Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Hot Niews


__ADS_3

Setelah lama berdebat dengan Galang, akhirnya Gina juga yang kalah. Galang dan Gina berangkat sekolah bersama menggunakan motor sport Galang.


Mereka berdua pun sampai di parkiran sekolah. Gina turun dari motor Galang. Banyak yang menatap Gina dengan tatapan berbeda-beda. Ada yang menatap kagum, heran, iri, dan ada tatapan yang Gina pun tak tahu artinya. Seperti tatapan benci sepertinya? Sebenarnya Gina sudah bilang pada Galang agar dirinya di berhentikan di pinggir jalan saja. Namun Galang menolak keras akan hal itu. 'Dasar Galang somplak!' -Batin Gina.


Gina mempoutkan bibirnya. Galang yang melihat itu merasa gemas dan langsung mencubit kedua pipi Gina. "Gemesin banget sih,"


"Ih Galang!" Gina menyentak tangan Galang. Matanya melirik ke kanan dan kiri seperti memberi kode.


Galang menatap heran Gina. "Maksud lo?" Tanyanya tak mengerti.


Gina menepuk dahinya. "Au ah gelap! Gue mau ke kelas, Bye!" Gina langsung berbalik dan berlari pergi meninggalkan Galang begitu saja yang masih mematung.


Bisikan-bisikan dan cibiran murid SMA Mandala terdengar di kedua telinga Gina.


"Galang sama Gina cocok ya?"


"Cocok apanya? Nggak tuh! Galang tuh cocoknya sama Diva!"


"Di bayar berapa lo sama Galang? Biasanya sok cuek. Sekarang malah berangkat bareng. Nggak malu lo?"


"Cantikan juga gue."


"Pake pelet nih pasti mangkanya Galang mau berangkat sama dia."


Tangan Gina terkepal mendengarnya. "Iri bilang bawahan!" Kata Gina keras. Gadis itu melangkah angkuh. Murid-murid yang tadi mencibirnya pun bungkam, tak menyangka. Dia Gina?


Ada juga yang bertepuk tangan pelan. Daebak!


Gina menghentak-hentakan kakinya kesal di lorong sepi itu. Sungguh rasanya sangat kesal. "Apaan sih pake bilang pelet-pelet! Di pikir gue suka sama Galang apa?! Dasar lambe turah!" Celoteh Gina.


"Nggak usah di pikirin cibiran mereka. Ini hidup lo. Bukan mereka. Dan lo adalah peran utamanya. Terserah lo mau ngapain aja."


Deg

__ADS_1


"Gue pikir cuma ada gue doang di sini." Gumam Gina pelan. Kemudian gadis itu berbalik ingin tahu siapa yang bicara tadi.


Cowok itu tersenyum simpul ke arah Gina. "Hai!" Sapanya.


Gina mencubit tangannya sendiri. Ini bukan mimpikan? Seorang Leonardo Saputra Agraham menyapanya?


"H-- hai juga Kak," balas Gina sambil tersenyum kikuk.


Leo yang merupakan Kakak kelas Gina itu berjalan mendekati Gina. "Minta nomor lo boleh?" Tanya Leo yang membuat Gina kembali kaget dan tak menyangka. Leo meminta nomornya? Tentu saja Gina tak akan menolak.


Gina mengambil ponselnya yang ada di saku, dan langsung menyerahkannya kepada Leo. Leo mengetikkan sendiri nomor ponselnya di ponsel berlogo apel itu. Kemudian cowok itu menelfon nomornya sendiri.


"Thank," Kata Leo sambil menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya. Gina mengangguk sambil tersenyum.


"Ke kelas gih! Bentar lagi masuk." Ujar Leo.


"Iya kak. Kalau gitu gue permisi dulu." Balas Gina. Setelah mendapat jawaban dari Leo, Gina segera melangkah berjalan menuju kelasnya. Perasaannya tengah campur aduk sekarang. Senang, dan bingung. Perlu kalian ketahui, Gina sudah suka Leo sejak pertemuan pertamanya mereka.


Bel pertanda jam pertama pembelajaran akan segera di mulai berbunyi nyaring. Galang dengan langkah gontainya memasuki kelas dan langsung duduk di bangkunya, sudah ada Gina di sampingnya.


"Lang, pinjam buku MTK lo dong," pinta Gina.


"Pinjam sama Kak Leo aja sana!" Balas Galang yang membuat Gina melongo.


"Hah?"


•••


"Kata ilham cinta itu tak harus memiliki. Tapi gue nggak setuju sama kata-kata itu," ujar Galang. Membuat kedua temannya menggeleng heran.


Saat ini Galang, Dika, dan Kafi tengah berada di kantin SMA Mandala. Suasana kantin ramai seperti biasanya.


"Lo kenapa dah? Galau lo?" Tanya Kafi.

__ADS_1


"Biasalah. Paling juga ngegalauin Gina Kaf," Sambar Dika.


Kafi sedikit kaget mendengarnya. "Gina? Gina temen sekelas kita?" Tanyanya memastikan.


Dika mengangguk mantap. "Iya."


"Lo suka sama Gina Lang?"


Galang hanya mengangguk sebagai jawaban. Moodnya hancur kala melihat Gina dan Leo pagi tadi.


"Eh denger-denger lo berangkat bareng sama Gina ya? Kok bisa?" Tanya Dika kepo.


Galang menghela napasnya. "Dasar kepo!" Ketus Galang. Tanpa permisi, Galang beranjak berdiri dan pergi dari kantin. Ia tidak mau jika nanti keceplosan kalau dirinya dan Gina tidur satu kamar. Apalagi jika menyangkut Gilang. Bayi laki-laki yang sudah di anggap anak sendiri oleh Galang.


Dika menatap punggung Galang heran. Tidak biasanya Galang seperti ini. Aneh.


Sedangkan di meja lain. Gina, Alea, dan Tasya tengah mengobrol sambil makan jajanan kantin. Lebih tepatnya Gina tengah di introgasi oleh Alea.


"Gin, jawab aja kenapa sih! Lo kenapa bisa berangkat bareng Galang?" Tanya Alea untuk kesekian kalinya. Gadis itu memang sangat kepo. Padahal jika tahu alasannya juga tidak ada untungnya, pikir Gina.


Tasya menatap tak suka ke arah Alea. "Lea, udah kalik lo jangan paksa Gina jawab. Udah biarin aja sih. Lagian cuma berangkat bareng aja,"


Alea beralih menatap Tasya. "Heh! Cuma lo bilang? Berangkat bareng Galang itu merupakan salah satu mimpi gue tahu!"


"Lo suka sama Galang?" Tanya Gina.


Alea mengangguk membenarkan. "Siapa juga yang nggak suka sama cowok kayak Galang? Ganteng, Kaya, keren, pokoknya idaman banget deh! Gaya rambutnya aja keren!"


"Semua cowok yang lo pikir Ganteng aja lo sukain." Cibir Tasya. "Itu namanya lo mandang fisik!" Lanjutnya yang membuat Alea bungkam.


"Tapi berita Gina di bonceng Galang masuk ke grup Lambe SMA Mandala lho! Jadi hot niews! Hati-hati lo Gin. Takutnya ada fans fanatik Galang yang ngelabrak lo. Tapi selow aja sih kalo ada gue. Biar gue yang jambak-jambakin rambut mereka sampe botak nanti kalau emang ada yang berani ngelabrak lo. Kita kan sahabat. Iya nggak Sya?"


"Yoi. Gitu dong Lea. Jangan malah bikin Gina tersudut."

__ADS_1


__ADS_2