
Suara deruman motor berhasil membuat Galang dan Gina menoleh ke arah sumber suara. Terlihat 2 pengendara motor turun dari motor sport mereka.
Galang dan Gina pun beranjak berdiri dan langsung menghampiri. Berjalan menuju gerbang.
"Dik, bukain cepet!" Desak Galang tidak sabaran.
Dika berdecak. "Sabar atuh," Dika mengeluarkan kunci dari saku celananya. Di bukanya gembok yang menempel pada gerbang.
Beberapa detik setelahnya, gerbang pun berhasil di buka. Gina bernapas lega. "Gue pulangnya naik apa?" Tanya Gina membuat Galang menoleh.
"Gue bonceng. Pake motornya si Dika gimana? Terus Dika di bonceng Kafi deh." Jawab Galang.
Gina mengangguk. "Iya."
Galang dan Gina pun berjalan keluar gerbang. Dika langsung menggembok gerbang sekolah itu lagi sesuai permintaan Pak Satpam. Sebelum datang ke sekolah, Dika dan Kagi pergi ke rumah Pak Satpam yang biasa menjaga gerbang untuk meminjam kunci. Untugnya Pak Satpam meminjamkan kunci itu.
"Gin, lo nggak di apa-apain sama si Galang kan?" Kafi bertanya dengan wajah menyebalkannya menurut Galang. Cowok itu duduk di atas motornya.
Gina menggeleng. "Enggak." Jawabnya.
"Syukur deh. Siapa tahu ye kan Galang khilap."
__ADS_1
"Emang lo pikir gue cowok apaan? Udah ah, yuk Gin! Orang tua lo pasti nyariin."
Galang membonceng Gina menggunakan motor Dika. Keduanya sama-sama diam. Gina masih memikirkan tentang pertanyaannya yang sebelumnya belum di jawab Galang. Ralat. Galang memang tidak mau menjawabnya. 'Kira-kira Galang punya masalah apa ya?' Gina membatin.
Galang melirik sekilas Gina dari kaca spion. "Mikirin apa?"
"Nggak mikirin apa-apa."
"Nanti kalo udah sampe rumah, langsung mandi terus makan, tidur."
"Iya Galang."
Galang tersenyum tanpa sepengetahuan Gina. Perlahan-lahan ia sudah membuat Gina menjadi tidak galak seperti dulu. Ia yakin, Gina nanti pasti akan menyukainya. Tunggu saja waktunya.
Gina merutuki kebodohannya karena telat datang ke sekolah, di tambah ia baru ingat jika PRnya belum selesai di kerjakan. Apalagi itu adalah PR dari Bu Tresna. Si guru galak berbadan gempal. Ah rasanya Gina ingin menghilang saja sekarang.
"Dua menit lagi bel masuk. Mana sempat gue nyalin punya Alea atau Tasya." Gumam Gina sambil berjalan menuju kelas.
Gina duduk di bangkunya dengan perasaan tak tenang. Tak lama setelahnya bel pertanda pelajaran akan segera di mulai pun berbunyi.
Bu Tresna berjalan memasuki kelas dengan wajah angkuhnya. "Selamat pagi semuanya!"
__ADS_1
"PAGI BU!"
"Kumpulkan tugas kalian di meja ini sekarang!" Bu Tresna menepuk meja guru yang ada di depan kelas. Hal itu semakin membuat Gina gugup.
Tunggu-tunggu... semua teman-temannya mengumpulkan tugas. Kenapa hari ini hanya dirinya saja yang tidak? Sepertinya dewi fortuna sedang tak memihak pada Gina.
"Regina Valeria!" Panggil Bu Tresna.
Dengan takut-takut Gina menoleh menatap Bu Tresna yang kini tengah menatap tajam ke arahnya. "I--iya Bu?"
"Mana tugas kamu?!"
"I--itu Bu. Tugas saya belum selesai,"
Gina meringis melihat mata Bu Tresna yang melotot.
"Keluar dan bersihkan toilet perempuan di lantai satu sekarang!" Seru Bu Tresna membuat Gina terlonjak.
"Iya Bu," Gina beranjak berdiri, "permisi!" Lanjutnya sambil berjalan keluar kelas. Kedua teman dekatnya, Alea dan Tasya menggeleng heran. Tak biasanya Gina seperti itu.
Jika kalian tanya dimana Galang, Gina tak tau. Cowok itu belum berangkat.
__ADS_1
"Nasib banget pagi-pagi di suruh bersihin toilet," ucap Gina. Gadis itu terus berceloteh sambil berjalan menuju toilet perempuan di lantai 1 sesuai perintah Bu Tresna. "Masa baru nggak ngerjain tugas sekali aja langsung di hukum sih! Mana cuma gue yang di hukum lagi! Kalo gue jadi guru, nggak akan gue kasih PR deh murid-murid gue biar mereka nggak ada tekanan batin!"
Tanpa Gina sadari, seorang cowok yang mengikutinya tersenyum geli mendengar celotehan Gina.