Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Apa Ini Cinta?


__ADS_3

Masih dalam posisi sama, yaitu Galang memeluk Gina. Gina belum membalas pelukan Galang. Tapi Gina akui, di dekap Galang seperti ini rasanya nyaman. Di peluk Galang seperti ini rasa takut Gina perlahan menghilang.


Galang melepas pelukannya dengan pelan. Gina merasa sedikit tidak rela sebenarnya.


Mendengar Gina bertanya Caranya? Membuat Galang berfikir keras. Dan itu membuahkan hasil. Galang ingat kalau dia membawa ponsel. Cowok itu merogoh saku celananya. Benda pipih itu langsung diambil dari dalam sakunya.


"Gue telfon Dika biar dia bantu kita." Jawab Galang membuat senyum Gina terukir manis.


Gina menepuk jidatnya. "Oh iya ya. Kok gue nggak kepikiran." Akibat terlalu gelisah, cemas, dan takut. Gina jadi lupa akan cara satu itu.


Galang mengecek baterai ponselnya. Untung saja baterai ponselnya masih terbilang banyak. "Kita ke pos satpam aja. Di sini angker." Ucap Galang dengan nada pelan.


Akhirnya kedua sejoli itu pun berjalan menuju pos satpam. Karena merasa takut, sadar tidak sadar Gina memegang erat pergelangan tangan Galang. Gilang hanya tersenyum tipis menanggapinya.


Nggakpa-pa deh ke kunci juga. Yang penting sama Gina, gue rela! Galang membatin dengan jantung yang berdetak tak normal. Detak jantungnya berdetak lebih cepat saat ini.


"Lang, takut..." cicit Gina. Gadis itu semakin merapatkan tubuhnya dengan galang. Suasana sekolah senja itu memang mencekam. Langit nampak sudah berubah warna. Suara lantunan adzan maghrib pun terdengar.


Galang jadi teringat akan cerita Maminya yang mengatakan bahwa jika setan berkeliaran jam segini. Di waktu senja menjelang malam. Sebenarnya Galang tak seberani itu. Tapi karena ke-gengsiannya, Galang beraikap calm down di hadapan Gina. Tidak lucu jika Galang tiba-tiba memeluk Gina karena rasa takutnya itu.


Ponsel Galang menjadi alat pembantu mereka dalam melihat jalan. Ada beberapa kelas yang lampunya menyala terang. Ada juga yang lampunya mati. Karena itu pencahayaan pun kurang karena rembulan juga terhalang bangunan tinggi itu. Sesampainya di pos satpam, Gina bernafas lega. Untungnya, di pos satpam masih ada lampu yang menerangi.


"Lang, buruan telfon Dika gih!" Desak Gina karena sudah merasa tak betah masih berada di sekolah.


Galang mengangguk. "Oke." Jawabnya.


Galang segera mencari nomor kontak Dika. Berharap cowok yang ia anggap sahabat itu langsung menjawabnya.


Karena tak di angkat, Galang kembali menelfon Dika kembali. Galang menghela napasnya. Sambungan telefon tersambung, ponsel Dika berdering. Tapi entah kenapa Dika tidak mengangkatnya.


Dika lagi boker kalik ya? Lama banget! Bikin jengkel aja!


"Lang... kok lama?" Tanya Gina.


"Bentar ya, Dika belum jawab telfon gue. Berdoa aja biar tu anak kagak sibuk." Jawab Galang apa adanya.


Gina hanya mengangguk menanggapinya.

__ADS_1


"Halo?"


Mendengar suara Dika dari sebrang membuat ujung bibir Galang tertarik. Cowok itu tersenyum senang. "Dik, bantu gue keluar dari sekolah."


"Hah? Sekolah? Maksud lo?"


Oke. Jika berbicara dengan Dika memang harus serinci itu. "Gue sama Gina waktu mau pulang ternyata gerbang udah di gembok. Lah, lo tahu sendirikan gerbang depan tingginya nauzubillah? Kalo tembok di belakang juga ada kaca sama kawatnya. Jadi..."


"Jadi lo nelfon buat minta bantuan gue gitu?"


"Nah pinter. Ho'oh Dik. Bantu gue yak! Lo kan sahabat gue. Orang baik yang saat ini gue harepin pertolongannya."


"Oke, oke. Tunggu ya, baek-baek lo di sono! Jangan apa-apain Gina!"


"Ya. Gue juga tahu batesan kalik! Yaudah Dik, cepet! Gak pake lama! Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah sambungan telefon terputus, perhatian Galang langsung teralihkan menatap Gina. Gadis itu tengah menatap kosong ke arah meja sambil sesekali tangannya di gosok-gosokkan.


Apa Gina kedinginan?, pikir Galang. Perlahan, Galang mendekati Gina yang tengah duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


Gina mengangguk.


"Karena gue nggak bawa jaket..." Galang menggantungkan ucapannya sambil menarik kedua tangan Gina. Gina sontak terkejut akan tindakan Galang. Tak lama dari itu, Galang meniup-niup kedua telapak tangan Gina. Berusaha agar gadis itu merasa hangat. Ya walaupun tidak berpengaruh besar.


"Hangat?"


Gina mengangguk lagi. Entahlah, lidahnya terasa kelu dan kaku saat hendak menjawabnya. Suaranya tak keluar, seakan tercekat di tenggorokan saja.


Galang tersenyum. "Tunggu Dika datang. Semoga aja nggak akan lama." Kata Galang memberi tahu.


Lagi, Gina hanya mengangguk.


Galang menangkup kedua telapak tangan Gina dengan tangannya yang berukuran lebih besar dari tangan Gina. Cowok itu bergantian mengusap, meniup, menempelkannya pada pipinya sendiri dan sesekali menempelkan tangan Gina pada pipi atau leher gadis itu. Tujuannya hanya satu, yaitu hanya ingin membuat Gina merasakan kehangatan dari tubuhnya.


"Kalau masih dingin bilang,"

__ADS_1


Alis Gina tertaut mendengarnya. "Emang kenapa?"


"Biar gue langsung peluk lo. Karena kesehatan tubuh lo itu segalanya. Gue rela kedinginan asal lo tetap hangat."


"Gin..."


"Hm?"


"Di lihat dari arah manapun, lo tetap cantik ya."


Blush!


Pipi Gina merah merona seperti kepiting rebus. Gina merasakan seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya. Ini sama seperti saat mantan pacarnya menggombalinya dulu. Apa ini cinta?


Gadis itu langsung menepis kata cinta yang tanpa sengaja terpikir begitu saja di benaknya.


Cinta. Kata itu sangat di benci Gina. Karena Gina berpikiran, bahwa cinta itu hanya akan membuat orang menjadi lemah. Seperti dirinya dulu yang terpuruk, dan merasa tidak bisa menjalani hari tanpa sang mantan. Padahal, mantannya saja tidak memberinya makan. Dan hal yang membuatnya masih hidup adalah makan dan minum. Tidak ada sambungannya dengan mantan. Walaupun 1 orang penyemangat hidup hilang. Tapi kata-kata tidak bisa hidup tanpamu adalah kata-kata yang membuat Gina bergidik. Gina merasa bodoh jika mengingat itu.


Galang tersenyum melihat rona merah di pipi Gina. Sepertinya membuat Gina blushing akan menjadi hobi barunya. Karena Galang merasa senang dan bahagia akan hal itu.


"Lo pernah denger nggak, kata-kata orang, yang bilang hidup akan indah pada waktunya?" Pertanyaan Galang membuat Gina bingung. Tapi gadis itu tetap mengangguk. "Pernah." Jawabnya.


"Lo... percaya?"


"Iya."


"Kalau gue sih enggak."


"Emang kenapa? Bukannya hidup lo indah? Lo kan terlahir dari keluarga kaya, tampang lumayan, dan punya sahabat juga kan?"


Galang menghela napas. "Tapi itu nggak menjamin kebahagiaan gue, Gin." Ia menunduk. Kayaknya nggak sepantasnya gue cerita ini ke Gina. Dia kan bukan siapa-siapa gue. Batin Galang.


Gina mengerutkan dahi. Semakin bingung di buatnya. Ia meneguk ludah. Apa ia harus bertanya?


"Lo... punya masalah?" Tanya Gina, "Kalau boleh tahu, masalah apa? Lo bisa kok cerita ke gue."


Entahlah. Gina tidak tahu kenapa bisa ia bertanya seperti itu. Biasanya ia akan tidak peduli, dan cuek pada kehidupan orang lain selain orang yang dia anggap penting di hidupnya. Seperti saudara atau sahabat. Tapi kenapa hal menyangkut Galang ini dirinya merasa kepo. Pertanyaan itu menyetus begitu saja.

__ADS_1


Galang diam. Keadaan hening beberapa saat. Sampai...


__ADS_2