Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Kesayangannya Galang


__ADS_3

Galang terus menatap ke arah pintu masuk kelasnya dengan serius. Ia sedang menunggu seseorang yang entah kenapa dia belum datang juga. Padahal 5 menit lagi bel masuk berbunyi.


"Gin, lo kemanasih?" gumamnya, "jangan bikin gue khawatir dong. Cukup kemarin aja,"


Ya, Galang menunggu Gina. Serasa ada yang kurang jika Gina tidak duduk di sampingnya.


Dika yang berdiri di sampingnya menatap heran ke arah Galang. "Kenapa lo liatin pintu terus?" Tanya Dika pada Galang membuat cowok itu menoleh.


"Gina kok belum dateng juga ya?" Bukannya menjawab, Galang malah balik bertanya.


Dika menggidikkan bahunya. "Pinjem pulpen dong!"


Galang langsung mengambil pulpen yang ada di atas meja, dan memberikannya pada Dika. "Nih!"


"Oke," Dika menerima pulpen itu, "soal Gina, kenapa lo nggak tanya aja tuh sama Alea atau Tasya. Dia kan sohibnya Gina,"


"O iya ya. Kok nggak kepikiran,"


Dika kembali ke tempatnya. Sedangkan Galang kini berjalan ke tempat duduk Alea dan Tasya yang kebetulan 1 meja.


"Gina berangkat nggak?" Tanya Galang to the poin.


"Gina sakit, Lang. Jadi nggak berangkat," jawab Alea cepat. Di sebelahnya, Tasya menyikut lengan Alea. "Apa sih lo,"


"Thanks," balas Galang yang kemudian kembali ke tempat duduknya.


Tasya menatap tak suka ke arah Alea. "Giliran Galang aja gercep. Kemarin si Adit jelas-jelas tanya ke elo tapi lo malah paksa gue buat jawab. Dasar kurbel,"


"Gue nggak kurbel juga kalik Sya. Lagian kan lo tahu kebiasaan gue hehehe, gercep kalo cogan," Alea tersenyum dengan wajah tanpa dosanya.


Kurbel \= Kurang belaian


•••


Pelajaran hari benar-benar tidak ada yang masuk ke otak Galang. Galang tak fokus belajar karena ingin tahu kondisi Gina. Untungnya, tidak ada mata pelajaran Bu Tresna hari ini. Jika ada mungkin cowok itu sudah di hukum.


Suara bel pulang sekolah yang berbunyi membuat Galang bernapas lega. Dengan cepat, Galang membereskan buku-bukunya yang ada di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas.


Cowok itu bahkan menerobos siswa-siswi yang berjalan di depannya tanpa permisi membuat mereka mengumpat. Galang tidak perduli itu. Yang terpenting sekarang adalah adalah Gina.


Galang bahkan menjalankan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata agar lebih cepat sampai ke rumah Gina.

__ADS_1


Seampainya di rumah Gina...


Tok tok tok


Galang mengetuk pintu utama rumah Gina. Cowok itu menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 16.15


Satu tangan Galang memegang plastik yang berisi buah-buahan yang baru saja cowok itu beli di super market.


Tak lama pintu terbuka. Nampaklah Riri. "Eh Galang, silahkan masuk Nak!" Kata Riri mempersilahkan dengan senyum rahamnya.


Galang membalas senyuman Riri. Ia pun masuk ke dalam rumah Gina.


"Kamu pasti mau jenguk Gina ya?"


"Iya Tante. Ini saya bawa buah," Galang menyodorkan buah yang di bawanya pada Riri. Riri langsung menerimanya.


"Eh kok repot-repot sih pake bawa buah segala,"


"Nggak repot kok Tan,"


"Gina ada di dalam kamarnya. Kalau mau masuk, masuk aja. Tapi pintunya jangan di tutup ya,"


"Iya Tante siap!"


Galang menghela napas. "Kenapa kamarnya di lantai tiga ya? Jauh amat. Nggak capek apa," ucapnya sambil menaiki satu persatu anak tangga.


Akhirnya pun Galang sampai di depan pintu kamar Gina. Walaupun sudah di izinkan Bundanya Gina ~ Riri untuk langsung masuk saja, tapi Galang rasa itu tidak sopan karena ia tidak tau apa yang sedang Gina lakukan di dalam. Galang pun mengetuk pintu kamar Gina.


"Masuk!" Seru Gina dari dalam kamar.


Galang tersenyum tipis mendengar suara Gina. Cowok itu langsung masuk. Tak lupa untuk tidak menutup pintunya.


Gina menatap kaget Galang. "Lo ngapain ke sini? Gue kira tadi Chiko," tanya Gina.


"Gue mau jenguk lo lah. Apalagi," jawab Galang.


Gina hanya mengangguk. Sebenarnya ia merasa malas jika bertemu Galang sekarang. "Duduk sini!" Perintah Gina sambil menepuk-nepuk bibir kasur. Galang langsung duduk di sana.


Gina yang sebelumnya berbaring kini merubah posisinya jadi duduk.


"Jangan pikirin kejadian kemarin," ucap Galang.

__ADS_1


Gina menghela napas. "Gimana nggak kepikiran Lang? Orang gue di bawa sama banyak om-om. Pasti mereka ada rencana mau perkosa gue,"


"Gue... juga mikir gitu sih. Tapi dengan lo yang terus pikirin itu malah bikin lo jadi drop Gin,"


Gina menggidikkan bahunya acuh. "Gue curiga ada yang sengaja nyuruh mereka,"


Kemarin Gina di culik lagi. Hampir seperti kejadian di episode 32. Tapi bedanya, Gina langsung di tarik dan di paksa masuk mobil yang hampir penuh karena banyak lelaki berbadan kekar yang terlihat sangar. Dan untungnya Galang menolongnya lagi. Waktu itu Galang baru saja membeli susu untuk Gilang. Karena melihat Gina di perlakukan kasar, tanpa pikir panjang Galang langsung mengikuti mobil itu.


"Maksudnya?"


"Ya lo pikir logika dong Lang. Masa iya kejadian kayak gini gue alami dua kalik? Ya gue tahu, modelan badan gede kayak preman gitu orang jahat. Tapi mereka kenapa cuma culik gue gitu. Padahal di sana ada dua cewek lagi loh yang posisinya deket sama gue. Gue teriak tapi mereka malah asyik main Hape,"


Gina jadi kesal jika ingat itu. Ada orang kesusahan bukannya di bantu malah sibuk dengan dunianya sendiri.


Galang mengangguk paham. "Masuk akal sih. Tapi siapa?"


"Ya gue nggak tau lah!"


Gina memalingkan wajahnya dengan tangan yang bersedekap dada. Jangan lupakan pipi gadis itu mengembung menandakan bahwa ia sedang marah.


Galang yang melihat itu tersenyum dan langsung mencubit gemas pipi Gina. "Gemes deh,"


"Ih Galang!"


Gina menyentak kasar tangan Galang membuat Galang malah terkekeh. Kemudian, tangan Galang terangkat mengelus kepala Gina, membuat Gina terpaku karena perlakuan cowok itu. Elusan Galang membuat Gina merasa nyaman. "Kesayangannya Galang jangan sakit lagi ya," ucapnya tulus. Tanpa sadar membuat Gina baper.


"Galang..."


Galang terkekeh lagi setelah mendengar rengekan Gina. Lalu ia menurunkan tangannya. "Eh gue mau cerita nih. Semalam nyokap gue tahu tentang Gilang,"


"Oh ya? Terus,"


"Dia awalnya salah paham sih. Tapi untungnya Dika bisa ngejelasin detail. Jadi ya... nyokap udah ngertiin,"


"Syukur deh kalo gitu,"


Setelah itu mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai...


"Gin,"


"Iya?"

__ADS_1


"Will you be my girlfriend?"


__ADS_2