Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Kafi Pengganggu


__ADS_3

Gina menundukkan kepala. Menghindari tatapan berharap Galang. Senyum Galang pun perlahan pudar.


"Kenapa diem? Lo belum siap ya gue tanya gitu?" Tanya Galang. Tangannya terulur memegang dagu Gina dan menariknya pelan agar menghadap ke arahnya.


"I...ya. Gue masih belum siap buka hati Lang." Jawab Gina sambil melepaskan tangan Galang yang ada di dagunya.


Galang menghela napas. "Seinget gue, waktu itu lo bilang, masa lalu buat lo trauma? Makanya lo selalu judes ke cowok. Kalau boleh tahu, trauma apa?"


Gina diam berfikir. 'Apa gue harus cerita ke Galang? Tapi...'


"Kalau lo nggak mau cerita nggakpapa. It's oke, gue nggak maksa kok. Itu privasi."


Gina menggeleng dua kali. "Dulu gue lama pacaran sama seseorang. Dia baik, perhatian, dan peka, makanya gue percaya. Waktu itu gue sama dia ada di rumah. Cuma berdua aja karena Mamanya lagi pergi ke pasar sama ART di rumahnya," Gina menarik napas, dan menghembuskannya lagi. "Gue hampir di lecehin sama dia."


"A--apa? Di lecehin?"


"Iya. Untung aja gue bisa kabur. Setelah kejadian itu gue takut kalau deket-deket sama cowok. Gue langsung putusin dia besoknya. Tapi dia yang nggak terima di putusin malah mukul gue--"


"Lo di pukul?!" Galang tersulut emosi mendengarnya. Tangannya terkepal. Banci sekali mantan pacar Gina sampai memukul Gina.


"Untung ada Chiko yang nolongin. Setelah itu, gue ganti HP, dan ganti nomor juga biar dia nggak bisa ngehubungin gue. Bahkan Bonyok gue yang khawatir sampai bawa gue ke psikiater. Takut-takut gue ada gangguan mental karena setelah itu gue jadi cewek pendiem banget, dan terakhir... gue pindah rumah." Jelas Gina panjang lebar.


"Mantan pacar lo banci! Beraninya main tangan sama perempuan! Gue nggak terima lo di giniin! Kenapa nggak lapor polisi aja?!" Tanya Galang ngegas.


"Gue nggak mau ngelibatin polisi. Biarin aja gini. Hmm gue terlihat seperti pengecut ya?"


"Kenapa lo tanya gitu?"


"Ya... kan gue kabur dari masalah."


"Lo nggak kabur. Masalah lo sama dia udah selesai. Lo kan udah putusin dia. Mau dia terima atau nggak itu urusan dia, bukan urusan lo."


Gina mengangguk. "Makasih." Ucap Gina tulus.


"Sama-sama." Balas Galang. "Jadi... udah siap buka hati buat gue belum?"


•••

__ADS_1


Dika dan Kafi memasuki UKS. Bel masuk sudah berbunyi sekitar 15 menit lalu. Dua cowok itu baru saja menipu Pak guru Ihwan.


"Keren kan ekting gue tadi?" Tanya Dika.


Kafi mengangguk setuju. "Iya. Keren. Tapi biasa aja sih,"


Mendengar jawaban itu, lantas Dika langsung menonyor Kafi membuat cowok itu meringis. "Keren sama biasa beda bodoh!" Ujar Dika.


Kafi menggerucutkan bibirnya. "Iya-iya. Eh, btw gue kok nggak lihat Galang ya? Tu bocah kemana dah? Katanya mau ngambil uang di kelas. Tapi malah nggak balik-balik sampe jam masuk." Ucap Kafi.


"Iya ya. Gue juga nggak tahu Galang di mana. Ah udahlah nggak penting! Sekarang gue mau rebahan dulu." Dika merebahkan badannya di atas kasur UKS. Perlahan cowok itu memejamkan matanya.


"Gue juga mau rebahan ah," Kafi berjalan menuju kasur paling pojok. Tapi suara seseorang yang terdengar sedang mengobrol membuatnya mengurungkan niat untuk membuka tirai.


"Jadi... udah siap buka hati buat gue belum?"


'Eh itu bukannya suara Galang ya?' Sama siapa ya dia? Pake tanya udah siap buka hati apa belum lagi! Apa sama Gina? Kan kata Dika Galang sukannya sama Gina.' -Batin Kafi.


Dengan segala ke kepoannya, tanpa pikir panjang cowok itu langsung membuka tirai membuat dua orang yang tak terlihat karena tertutup tirai putih itu terlonjak kaget. Galang yang tadinya duduk di samping Gina sampai reflek berdiri.


Kafi cengegesan di tempatnya. Ia tersenyum kikuk ke arah Gina. "Ehehe sorry Lang, Gin. Gue tadinya mau tidur di pojokan. Denger ada suara orang ngobrol dan gue kenal itu suara lo, ya gue kepo." Jelas Kafi.


Galang kembali duduk di atas kasur, di samping Gina. "Merusak suasana lo! Dasar pengganggu." Cibir Galang.


Kafi melirik tak suka ke arah Galang. "Lagian lo juga ngapain sih mojok? Gue sama Dika nungguin lo tahu! Katanya cuma sebentar mau ngambil uang, eh malah sampe bel bunyi lo nggak balik-balik!"


Dahi Gina berkerut. Apa ia tidak salah dengar? "Apa lo bilang? Bel bunyi? Kapan?" Tanya Gina. Perasaan Gina tidak mendengar suara bel. Apa karena keasyikan bicara dengan Galang?


"Udah dari lama kalik Gin. Tadi juga Pak Ihwan nanyain kalian berdua sih." Jawab Kafi.


"Terus lo jawab apa?" Sambar Galang.


Kafi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Bukan gue yang jawab sih. Tapi Dika. Dika jawab lo nganterin Gina ke UKS karena Gina sakit."


Galang mengangguk-angguk. "Hmm bagus deh."


"Terus kita bolos gitu?" Tanya Gina yang mendapat jawaban anggukan dari Galang dan Kafi.

__ADS_1


Gina menepuk jidat. "Harusnya jangan pake alesan itu!"


"Ett kalau protes sama si Dika aja noh. Gue mau tidur. Sia-sia nanti kalau gue bolos tapi nggak tidur."


"Yaudah sono!" Balas Galang.


"Oke." Kafi menutup tirai putih itu kembali, dan memilih merebahkan tubuhnya di samping kasur dimana Galang dan Gina duduki.


Gina menatap Galang dengan bibir melengkung ke bawah. Merasa gemas, Galang mencubit kedua pipi Gina. "Ih sakit!" Keluh Gina.


Galang tersenyum. "Salah siapa gemesin?"


Kruyuk kruyuk~


Deg


'Sialan nih perut.'


"Hahahah," tawa Galang pecah mendengar bunyi perut Gina. Gina cemberut menatap Galang dengan tangan yang bersedekap dada.


"Ih Galang...!"


Tawa Galang berhenti. Cowok itu kini tersenyum menatap Gina. "Apa sayang? Kenapa hm?"


"Jangan ketawa!"


"Ahahaha iya-iya. Laper ya?"


Gina mengangguk kuat. "Laper banget."


"Gue juga laper. Yaudah yuk ke kantin!" Ajak Galang.


"Yuk!!" Balas Gina dengan semangat. Kemudian Galang dan Gina pun pergi dari UKS menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang lapar.


•••


*D**ouble up deh biar nggak ngegantung*...

__ADS_1


__ADS_2