
HAPPY READING💕
Galang menatap Gina dan Aldo dengan tatapan yang sulit di artikan. Sebelumnya Galang ingin mengajak Gina untuk pulang bersama. Tetapi sepertinya sudah ada yang lebih dulu mengajak gadis cantik itu.
Dengan langkah cepatnya, Galang berjalan mendekati Gina dan Aldo yang tengah berjalan menuju parkiran sekolah.
Galang menghadang jalan Gina dengan berdiri tepat di depan gadis itu. Mau tidak mau Gina dan Aldo pun berhenti berjalan dan menatap Galang heran.
"Oh, jadi ini, kelakuan lo?" Kata Galang.
Gina menggeleng. "Eng--enggak!" Entahlah, Gina merasa seperti pacar yang tertangkap basah tengah berselingkuh.
Dahi Aldo berkerut. Tapi tidak ingin bersuara.
"Gue baru tahu. Katanya trauma? Mana? Lo traumanya cuma sama gue ya? Kemaren-kemaren sama Leo, sekarang sama Aldo." Sinis Galang membuat Gina menggeleng lagi.
"Nggak Lang! Bukan gitu!" Bantah Gina.
"Udahlah." Galang mengibaskan tangannya. "Sana sini mau. Dasar cewek gatel."
Deg
Perkataan Galang berhasil membuat Gina merasakan sesak di dadanya. Tanpa memperdulikan Gina dan Aldo, Galang berjalan pergi tanpa pamit.
'Maksud Galang apa ya bilang gitu ke Gina?' -Batin Aldo.
Setelah kepergian Galang, Aldo memegang bahu gadis itu. "Lo nggakpapa?" Tanya Aldo.
__ADS_1
Gina melepaskan tangan Aldo yang ada di bahunya. "Nggakpapa." Jawab Gina.
"Yaudah yuk, gue antar pulang."
Gina hanya mengangguk. Keduanya pun masuk ke dalam mobil Aldo. Aldo menjalankan mobilnya, membelah jalanan sore yang cukup ramai.
Tidak ada perbincangan. Keduanya diam. Hanya ada suara bising kendaraan, dan lagu yang sengaja Aldo putar.
Aldo bingung mau membicarakan apa. Sebenarnya, Aldo ingin bertanya tentang kejadian tadi. Tapi ia urungkan karena itu menyangkut privasi, dan takut jika Gina merasa tersinggung. Sedangkan Gina masih memikirkan perkataan Galang tadi. "Sana sini mau. Dasar cewek gatel."
•••
Gina benar-benar heran. Sedari pulang sekolah Galang tidak menelfon atau mengechatnya. Biasanya cowok itu akan selalu memberi kabar Gilang. Entah itu mengeluh karena Gilang rewel, dan sebagainya. Entahlah, Gina tidak tahu sebenarnya dia mengkhawatirkan apa. Rasanya berbeda jika Galang tidak mengechatnya.
"Kenapa gue bisa kepikiran Galang terus sih?! Kenapa juga gue malah ngerasa bersalah pulang bareng Aldo, padahal gue bukan siapa-siapanya Galang?"
Gina mengacak rambutnya. Dia pun beranjak. "Nonton TV bentar deh." Katanya.
Menyalakan TV, dan menonton kartun yang memperlihatkan 2 bocah gundul sedang berlari menangkap katak.
5 menit telah berlalu. Tapi TV di depannya seakan tidak berpengaruh untuk Gina melupakan Galang.
Pilihannya cuma dua. Samperin, dan jelasin. Atau nonton TV dengan raga di sini tapi pikiran ke mana-mana, Pikir Gina.
Menghela napas, Gina kemudian beranjak dan memakai jaketnya. Gina akhirnya memilih untuk pergi ke apartemen Galang saja. Sekalian bertemu Gilang.
Ting nong
__ADS_1
Ting nong
Suara Gina menekan bel apartemen Galang. Tak sabar, Gina menekan berulang-ulang.
"Sabar, sabar!" Suara seseorang dari dalam membuat Gina tanpa sadar tersenyum.
Galang membuka pintu dan menatap Gina sedikit terkejut. "Gi--Gina lo ngapain ke sini?"
Gina langsung memeluk Galang membuat Galang menegang.
Galang pun membalas pelukan Gina, tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Kapan lagi kan? Seorang Gina yang dikenalnya judes dan galak sekarang memeluknya.
"Sorry. Sorry Lang kalau lo marah gue di anterin sama Aldo. Gue nggak ada apa-apa kok sama Aldo." Kata Gina dalam dekapan Galang. "Please jangan berubah..." Kalimat terkhir Gina terdengar seperti rengekan di telinga Galang. Hal itu berhasil membuat senyum Galang terukir.
"Emang kenapa lo minta buat nggak berubah? Berubah gimana maksudnya?"
"Jangan berubah jadi dingin kayak cowok-cowok yang udah pernah gue tolak."
Galang tersenyum. "Enggak kok. Sorry juga karena gue bersikap seolah-olah pacar lo tadi."
Gina mengangguk. Kemudian melepaskan pelukannya perlahan. "Jangan bilang gue cewek gatel lagi. Gue deket sama Aldo karena udah tahu dia itu orang baik. Gue kenal dia dari SMP karena dia ketos juga waktu itu.
"Kalau sama Leo? Kok lo keliatan suka sama tu cowok?"
"Gue suka karena suaranya bagus. Kak Leo kan ketua ekskul musik."
Galang mengangguk-angguk paham. "Masuk yuk! Gilang kangen lo tuh!" Kata Galang mempersilahkan.
__ADS_1
Dengan senang hati Gina masuk ke dalam apartemen Galang untuk menemui Gilang. Dia sudah merasa lega sekarang. Apa hati gue udah terima Galang karena dia baik? Kenapa gue takut Galang berubah? Pikir Gina. Gadis itu lalu menghela napas. Entah kenapa ia berpikiran aneh seperti itu.
Sedangkan Galang berjalan di belakang Gina. Senyumnya terukir, ketampanannya terlihat bertambah berkali-lipat. "Mimpi apa gue semalem bisa pelukan sama Gina." Gumam Galang pelan. "Nggak mau mandi ah."