
Hari ini hari minggu. Jika kemarin Gina menghabiskan waktu liburnya di apartemen Galang. Hari ini Gina habiskan waktu liburnya di kamarnya. Rebahan santuy!
Hidup untuk besok bukan kemarin.
Gina membaca quotes dari ponselnya. Dapat Gina simpulkan, di quotes itu menegaskan jika hidup untuk besok, hidup jangan melihat kemarin. Yang berlalu biarlah berlalu. Quotes itu berhasil menyentilnya. Karena Gina masih terbayang akan masa lalu kisah percintaannya yang tak baik.
Apa salah dirinya masih trauma?
Apa salah dia menolak semua lelaki yang mendekatinya?
Apa salah Gina mematahkan hati mereka?
Apa salah juga, jika Gina hanya ingin dirinya tidak terluka dan terjebak lagi dengan yang namanya cinta?
Gina juga tidak mau. Namun masa lalu terus menghantuinya. Ia jadi teringat akan Galang. Cowok itu tidak berubah meskipun sudah di tolak olehnya. Bahkan masih sangat baik padanya. Apa salah Gina bersikap tak baik pada Galang?
Gina sudah mulai merasa nyaman. Gina akui itu. Sudah ada sedikit rasa yang ia rasakan. Tapi, Gina takut memulainya. Gina takut membuka hati pada orang yang salah.
"Gin, kalau lo belum siap buka hati, gue nggakpapa kok. Gue nggak maksa buat lo suka balik ke gue, dan balas perasaan gue. Tapi, yang perlu lo tahu, gue akan selalu ada dan jadi perisai pelindung lo, walaupun lo anggap gue ada atau nggak, gue akan terus ada. Di sini, di samping lo."
Ucapan Galang kemarin terputar lagi di ingatan Gina. Sore itu, tak lama setelah Galang menyanyikan lagu untuknya, Galang menembaknya lagi. Galang menyatakan perasaannya lagi pada Gina.
Kemarin, karena Gina tidak ingin Galang merasa sakit hati lagi, gadis itu pun hanya diam. Galang yang peka pun berucap panjang. Ucapan Galang berhasil membuat Gina merasa tak enak hati.
"Gue nggak pantes buat lo Lang."
•••
Pagi ini Galang berangkat lebih cepat dari biasanya. Bukan tanpa alasan. Galang berangkat lebih cepat karena ingin melihat musuhnya menderita dengan hukuman yang ia berikan tempo hari. Cowok itu pun duduk di halte depan SMA Mandala.
Masih ingat waktu Galang memenangkan pertandingan basket dengan lawan Eza si anak Mami?
"Kalau udah kalah, terima aja Bro!"
"Cuma kebetulan. Denger ya, suatu hari gue akan ngajak lo tanding lagi. Seperti hari ini taruhannya, yang kalah harus menuruti permintaan apapun dari yang menang."
"So... lo bilang sendiri yang kalah harus menuruti permintaan apapun pemenang. Jadi, gue minta lo mulai besok pulang dan berangkat sekolah naik angkot selama satu bulan."
"Ya nggak bisa gitu dong! Kalau satu hari sih nggakpapa. Lah ini satu bulan! Ogah banget!! Nggak lefel!"
"Cowok itu yang di pegang kata-katanya. Lo tolak, berarti lo banci!"
"FINE!"
__ADS_1
Galang tersenyum geli mengingat wajah kesal Eza kala itu. Ia yakin sekali bahwa saat ini Eza sedang menderita.
Beberapa kalik Galang melihat jam tangannya. Masih terlalu pagi sepertinya. "Ini gue yang terlalu semangat ngeliat Eza menderita kalik ya, makanya gue berangkat pagi banget." Galang terkekeh geli. Melihat Eza merasa menderita adalah salah satu hal yang membuat Galang senang bukan main. Jahat kau mas!
Tak lama, yang di tunggu pun datang dengan muka lesu dan sebalnya keluar dari angkot. Terlihat Eza memberikan uang 100ribuan pada supir angkot.
"Nggak ada uang kecil mas?"
"Nggak ada pak! Itu buat bapak aja deh, saya ikhlas!"
"Wah makasih ya! Rezeki emang nggak akan kemana."
"Angkotnya di kasih AC dong Pak! Gerah nih! Sumpek! Pengap banget!"
"Namanya juga angkot atuh mas. Mana ada yang di kasih AC. Ada-ada aja. Yaudah saya jalan dulu."
Eza hanya mengangguk menanggapi. Angkot itu perlahan berjalan pergi. Dengan senyum mengejeknya, Galang menghampiri Eza yang masih berdiri di sana. "Eza, Eza. Mana ada angkot di kasih AC, lo pikir tu angkot punya bapak lo apa?!"
Eza menatap tak suka ke arah Galang. "Ngapain lo di sini? Sengaja huh?! Puas lo bikin gue gini!?"
Galang terkekeh. "Puaslah! Masa enggak!"
Jawaban Galang berhasil membuat Eza melotot di buatnya. "Awas lo Lang! Gue akan balas!"
"Galang senyum ke gue anjir."
"Nggak! Dia tuh senyumnya ke gue."
Mendengar perkataan dua orang cewek itu membuat Galang geli sendiri. PD syekali kamu nak...
Galang pun bersikap tak acuh dan melangkahkan kakinya menuju kelas.
•••
Suasana kantin SMA Mandala siang itu ramai seperti biasanya. Gina dengan perut laparnya duduk sendiri di salah satu meja setelah selesai memesan. Kedua temannya, Alea, dan Tasya masih berada di dalam kelas mengerjakan tugas yang belum selesai di kerjakan. Karena bosan, Gina mengambil ponselnya yang ada di saku dan memainkannya.
Merasa ada pergerakan di depannya, lantas Gina langsung menoleh. "Ngapain lo di sini?" Tanyanya dengan nada tak suka sambil menatap Galang.
Galang tersenyum. "Mau makan bareng lo," Jawabnya santai.
"Nggak boleh! Sana cari tempat lain!" Protes Gina. Ia tidak suka jika Galang ada di dekatnya saat di sekolah. Apalagi hanya berdua di satu meja kantin. Karena dengan itu, bisa menjadi pusat perhatian kaum kepo.
Galang menggeleng. "Nggak mau! Gue udah di sini. Nggak mau pindah, titik." Tekan Galang menolak.
__ADS_1
Gina menghela napasnya. "Gue nggak mau di liatin banyak orang. Mending sekarang lo pergi!"
Galang menoleh ke kanan dan kiri. Sedikit banyak siswi memperhatikan mereka. "Kan bisa nggak usah memperduliin mereka? Lagian... ini hidup lo. Lo bebas ngelakuin apa aja. Nggak usah lo peduliin mereka yang iri sama lo."
Galang sengaja mengeraskan kalimat terakhirnya untuk menyindir beberapa siswi yang sedang memasang telinga. Rasain!
"Pergi Lang, pergi! Gue nggak mau nambah masalah dan di jauhi banyak murid di sini cuma karena gue deket sama lo. Lo tau? Setelah Diva CS nampar gue waktu itu, banyak yang nyinyir ke gue."
"Gue nggak akan pergi. Udah sih, selow aja sama gue. Ada yang nyinyirin lo? Sini bilang siapa orangnya biar gue bales sama yang lebih pedes!"
Gina menghela napasnya, lagi. Berdebat dengan Galang hanya akan menghabiskan tenaga saja. Karena cowok itu pasti tidak ingin kalah.
Beberapa detik kemudian...
BRAKK
Gebrakan meja keras membuat Galang dan Gina terlonjak. Di depannya, Diva tengah menatap sengit ke arah Gina. "Lo tuli hah?! Udah gue bilangin jauhin Galang! Dia tuh cowok gue!"
Galang mengerutkan dahi. Sejak kapan? Perasaan gue jomblo dari lahir deh. Cuma Gina aja cewek pertama yang gue tembak. Pikirnya heran.
"Lo tuh emang harusnya di kasarin ya!" Diva melangkah maju membuat Gina beranjak berdiri. Diva langsung menjambak rambut Gina.
"Lo apa-apaan sih!"
"Rasain nih, cewek centil, biar sekalian gue botakin kepala lo!"
Tak mau kalah, Gina pun membalas menjambak rambut Diva. Terjadilah aksi jambak-jambakkan di sana. Banyak yang mengabadikan momen itu dengan foto atau mengvideokan.
Galang yamg melihat secara live cewek tengah berantem itu meringis. "Eh udah, udah!" Dengan tenaganya, Galang menjauhkan Gina dari Diva. Tentu saja Galang tidak mau Gina terluka.
Setelah Keduanya menjauh, Galang menatap tajam Diva.
Tanpa di duga, Diva malah langsung memeluk lengan kekarnya. "Sayang, kamu kok natap aku gitu sih? Kamu pasti udah ke makan rayuannya dia ya?" Diva menunjuk Gina.
"Sayang, kamu kan pacar aku. Belain aku dong?"
Galang melepaskan kasar tangan Diva, dan mundur satu langkah. "Lo apa-apaan sih!? Berhenti bilang gue cowok lo anj*ng! Lo sama gue nggak pernah pacaran! Ngaku-ngaku segala!" Galang membentak Diva tanpa sengaja. Emosinya tidak terkendali karena melihat sang gadis yang di cintainya di lukai. Cowok itu terlihat menyeramkan sekarang.
Diva yang di bentak pun menunduk, dan langsung berlari. Malu ye...
Diva merasa malu. Rencananya gagal. Jika Galang tadi tidak membentaknya pasti berhasil. Sekarang dirinya yang malah merasa malu. Sangat malu karena semua pengunjung kantin mendengar bentakan Galang yang tertuju untuk dirinya.
"Semua, yang udah foto atau videoin kejadian tadi, hapus sekarang! Siapa pun yang nyebarin itu ke medsos, akan berhadapan sama gue!" Tegas Galang menatap tajam seluruh murid di sana. Mereka pun menurut. Tidak pernah melihat Galang semarah itu.
__ADS_1