
Galang menatap senang pemandangan di depannya. Di atas kasur king size itu, Gina tengah berbaring bersama bayi cowok sambil berusaha menidurkan bayi itu.
Tanpa menungu lama, Galang ikut bergabung. Ia berbaring memyamping. "Kita kayak pasutri yang baru punya anak ya?" Tanya Galang yang membuat Gina langsung menoleh dan menatap tajam Galang.
"Diem!"
Galang memutar bola matanya. "Hm."
"Kayaknya kita harus namain baby deh biar nggak di panggil dede bayi atau baby lagi. Harus punya nama dia." Kata Gina sambil mengelus-elus pipi lembut bayi yang tengah menatap polos Gina dan Galang.
Galang mengangguk setuju. Ia menimang-nimang sekiranya nama apa yang tepat, cocok, dan gampang di ingat.
"Aha!" Galang menjentikkan jarinya sampai berbunyi.
"Apa? Ada ide?"
Galang mengangguk sambil tersenyum. "Gimana kalau kita namain Gilang aja? Gampang kan diingat? Apalagi Gilang itu di ambil dari nama GIna gaLANG."
"Bagus sih. Oke kita namain Gilang. Halo Gilang. Ih senyum... senang ya udah punya nama hm?"
Bayi Gilang tersenyum seperti setuju akan nama pemberian Galang dan Gina, dan itu membuat Galang dan Gina ikut tersenyum bahagia. Gina sebenarnya membenarkan ucapan Galang yang yang mengatakan mereka seperti pasutri yang baru mempunyai anak. Karena memang sekarang terlihat seperti itu.
Semua perlengkapan Gilang sudah lengkap. Seperti susu, popok, tempat makan bayi, tempat tidurnya, dan lain sebagainya semuanya sudah diurus oleh Galang. Galang mempunyai orang suruhan yang membuatnya tak perlu repot untuk pergi. Gina sebenarnya heran. Apa sekaya itu kah Galang?
Beberapa menit kemudian, Gina dan Gilang tertidur. Galang yang menyadari hal itu pun menoleh menatap keduanya. "Tidur nggak ngajak-ngajak," gumam Galang pelan, tidak mau tidur Gina dan Gilang terusik.
Galang mencium pipi Gilang. "Good sleep baby boy. Mama kamu kecapean jagain kamu. Jangan rewel ya..."
Galang beranjak. Ia pindah ke sofa yang ada di dalam kamar itu. Cowok itu akan tidur di sofa malam ini. Ia tersenyum melihat Gina. Tidak menyangka jika pertemuannya siang tadi membuat keduanya tidur satu kamar.
Pukul 02.11
Eaaaak eaaaakk
Suara tangisan Gilang membuat Gina yang ada di sampingnya terbangun. "Eh kok bangun sih sayang?" Gina langsung mengangkat Gilang dan menggendong bayi itu. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Gilang.
__ADS_1
"Galang. Galang bangung!"
"Eungg apasih Gin? Gue ngantuk nih, pen bobo." Galang masih memejamkan kedua matanya.
"Issh Galang bantuin... Bau tahu! Kayaknya Gilang pup deh,"
"Yaudah lo ganti aja popoknya. Lo kan nanti jadi ibu dari anak-anak gue. Sekalian latihan."
"Lah ih! Serius sih! Gue nangis nih!"
"Yaudah nangis aja."
Gina menatap tajam Galang. "Ck. Jadi bapak yang idaman dong! Bantuin gue dodol!"
Galang menghela napasnya. Cowok itu perlahan membuka mata, dan langsung duduk. "Sini biar gue gendong dulu! Lo cari popok, tisu basah, bedak bayi, sama kantung kresek!"
Gina mengangguk. Kemudian menyerahkan Gilang pada Galang dengan hati-hati. "Iuuuh bau banget sih habis mam-mam apa anak Papa?"
Gina mencari barang yang tadi Galang bilang. Sedangkan Galang sibuk menutup kedua lubang hidungnya.
"Iya-iya! Sabar dong!"
Galang berdecak kesal lantaran Gina yang terlalu lama. Galang beralih menatap Gilang yang sedari tadi setia menatapnya. "Pup kamu bau!" Kata Galang pada Gilang.
Gina terkekeh mendengarnya. "Yang namaya pup ya bau lah! Ngadi-ngadi lo,"
Gina membawa semua barang yang Galang minta. Tetapi sekarang masalahnya ia tidak tahu bagaimana caranya. Gina menggaruk tengkuknya yang Galang yakini tidak gatal itu. "Lo tahu cara ganti popok bayi nggak? Gue nggak tahu soalnya,"
Galang menepuk dahinya. "Gue kira lo tahu! Ya udah kita cari tutorial aja di YT?" Usul Galang.
Gina mengangguk. Gadis itu mengambil ponselnya dan langsung mencari video memakaikan popok pada bayi.
Galang dan Gina kemudian menonton bersama video itu. "Ini mah gampang." Kata Galang.
"Yaudah kalau lo bilang gampang. Lo sendiri aja yang gantiin popoknya Gilang." Balas Gina membuat Galang menggeleng tak setuju.
__ADS_1
"Ya nggak bisa gitu dong! Lo kan Mamanya!"
"Heleh! Bilang aja lo nggak mau,"
Galang nyengir. Gina tahu saja!
"Yaudah kita ganti bareng-bareng. Tidurin Gilang di kasur Lang!" Kata Gina yang langsung dilaksanakan oleh Galang.
"Ih anak Papa senyum-senyum. Iya, tahu kok kalau Papa ganteng."
"Narsisnya di kurangin tolong,"
Galang dan Gina pun mengganti popok Gilang sesuai arahan video yang sebelumnya mereka tonton. Jika Gina yang sibuk melepas, membersihkan Gilang, dan memakaikan popok baru, Galang malah sibuk menutup hidungnya. Dasar Galang! Gina yang melihat itu hanya menggeleng heran.
•••
"Gue nggak mau berangkat bareng sama lo!" Tolak Gina. Pagi ini Galang dan Gina berdebat karena Gina yang tidak mau berangkat bersama Galang. Tetapi Galang tetap memaksa Gina untuk berangkat sekolah bersamanya.
"Kenapa sih?! Sekolah kita juga sama kalik Gin! Malahan kita satu meja?"
"Ck. Pokoknya gue nggak mau!"
"Lo nggak mau, gue masukin Gilang ke panti asuhan!"
"Dih kok lo gitu sih!"
"Nggak mau? Yaudah," Galang melangkah hendak pergi. Tapi tangannya langsung di cekal oleh Gina. Walaupun Gina bukan orang tua kandung atau saudara Gilang, tetapi bayi itu sudah Gina anggap sebagai saudaranya, bahkan anaknya sendiri. Karena Gina yang menemukan Gilang, Gina merasa bertanggung jawab.
"Fine! Gue ikut sama lo. Tapi di turunin di pinggir jalan aja. Gue nggak mau ya nanti di bully gara-gara berangkat bareng lo."
"Nggak ada yang akan bully lo!"
"Ada Lang! Fans lo tuh banyak. Apalagi lo di julukin pangeran kelas."
"Sekalipun ada. Orang itu akan gue hadepin. Berani banget bully mamanya Gilang anak gue." Kata Galang membuat Gina tercengang.
__ADS_1
*Ad**a kata buat Galang dan Gina? Silahkan komen*:)