
Bug
Galang melempar bantal sofa dan tepat mengenai wajah Dika membuat cowok itu cemberut. "Cakit Lalang..." Ucap Dika dengan nada seperti anak kecil.
Galang yang mendengar itu langsung menatap jijik Dika. "Idih! Najis amit-amit. Lagian lo ngomong sembarangan aja. Gue belum punya anak kalik!"
Mengembungkan pipinya, Dika lalu beranjak berdiri membuat Galang reflek ikut berdiri. "Mau kemana lo?!" Tanya Galang.
"Gue? Mau ngecek ada debay apa nggak di apart lo." Jawab Dika santai. Cowok itu pun melangkah. Tapi langsung di hadang Galang.
Galang merentangkan kedua tangannya mencegah agar Dika tidak pergi. "Nggak percaya lo sama gue?"
"Nggak! Gue nggak percaya. Lagian gue denger sendiri suara tangisan bayi di lantai dua. Bayi itu pasti ada di kamar kan Lang?"
Galang menggeleng kuat. "Nggak ada Bayi Dik di sini." Kilah Galang masih berusaha agar Dika berhenti curiga. Tetapi sepertinya usahanya sia-sia. Dika malah langsung menatap penuh curiga ke arah Galang. 'Lo tuh bodoh kalo urusan bohong Lang. Tapi gue harap ucapan lo benar adanya.'
"Kalau emang nggak ada debay di sini, harusnya lo nggak ngalangin gue dong?" Ujar Dika semakin membuat Galang rasanya ingin menyerah. Galang hanya takut jika nanti Dika tahu, Dika tidak percaya pada penjelasannya. Yang paling di hindari... Dika mengadu pada kedua orang tua Galang.
Damn it
Sekarang Galang tidak tahu harus menjawab apa. Mereka terdiam. Dika tersenyum samar. Senyum seperti mengejek di mata Galang.
Tapi beberapa detik setelahnya, suara azan maghrib terdengar dari ponsel Dika. Keduanya kompak mengalihkan tatapan. "Udah maghrib. Sholat dulu yuk!" Ajak Galang mengalihkan pembicaraan. Dika menghela napas. Ia tahu Galang sengaja mengajaknya agar berhenti kepo. Tapi yang namanya Dika ya tetap Dika. Si cowok kepo yang selalu ingin tahu masalah Galang. Karena... Masalah lo, masalah gue juga. Karena kita sahabat. Jadi jangan sungkan, dan jangan nutup-nutupin dari gue, kata Dika.
"Setelah sholat nanti, kalo lo nggak mau cerita, dan nantinya gue tahu sendiri emang bener ada debay di sini, gue bakal marah besar sama lo." Ucap Dika sebelum melangkah pergi. Memilih sholat di luar saja daripada di dalam apartemen Galang.
Galang mengacak rambutnya gusar. Mendengar tangisan Gilang kembali terdengar, Galang pun dengan cepat berlari kelantai 2. Tapi Galang tidak tahu kalau Dika belum benar-benar pergi. Cowok itu berjalan pelan agar tidak menimbulkan suara menuju kamar yang Galang masuki.
__ADS_1
Dan di sana, Dika melihat, Galang tengah menggendong seorang Bayi. Sedetik, matanya melotot tak percaya. 'Apa ini? Galang bohongin gue?! Apa jangan-jangan bener tebakan gue kalo itu anak Galang. Gue udah yakin sih kalo suara Bayi itu asalnya di kamar ini. Tapi kenapa lo nggak jujur sama gue Lang?! Gue kecewa sama lo.'
Dika melangkah mundur. Berbalik dan berjalan pelan kembali. 'Lo anggap gue apa Lang? Sampe masalah Bayi gini lo nggak cerita sama gue. Sebenernya siapa sih yang lo hamilin?'
•••
Gina menatap tak minat ke arah makanan di depannya. Selera makannya hilang karena Galang yang tak bisa di hubungi. Bukan. Bukan Galang yang membuat Gina sampai tak nafsu makan. Tapi Gilang. Gina merasa khawatir akan Bayi itu.
'Gilang lagi apa ya? Kira-kira Mba Mirna bisa nggak ya tidur sehari di apart Galang? Semoga aja bisa deh. Tapi... kalau nggak bisa gimana? Gue nggak bisa sepenuhnya percaya sama Galang. Tadi aja gue telfonin nomornya nggak aktif.'
"Gina." Mendengar ada yang memanggil namanya, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Gina pun menoleh ke pada sang Bunda yang tadi memanggil namanya.
"Hm?"
"Kok makanannya nggak di makan?" Tanya Bunda Gina.
"Iya kak, kenapa? Dari tadi melamun terus." Sambar Chiko.
"Haus kak?" Tanya Chiko, lagi.
Menghiraukan Chiko, Gina menatap Ayah dan Bundanya bergantian. 'Semoga alasan ini bisa berhasil biar gue ketemu Gilang.'
"Yah, Bun. Gina mau izin." Ujar Gina.
Dahi Ayah Gina mengerut. "Malam-malam gini mau kemana?" Terbesit nada tak suka di dalamnya.
"Gina mau ngambil barang-barang Gina di rumah Alea. Pupang sekolah Gina sebenernya mau langsung ambil, tapi tau-taunya ketiduran di ruang tamu." Jelas Gina. "Boleh nggak Yah? Bun? Soalnya semua skincare Gina di sana semua." Lanjutnya.
__ADS_1
Gina tidak sepenuhnya berbohong. Memang bukan di rumah Alea. Tapi barang-barang Gina termasuk skincarenya memang masih tertinggal di apartemen Galang.
"Iya boleh." Jawab Bunda Gina.
Tersenyum. Gina beralih menatap Ayahnya. "Yah?..."
Ayahnya mengangguk. "Boleh tapi jangan lama-lama."
"Siap!"
Di antar sang supir, Gina pergi menuju rumah Alea. Tentu itu bukan tujuan sebenarnya. Jika sudah di depan rumah Alea, seteleh kepergian supirnya, Gina akan memesan taksi online untuk sampai ke apartemen Galang.
•••
Galang kini tengah menunggu Dika di kamar sambil memberi Gilang susu. Untungnya, kata Mba Mirna, jika tidak salah, Gilang sudah berumur 6 bulanan. Memang sih Gilang harusnya di beri ASI. Tapi apalah daya. Setidaknya Gilang sudah berumur bulanan. Jadi tidak perlu sampai harus di bawa ke rumah sakit.
"Dika kok nggak muncul-muncup ya? Sholat dimana sih dia? Jauh banget apa emang nggak kau dateng? Bilang sendiri katanya gue di suruh jelasin. Eh, mau di jelasin malah orangnya kagak ada." Celoteh Galang. "Iya kan Gil? Om kamu tuh gimana sih?" Tanya Galang pada Gilang yang jelas-jelas tidak akan mendapat jawaban. Gilang menatap tak paham ke arah Galang. Gemas, Galang menyubit pelan pipi Gilang.
"Orang tua kandung kamu tega banget ya? Anak selucu kamu malah di buang. Nggak mikir gimana kalo seandainya dia sendiri yang di perlakukan gini sama orang tuanya." Galang menghela napas. Yang sebelumnya menunduk menatap Gilang, kini sedikit mendongak menatap pintu kamar. Lagi-lagi merasa heran dimana sebenarnya Dika berada. Teringat kata Dika yang mengatakan bahwa sahabatnya itu ke sini karena ingin curhat tentang Ibunya, Galang menjadi sedikit khawatir. 'Jangan sampe Dika ngelakuin hal yang membahayakan.'
Galang mengambil ponselnya yang ada di atas kasur. "Lah ni batre pake lowbet segala lagi." Decak Galang. Karena kesal, cowok itu melempar ponselnya sembarang arah. Untungnya ponselnya jatuh di atas sofa. Tapi sebenarnya jika jatuh pun tak apa. Galang bisa minta pada Papanya nanti untuk membeli yang baru. Orang kaya mah bebas!
Ting nong
Ting nong
Mendengar suara bel berbunyi, Galang berdiri tanpa melepas Gilang. "Itu pasti Dika." Katanya, lalu berjalan menuju lantai bawah.
__ADS_1
Galang membuka pintu apartemennya. "Lo di tung-- kok elo sih yang dateng?"
"Lah emang lo kira yang dateng siapa?"