Pangeran Kelas

Pangeran Kelas
Ketos Rese


__ADS_3

Galang dan Gina berjalan beriringan menuju kantin. Galang tersenyum kecil melihat Gina yang berjalan cepat. Ia pun ikut berjalan cepat, menyamakan langkah Gina.


"Lang, kalau jam segini kita ke kantin di hukum nggak?" Tanya Gina pada Galang. Langkahnya kini santai. Tidak secepat sebelumnya.


"Nggak. Kayanya sih. Emang siapa yang mau ngehukum?" Tanya balik Galang.


"Ya... siapa tahu, ketos? Anggota osis? Atau guru?" Jawab Gina.


"Iya juga. Tapi gue laper Gin, pengen makan. Bodoamatlah di hukum urusan nanti. Kalau lo mau balik ke UKS atau ke kelas sih terserah." Balas Galang.


Gina mengangguk samar. "Semoga aja nggak deh."


"Jadi? Lo mau ke kantin bareng gue kan?"


"Iya."


Tak lama, Galang dan Gina pun sampai di kantin SMA Mandala. Suasana kantin sepi. Hanya ada ibu kantin saja.


Gina langsung duduk di salah satu bangku yang ada di sana. "Lo mau pesen apa?" Tanya Galang pada Gina.


"Mm batagor, sama es teh manis." Jawab Gina.


Galang mengangguk paham. "Oke. Biar gue yang pesen. Lo tunggu aja." Kata Galang. Kemudian Galang berjalan pergi untuk memesan. Sedangkan Gina bermain ponsel sambil menunggu.


Gina tertawa pelan melihat video lucu yang terputar di ponselnya. Seseorang yang berada di dekat gadis itu menatap dengan dahi berkerut.


Tuk tuk


Tiba-tiba Gina merasa ada yang mengetuk bahunya menggunakan jari. "Galang jangan ganggu ih!" Ucap Gina tanpa menoleh.


"Bolos jam pelajaran, dan malah ke kantin?"


Deg


'Itu bukan suara Galang. Lah terus siapa?' -Batin Gina. Kemudian Gina pun menoleh ke samping. Ia tersenyum kikuk melihat Aldo yang menjabat sebagai ketua osis kini berdiri di sampingnya dengan wajah datar.


"Ikut gue!" Perintah Aldo sambil menarik pelan salah satu tangan Gina yang tidak memegang ponsel. Tapi Gina berusaha sekuat tenaga agar tetap pada posisinya.


"Ih tapi gue belum makan Aldo!"


"Gue nggak perduli!"


"Gue laper!"


"Bukan urusan gue."


Gina berdecak kesal. Jika berdebat dengan satu orang ini sepertinya ia akan kalah. Karena Aldo memiliki hak untuk membawa dan menghukum dirinya.


"Cepet Gin! Gue masih ada urusan sama anak-anak nakal lainnya!" Kata Aldo.

__ADS_1


Gina menggeleng. "Lo pasti mau bawa gue buat di hukum kan? Sedangkan gue aja belum makan. Kalau nanti gue pingsan gimana?" Ucap Gina berusaha membujuk dengan nada yang di melas-melaskan.


"Banyak omong ya lo! Ikut gue atau gue jemur lo sampe bel pulang sekolah!"


Mata Gina melotot. 'Sampe jam pulang sekolah? Gila aja nih ketos! Mau bikin kulit gue yang glowing sumering seplendit ini jadi item?! Huh! Nyebelin!!'


"El--lo kalau jadi ketos jangan kejam-kejam lah! Mentang-mentang jadi ketos, mau ngehukum gue seenaknya!" Ujar Gina dengan nada seperti iklan permen susu yang pernah ia dengar.


"Nggak isah drama," cibir Aldo pedas membuat Gina mencebikkan bibirnya.


Tanpa menunggu lama lagi, Aldo langsung menarik tangan Gina. Karena gerakan tiba-tiba itu, Gina yang belum siap menahan tubuhnya sendiri akhirnya berdiri.


"Eh, eh!"


Aldo menarik tangan Gina agar gadis itu segera pergi dari kantin. Mau tidak mau Gina pun ikut berjalan di belakang Aldo. Gina pun berontak. "Lepasin! GALANG TOLONG! GUE DI CULIK!!" Teriak Gina berharap Galang mendengar dan menolongnya.


"Nggak usah panggil-panggil Galang! Dan berharap dia mau nolong lo! Bentar lagi juga Galang bakalan gue hukum."


"Rese lo! GALANG!!"


Aldo memutar bola matanya. "Dengan lo teriak-teriak manggil nama Galang, lo bakal jadi perhatian fans-fansnya!"


"Aldo please lepasin gue. Sekali ini aja ya? Gue laper banget sumpah nggak bohong. Atau kalau nggak gue makan dulu deh baru lo hukum."


Sebenarnya Aldo dan Gina saling mengenal itu udah cukup lama. Mereka satu sekilah saat SMP dulu. Aldo juga menjabat menjadi ketos waktu itu. Mereka menjadi mengenal satu sama lain karena Gina yang tak pernah absen membuat ulah. Dulu Gina badgirl.


Aldo berhenti berjalan secara mendadak membuat Gina di belakangnya menabrak lengan cowok itu.


"Bangs*t! Aldoanj*ng! Astaghfirullah halazim. La haula walakuata ilabilla..." Kaget Gina. Gadis itu menatap galak Aldo. Tangannya mengelus-elus dahinya. Dengan bibir yang masih berkomat kamit. "Sakit tahu! Lo pikir tangan lo nggak keras apa?!"


Aldo melepas tangan Gina dari cekalannya. "Mau makan hmm?" Tanya Aldo dengan nada lembut.


Pertanyaan Aldo membuat Gina ternganga. "Lo nawarin gue makan?"


"Iya."


"Se--serius lo?"


Aldo mengangguk. "Tapi di ruang osis. Jangan di kantin,"


Gina langsung menatap penuh curiga ke arah Aldo. "Jangan-jangan lo mau ngajak gue nganu ya? Pasti lo mau kasih obat kan ke makanan gue nanti, ngaku lo!"


Aldo menyentil dahi Gina sedikit keras. "Piktor! Dari dulu lo Nething mulu sama gue, heran."


"Salah siapa rese?! Ketos rese! Nyebelin!"


Aldo menghela napas. Menghadapi Gina memang harus extra sabar. "Lo tuh udah di baikin mal--"


"GINA!"

__ADS_1


Gina dan Aldo kompak menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nama Gina. Di sana, Galang berlari menuju Gina dan Aldo berdiri.


Galang menumpu kedua tangannya pada lutut setelah sampai di depan dua orang berbeda gender itu. Nafasnya masih memburu karena baru saja berlari.


Galang menunjuk-nunjuk Aldo. "Lo salah," kata Galang.


"Salah apa maksud lo?! Nggak usah nunjuk-nunjuk!" Balas Aldo sambil menatap tak suka ke arah Galang.


Galang pun menurunkan tangannya yang tadi ia gunakan untuk menunjuk Aldo. Cowok itu kemudian berdiri tegap. "Gue sama Gina udah izin. Gina sakit, dan gue nganterin."


"Oh ya? Tapi kenapa di kantin? Kenapa nggak di UKS? Emang orang sakit datengnya ke kantin ya?"


"Kita emang udah ke UKS. Karena laper ya ke kantinlah! Lagian Pak Ihwan juga udah ngizinin."


Aldo diam.


"Kenapa? Nggak percaya Pak Ketos yang terhormat?"


"Emang gue nggak percaya. Bentar, gue telfon Pak Ihwan dulu. Jangan coba-coba kabur!"


"Iya-iya."


Aldo berjalan sedikit menjauh untuk menelfon Pak Ihwan. Ia tidak percaya akan perkataan Galang.


"Lan gue laper," ucap Gina.


"Iya gue tahu. Tunggu sampe Aldo selesai telfon."


Gina mengangguk pasrah. Gadis itu memegangi perutnya.


Tak lama, Aldo pun datang. Seperti biasa, dengan tampang datarnya. "Kalian berdua kali ini nggak gue hukum."


"Tuh kan! Nggak percaya sih lo!" Ucap Galang.


Aldo mengabaikan Galang, dan menatap Gina. "Makan gih! Perlu gue gendong sampe kantin?"


"Nggak! Ayuk Lang!" Ajak Gina.


"Yuklah!" Balas Galang. Keduanya pun berbalik badan. Baru dua langkah tapi,


"Eh bentar!" Seru Aldo.


Galang dan Gina pun berbalik kembali. "Apa lagi?" Tanya Gina malas. Rasanya Gina ingin terbang saja. Perutnya terasa sangat lapar.


"Kalau makan usahain jangan di kantin. Soalnya ntar gue di kirain nggak ngecek kantin kalau ada anak-anak osis lihat."


"Oke. Ada lagi?"


Aldo menggeleng. "Nggak."

__ADS_1


"Yaudah." Kemudian Galang dan Gina pun berbalik badan, dan kembali melangkah berjalan menuju kantin. Meninggalkan Aldo yang masih diam di tempat sambil menatap tak suka ke arah Galang. Tangannya pun terkepal.


__ADS_2