Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Kenzo


__ADS_3

Galang langsung lari menuju Gina membuat Dika mendelik. Ini lagi upacara loh...


Galang sontak menjadi pusat perhatian karena ia yang berlari juga tidak memakai seragam PMR.


"Sini biar gue yang gendong!" Galang merebut paksa tubuh Gina yang sebelumnya di gendong oleh 3 orang kakak kelas.


Galang menggendong Gina ala bridal style. "Orang badannya nggak berat kok yang bawa tiga orang. Cih, cemen," cibirnya pedas.


Tanpa menghiraukan ekspresi wajah kesal orang-orang yang sebelumnya menggendong Gina, Galang langsung saja berjalan cepat menuju UKS. Gina harus cepat di tangani.


Melihat apa yang di lakukan Galang pada Gina, membuat siswi-siswi iri. Tentu saja! Siapa yang tidak iri jika di gendong pangeran tampan?


"Keren juga si Galang," gumam Dika tak percaya. "Segitu bucinnya ternyata," cowok itu geleng-geleng kepala.


•••


Galang menatap kesal ke arah Gina yang masih memejamkan matanya. Ada rasa khawatir di siratan matanya.


"Eunggh," lenguhan Gina membuat Galang langsung sigap.


Mata Gina pun terbuka. "Mi-num," pintanya yang langsung di turuti oleh Galang. Cowok itu memberi minum Gina air putih.


"Lo tuh kalo masih sakit di rumah aja Gin," ujar Galang setelah Gina selesai minum. "Jadi gini kan akibatnya,"


"Iya-iya, bawel!" Gina memijit pelipisnya yang terasa sakit. Gadis itu menatap ke sekeliling. Kemudian beralih menatap Galang heran. "Lo kok di sini? Nggak ikut pelajaran?" Tanyanya.

__ADS_1


"Izin," jawab Galang.


"Ooh," balas Gina sambil mengangguk paham.


"Gin,"


"Iya?"


"Lo pulang aja ya?"


Gina menggeleng. "Nggak mau ah. Males di rumah cuma rebahan doang,"


Galang menghela napas. "Tapi gue khawatir lo malah nanti sakit lagi kalo di paksa. Pentingin kesehatan lo,"


Gina terdiam. Keadaan hening beberapa saat. Sampai bel istirahat pun berbunyi.


"Apa sih Lang? Udah lo pergi aja! Gue mau sendiri," ucapnya ketus.


"Mau ketemu sama Gilang nggak?"


Pertanyaan Galang membuat mata Gina berbinar. "Gilang? Mau dong! Udah lama gue nggak ketemu sama anak gue," Gina terkekeh sendiri setelah mengatakan anak gue.


"Oke. Yuk! Izin dulu," ajak Galang


"Ayuk!" balas Gina.

__ADS_1


Galang dan Gina pun berjalan beriringan menuju kelas. Setelah sampai, di kelas hanya ada beberapa orang saja. Mungkin sebagian besar sudah pergi ke kantin.


Galang menyambar tasnya dan juga tas Gina. Cowok itu lalu memberikan tas Gina kepada Gina. Setelah Gina menerimanya, Galang beralih menatap Dika yang terlihat sedang serius bermain ponsel.


"Dik," panggil Galang. Dika menoleh.


"Naon?"


"Gue mau izin. Gina juga. Lo tolong bilang guru ya kalau gue sama Gina izin. Kalau Gina sakit, tapi kalau gue... lo bilang aja gue ada kepentingan keluarga,"


Dika mengangguk paham. "Oke. Eh tapi lo sekalian mampir ke rumah sakit ya? Si Kafi dari tadi chating gue mulu biar izin aja. Karena tu orang katanya mau mandi. Tapi belum bisa karena nungguin orang,"


Dahi Galang berkerut. "Nungguin orang? Siapa? Mama tirinya? Atau Bokapnya?"


"Bukan, bukan! Kafi tuh nungguin orang yang kemarin gue sama Kafi tolongin," jawab Dika, "kasian, tergeletak di pinggir jalan. Kayak habis di keroyok gitu, udah gitu nggak ada yang urus. Mana ganteng lagi. Namanya Kenzo,"


"Kenzo?" Beo Galang. Cowok itu merasa familiar dengan nama itu.


"Ho'oh. Semalem dia habis di operasi usus buntu. Untung punya uang di ATM dia. Kalo enggak, udah inalilahi kalik,"


Gina yang sedari tadi terdiam di depan pintu sambil menatap ke arah Galang dan Dika mendengus sebal. Ia tidak tau apa yang tengah di bicarakan mereka. Tapi itu sangat lama membuatnya harus sabar menunggu.


"Rumah sakit mana?"


"Rumah sakit sejahtera,"

__ADS_1


"Oke, ntar gue mampir deh, nungguin. Biar Kafi bisa pulang terus mandi. Tapi lo jangan lupa, izinin ke guru!" Ingat Galang.


"Siap!" Balas Dika.


__ADS_2