
Bel istirahat berbunyi nyaring di seantero SMA Mandala. Gina bersama dua temannya, Alea dan Tasya berjalan beriringan menuju kantin.
Suasana kantin sangat ramai seperti biasanya. Murid-murid SMA Mandala berdesak-desakan saat membeli makanan. Tak terkecuali Gina dkk. Setelah menunggu beberapa menit, Gina, Alea, dan Tasya duduk di bangku kosong yang ada di sana. Gina dan Tasya duduk berdampingan, sedangkan Alea duduk di hadapan mereka.
Gina menatap Galang datar yang tengah makan dan duduk paling pojok menghadapnya. Tanpa sengaja, tatapan mereka bertemu. Galang tersenyum dan melambai di sebrang sana. Melihat itu, Gina langsung membuang muka.
"Gaes, Galang ganteng ya?" Tanya Tasya meminta pendapat. Matanya menatap memuja tepat ke arah Galang.
"Iya Sya, pantes aja di juluki pangeran kelas." Jawab Alea. "Heran deh gue, emak dia ngidam apa coba dulu waktu hamil, kenapa Galang bisa ganteng gitu? Bibit unggul nih pasti." Lanjutnya.
Gina mendengus kesal mendengarnya. 'Ganteng apanya coba? Tengil gitu juga!' -Batin Gina.
Tasya dan Alea memang termasuk salah satu fans Galang. Akun sosial media Galang pun mereka berdua ikuti. Tak jarang ucapan pujian Tasya dan Alea yang tertuju untuk Galang selalu membuat Gina sebal sendiri.
•••
Bel pertanda jam istirahat berakhir sudah berbunyi 2 menit lalu. Saat ini, Galang dan Gina sudah duduk berdampingan dengan satu meja di depannya. Menunggu guru datang dengan rasa bosan yang melanda.
Gina mengeluarkan penggaris panjangnya dan menaruhnya tepat di tengah-tengah meja.
Galang melirik heran Gina. "Ngapain lo taruh penggaris di tengah-tengah?"
"Buat pembatas."
"Jangan sampe lewatin batesan!"
__ADS_1
"Hm."
"Awas lo kalo sampe ngelewatin!"
"Iya-iya. Galak amat sih!"
Gina melirik sinis ke arah Galang. "Ye... bodoamat! Emang gue pikirin!"
Galang menggeleng heran. "Kok gue heran ya sama lo. Kenapa ya lo tuh jutek, judes, terus galak juga sama gue? Padahal nih selihatannya gue, cewek-cewek pada sok cantik, sok anggun, dan sok lemah lembut kalo di depan gue. Jangan-jangan...--"
"Apa?!"
"Tuh kan. Dasar judes! Lo... nggak lesbi kan?"
Gina memukul lengan Galang keras. "Enak aja ya lo ngomong gitu! Ya enggak lah!" Bantah Gina.
"Sombong amat! Cuma ganteng doang juga."
"Berarti lo ngakuin kan kalau gue ini ganteng?" Tanya Galang sambil menaik turunkan alisnya.
"Enggak!" Gina cemberut. Perkataannya salah. Secara tidak langsung dia mengakui bahwa Galang itu ganteng. Harusnya tadi dia tak bilang seperti itu. Ah, Galang sekarang jadi tambah PD kan.
"Pak Umar kemana sih kok nggak masuk-masuk?" Gumam Gina sambil menatap ke luar kelas berharap guru itu cepat datang.
Galang menatap lekat wajah Gina. Cantik. Gina cantik natural di mata Galang. Sepertinya Gina hanya memakai bedak tipis. Tidak seperti cewek-cewek lain yang memakai bedak tebal dan lipstik yang menor. Dan Galang suka akan hal itu.
__ADS_1
Galang menatap tangan kiri Gina. Cowok itu meraih tangan Gina, dan menautkan jari jemarinya. Membuat Gina reflek menoleh.
"Ngapain lo?!" Tanya Gina ngegas sambil menatap Galang dan tangannya secara bergantian.
Galang tersenyum tipis. "Gandengan." Jawabnya singkat.
Gina mendengus. Entah karena apa, ia selalu ingin marah jika berhadapan dengan Galang.
"Lepas!" Gina berontak. Tetapi Galang tidak mau melepasnya. Tenaga Gina kalah kuat dengan Galang. Akhirnya gadis itu berhenti berontak dan pasrah tangan sucinya di gandeng oleh Galang.
"Lo tahu nggak--"
"Nggak!"
"Ish! Gue belum selesai ngomong! Ck. Merusak suasana lo!"
"Bodoamat."
Mereka diam beberapa saat. Galang mengelus telapak tangan Gina menggunakan jempol tangannya yang tengah menggandeng Gina. "Jalan sama gue mau nggak?" Tanya Galang mengajak.
"Nggak! Ogah, sana aja sama cewek lain!" Jawab Gina ketus.
"Lo mah susah di ajak PDKT." Galang melepaskan tangan Gina, ia kemudian beranjak berdiri dan pergi ke meja Dika.
Gina menatap nanar tangannya. Apa perkataannya salah? Apa dirinya terlalu judes pada Galang?
__ADS_1
Tapi sedetik kemudian gadis itu menggeleng dua kali, menghilangkan pikiran yang menurutnya aneh. Untuk apa Gina memikirkan Galang? Toh tidak ada manfaatnya.