga kangen sama Gilang sih. Padahal dua hari lalu gue ketemu sama Gilang dia baik-baik aja,"
"Takdir, maybe. Jadi... lo ke apart gue?"
Gina mengangguk. "Iya. Gue sebenernya juga mau tahu lo sakit apa nggak, bukan cuma mau main sama Gilang aja. Tapi ya lo-nya nggak ada yaudah,"
"Tapi..."
"Tapi apa?"
Gina sedikit mencondongkan badannya. "Gue nemu pistol di kamar lo." Bisiknya yang membuat mata Galang sontak membulat.
"Lang..."
"I-iya?"
"Jujur sama gue. Kenapa lo sampe nyimpen benda begituan di kamar lo?" Gina menatap Galang dalam. Matanya berkaca-kaca. "Please... jaga kepercayaan gue. Apa lo... salah pergaulan?"
__ADS_1