
Bagian 10 . pernikahan spesial.
Zhang Qiang menatap anak putrinya. Sekarang Zang Mei menjadi anak semata wayang setelah kedua kaka kadungnya meninggal karena konflik keluarga.
Wajah rumit masih terlihat jelas dari tampang pria paruh baya ini. Dia satu sisi dia bingung dan di sisi yang lain ia ingin mewujudkan harapannya itu. Mengingat hanya dia satu satunya anak yang berhak mewarisi kedudukannya sebagi ketua keluarga Zhang.
“Apa tidak ada yang lain. Serius kau ingin benar benar menikahi kaka mu itu. Apa tidak malu dengan segala keterbatasannya itu.” Balas sang ayah mencoba meragukan keputusan anaknya itu.
Zhang Mei menggelengkan kepalanya. Wajahnya tertunduk malu saat teringat perkataanya.
Zhang Qiang selaku ayah tidak ingin menghalangi keputusan anaknya. Ia sadar cinta itu sebuah anugrah perasaan suci yang tidak semua orang sanggup merasakan hal yang sama.
“Baiklah kita tunggu keputusan kaka mu, jika dia bersedia kita akan langsung melakukan resepsi pernikahan segera.” Balas ayah sebelum menghela nafas berat.
Zhang Mei tersenyum ceria. Ia beranjak dari tempat duduknya dan mencium pipi ayahnya.
“Ayah ku memang yang terbaik pokoknya.” Balas Zhang Mei setelah mendartkan ciuman di pipi ayahnya.
Zhang Mei pergi dari ruang utama dengan senyum yang tidak pudar dari raut mukanya. Lain putrinya lain ayahnya. Ayahnya hanya menunjukan wajah yang rumit mengingat keputusannya.
“Semoga kau bisa bahagia nak.” Gumam sang ayah setelah menghela nafas panjang.
Di tempat yang berbeda. Di sebuah ruang pelatihan pasukan.
Zhang Quan sedang berlatih ilmu pernafasan. Dengan di dampingi pamannya Zhang Ping sebagai gurunya.
Ilmu pernafasan sangat jarang digunakan oleh para pendekar. Bagi mereka yang memiliki tenaga dalam tentu ilmu pernafasan tidak begitu penting bagi mereka.
Dalam ilmu pernafasn terbagi menjadi berbagi gerkan. Gerakan gerakan tersebut telah disusun sedemikian rupa layaknya sebuah jurus dalam ilmu bela diri tenaga dalam.
Setiap gerakan dan pukulan meniti beratkan aliran pernafasan yang menjadikannya sebuah pukulan lebih bertenaga dari pukulan biasa.
Sebenarnya ilmu pernafasan adalah ilmu silat pendekar tingkat dasar dimana seorang pendekar yang tidak memiliki ilmu beladiri dan belum memiliki linkaran tenaga dalam melakukan teknik dasar sebuah jurus.
Dan sebagia orang yang tidak bisa mengunakan tenaga dalam atau tidak berbakat dalam beladiri menyebut ilmu pernafasan sebgai ilmu bela diri tangan kosong.
Sekarang Zhang Quan sudah lebih dari 15 tahun belajar dan mendalami ilmu pernafasan. Berbagai gerkan baik itu pukukan atau pun tendangan telah fasih dan lihai ia lakukan.
“Hiaaatttt”.
Satu pukulan dengan aliran nafas yang dalam di hembuskan bersamaan dengan sebuah pukulan berat dari tangan kiri Zhang Quan mendarat ke sebuah boneka kayu di hadapannya.
“kraaatakkkk.”
“Duarrrrrrr.”
Suara dan uliran retakan menyebar ke seluruh bagin tubuh kayu yang menciptakan ledakan pada pada boneka kayu.
Zhang Ping menatap kagum keponakannya itu. Dia tahu benar pukulan yang bisa meledakan boneka kayu hanya dapat di lakukan oleh pendekar tingkat atas puncak dan itu pun harus di ikuti dengan tenaga dalam yang benar.
“Bagus, bagus. Sekarang kau bisa imbang satu lawan satu melawan pendekar tingkat atas.” Seru Zhang Ping menatap keponakannya yang sedang berlatih ilmu pernafasan.
__ADS_1
“Ini masih terlalu lemah.” Ucap lemas Zhang Quan.
“Jangan berkecil hati. Dulu di sebuah sakte yang melahirkan banyak pendekar tingkat dewa, melatih ilmu pernafasan itu sampai 20 tahun lamanya sebelum belajar ilmu tenaga dalam.” Balas Zhang Ping menyemangati keponakanya.
Zhang Quan tersenyum kecut mendengar perkataan pamannya itu.
Seorang wanita datang menghampiri mereka berdua. Dia adalah Zhang Mei. Senyum ceria terus lekat dalam lekukan bibirnya. Zhang Ping mulai ambil posisi untuk pergi dari tempatnya. Dia tahu bahwa sejak dari dulu keponaknnya itu menyukai lelaki bocah kecil itu.
“Paman Ping mau kemana.” Seru Zhang Quan hendak meraih baju nya.
“Paman ada urusan sebentar dengan tetua besar.” Balas Zhang Ping tersenyum penuh isyrat kepada Zhang Mei.
Zhang mei membalas senyum pamannya penuh maksud. Sekarang tatapan Zhang Mei menuju ke arah lelaki kecil ini. Walaupun bertubuh kecil tapi otot otot seorang peria tetap menunjukan sedikit kejantanan seorang lelaki. Mengingat sudah belasan tahun lebih ia belajar ilmu silat tangan kosong tentu otot otot itu terbentuk sebagai salah satu bukti perjuangannya.
“Apa semalam kau bermimpi bagus sehingga hari ini kau terlihat bahagia.” Ucap Zhang Quan memalingkan mukanya mengingat dia masih kesal dengan sikap adik nya.
Detak jantung Zhang Quan berdetak kencang. Jantungnya berdebar debar, perasaanya terasa hangat dan sensai bibi lembut dapat ia rasakan bersaman dengan debaran jatung yang tiada hentinya.
Zhang mei mencium dengan penuh hasrat, segala kerinduanya seperi ia berikan dalam ciuman nya itu. Ini baru pertama kalinya ia benar benar mencium kakanya layaknya seorang wanita dewsa. Mengingat sejak dari dulu ia hanya mencium karena sosok imut dan lucu sebagi seorang fighur seorang kaka.
Perasaanya hanyut dalam ciuman bibir itu. Zhang Quan seperti mengikuti alur perasaanya, sedangkan Zhang Mei semakin beringas dengan hasratnya. Berbagai pertarungan lidah seakan melupakan setatus mereka sebagi kaka beradik keluarga utama.
Pertarungan lidah selesai setelah kedua belah pihak telah menelan ludah lawannya masing masing. Senyum bahagia terlihat jelas dari rona merah wajah Zhang Mei. Sedang Zhang Quan masih berpura pura marah dengan mengalihkan pandanganya.
“Sekarang kaka harus bertanggung jawab, karena sudah merebut ciuman pertama ku.”
“heeeeehhh.”
“Kaka yang duluan, kaka harus bertangung jawab untuk menikahi aku.” Balas Zhang Mei memeluk lelaki kecil di hadapnya untuk menutupi wajah merah malu nya.
Perasaanya Zhang Quan bercampur aduk. Di satu sisi dia memang menyukai nya tapi itu sebagi lelaki normal yang menyukai wanita dan di satu sisi yang lainya dia masih menaruh perasanya yang dalam kepada kaka perempuan Zhang Mei yang meninggal karena konflik keluarga.
“Bisakah kau bersikap lembut dan perhatian seperti kaka mu Zhang Ann”. Gumam Zhang Mei dalam pelukan Zhang mei yang teringat masa lalunya dengan Zhang Ann.
Zhang Mei terkejut dan jantungnya seperti berhenti berdetak mendengar nama kaka nya. Dengan ini ia sadar ternyata dari dulu bocah kecil ini mencintai kaka perempuannya.
Pelukanya semakin erat mengekespresikan kekesalannya. Segala lekukan tubuh baik itu benjolan di dada Zhang Mei terasa dengan sangat. Tapi itu tidak mendatangkan keromantisan pelukan mereka.
“ Kratakkkk.”
Zhang Quan merasakan emosi benci dari wanita di hadapanya. Ia mencoba melepaskan pelukan wanita ini dengan ilmu pernafasaanya. Tarikan nafas dalam di sertai berbagi otot yang mengembang akibat aliran oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya.
Membuat peria kecil ini terlihat seperti binaragawan yang sangat berotot. Dada yang bidang semakin menonjol kedepan menghantam benjolan besar pada tubuh Zhang Mei.
Zhang Mei semakin merasa tidak karuan pikiran liarnya memenuhi otaknya. Jantungnya semakin berdebar debar merasakn otot kekar seorang pria.
Zhang Quan berpikiran tenang. Ia mencoba melepasakan diri dari pelukan wanita itu dengan beberapa kali memberontak mengeser tubuhnya ke kiri dan kekanan.
Berbeda dengan Zhang Quan yang mencoba melepaskan diri dari pelukan wanita. Zhang Mei semakin mencengram erat tubuh kecil peria itu dengan penuh nafsu. Sensasi dada bidang yang terasa langsung sebab Zhang Quan hanya memaki celana tanpa mekai baju mengingat dia sedang dalam latihan bela diri.
Walaupun dengan posisi sedikit menunduk untuk meyeimbangkan ke tinggian badan. Zhang mei tidak sedikitpun kesulitan dalam memeluk peria bocah ini.
__ADS_1
Wajah merah merona semakin terlihat jelas pada wajah Zhang Mei. Wajah nya terlihat sangat menikamati pelukannya dengan peria bocah. Segala pembenrontakan serasa nikamat ia rasakan. Dada bidang kekar terus sahaja mengesek benjolan di dada Zhang Mei.
Pikiran Zhang Quan tetap tenang. Namun berbeda dengan lawannya. Pikirannya semakin tidak teratur dengan nafas yang memburu dan sensasi dada kekar Zhang Quan membuat lawanan tarungnya melepaskan pelukannya.
“aaahh”.
Suara mendesah terdengar dengan jelas dalam ruangan pelatihan bela diri tersebut. Zhang Quan sadar akan apa yang telah dia perbuatnya. Segera ia mengambil baju untuk menutupi wajah merah wanita di hadapanya.
“Siapa pun yang melihat ini dan berani membicarakanya, aku pastiakan kepala kalian akan terpisah dari tubuh kalian.” Ucap marah Zhang Quan melihat ada orang yang memperhatikannya.
Sesuatu cairan telah membasahi celana dalam Zhang Mei. Zhang Mei sangat malu dengan perbuatanya itu. Ia hanya terduduk malu dengan wajah yang tengelam ke bawah.
Setelah Zhang Mei mendengar suara lantang Zhang Quan. Pikiranya menjadi semakin tenang. Dan dengan segera ia menutupi wajahnya dengan baju yang ia lemparkan ke arahnya.
“ Aku akan menikahi mu.” Ucap Zhang Quan mengecupkan ciuman di dahi Zhang Mei seranya mengangkatnya bangun.
“Li Hao.” Teriak Zhang Quan.
LI hao sebagi pengawal peribadi Zhang Quan tiba tiba muncul di hadapannya.
“Pastikan semua orang tutup mulut atas kejadian ini”. Tutup Zhang Quan yang berjalan mengandeng Zhang Mei yang tertunduk malu.
Zhang Quan memegang erat tangan Zhang Mei. Dan begitu pula sebaliknya.
“Tenang sahaja, aku pasti bertanggung jawab. Aku akan menikahi mu secepatnya. Walaupun seluruh keluarga menghalangi, aku akan tetap bersama mu”. Gumam pelan Zhang Quan yang terdengar jelas di telinga Zhang Mei.
Zhang Mei sedikit mengangukan kepalanya dan sedikit melengkungkan bibirnya dengan wajah yang masih tertunduk ia dan Zhang Quan pergi meninggalkan ruangan.
Dalam hati kecil Zhang Mei. Ia baru sadar dengan sikap kesatria pria yang dia cintai. Perasanya semakin kagum dengan berbagi tindakan sigap dan perhatian yang ia lakukan untuk seorang wanita.
Dalam batinnya mulai saat ini ia akan mencintai peria di hadapannya sehidup semati dan jiwa raganya hanya untuk pria kecil yang menjadi pahlawan besarnya ini.
Di sebuah tempat. Di sakte besar aliran putih.
Seorang wanita dewasa. Sedang melakukan rapat bersama beberapa kelompok dari benua yang lain.
“Sebentar lagi benua dataran tengah akan aku kuasai. Langkah kedepannya kita harus membuat aliansi dengan para pedagang besar. Target utama kita yang pertama adalah merekrut pedagang besar Zhang atau Zhou untuk berkerja sama.”
“Hahahahahahahahahhhaaaaahhhhh.”
Wanita ini tidak lain adalah seosok wanita licik yang lari dari pertempuran saat menghadapi pertempuran dengan para pendekar tingkat dewa 30 tahun silam.
Untuk cerita yang biasa akan update hari depan.
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
Klik tombol like yaaa.
__ADS_1
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.