Paviliun Bunga Suci

Paviliun Bunga Suci
Bagian 17. Pendekar misterius dari benua utara.


__ADS_3

Bagian 17


Pendekar misterius


Lamuan Zhang Quan membuanya tetap berjaga sepanjang malam. Sepasukan patroli dan dirinya sahaja yaang belum memejamkan matanya.


Kenangan kenagan dan memori masa lalu yang terkenang kembali meciptakan sebuah vidio ingatan membuat bocah kecil Quan hanyut dalam lamunannya. Lamunnya cukup lama, sepasukan yang memanggang ayam bersama pun sudah terlelap dengan arak di samping tidurnya.


Zhang Quan mengerutkan dahinya. Suara adu pedang terdengar jelas dari sebuah tempat di balik semak semak yang tidak jauh dari kemah nya berdiri.


“Berhenti jangan lari lagi, kau sudah terkepung. Cepat serahkan kitab itu pada kami.”


“Hmmmppp. Hanya dalam mimpi mu sekalipun tidak akan aku beri kesempatan untuk mu memiliki kitab ini.”


Bunyi pedang yang terhenti dan ucapan samar samar sebuah kelompok terdenar jelas saat Zhang Quan mendekati tempat pertarungan.


“Mau kebenua dataran timur atau benua mana pun juga kami akan terus mengejar mu.”


“Tidak ada lagi tempat bagi mu untuk bersembunyi.”


“Kitab itu bukan milik mu. Jadi serahkanlah dan biarkan kami membunuh mu tanpa penyiksaan.”


Terlihat segerombol orang sedang mengepung sesorang pria paruh baya. Mereka telah beradu pedang dengan jurus untuk waktu yang lama tapi pria paruh baya tersebut tidak mengalami luka ataupun cidera sedikitpun di tubuhnya.


Di sisi sebaliknya sebagian pria tersebut memiliki penampilan yang buruk dengan berbagai sayatan pedang di sebagian tubuhya.


Kelompok yang mengepung pria paruh baya ini semakin percaya diri dengan kedatangan bala bantuan mereka yang datang tepat waktu. Mereka semakin sombong dengan posisi mereka yang mengepung dari berbagi penjuru. Semua itu dapat di lihat dari pembicaraan mereka barusan.


“ Jumlah bukanlah faktor penentu kemenangan.” Dengus kesal pria paruh baya ini yang mengenakan jubah putih.


Pria paruh baya ini mentap semua orang yang mengepungnya. Ia tahu dendam yang dia buat kepada mereka semua. Namun dendam itu bahkan tidak lebih penting dari sebuah kitab silat tanpa tanding yang di miliki nya.


Sekelompok ini menatap tajam dan belum mengabil inisiatif untuk menyerang terlebih dahulu pria paruh baya di hadapannya. Mereka sadar akan kebenaran perkataanya barusan. Mereka menungu salah satu dari kawanan mereka untuk megabil serangan terlebih dahulu.

__ADS_1


“Ingin mencuri tapi takut mencuri. Hahahhahha dasar sekelompok pria pengecut.” Pria paruh baya tersebut pergi terbang ke atas langit.


“Bersiap dia akan melakukan serangan.”


Sekelompok ini langsung sahaja mengalirkan tenaga dalam yang besar meyelimuti tubuh mereka. Aura tekanan yang cukup besar menyelimuti area tersebut. Zhang Quan yang bersembunyi di balik semak semak merasakan seluruh tubuh nya merinding.


“Pertarungan pendekar tingkat dewa. Sepertinya mereka bukan berasal dari benua dataran tengah.” Zhang Quan melihat baju yang mereka kenakan terlihat berbeda dengan baju kebnayakan orang di benuanya.


Sebuah naga besar berwarana emas mengitari pria paruh ini. Sebuah serangan akan pria ini lancarkan dengan sosok naga yang besar yang mengelilinginya.


Sekelompok pria di bawahnya sedang bersiap menyambut serangan pria paruh baya ini. Mereka menyatukan kekutan mereka dan membentuk sebuah ular raksasa berkepala tiga.


Zhang Quan semakin mengerutkan dahinya. Apa benar ini pendekar tingkat dewa. Pengetahuanya tentang pendekar tingkat dewa sangat terbatas dan apa yang dia saksikan kali ini melebihi ekspektasinya tentang pendekar tingkat dewa.


Pertempuran energi qi yang berbentuk naga dan ular berkepala tiga berlangsung. Naga milik pria paruh baya itu mengeluarkan bola emas cahaya dari mulutnya. Sedang ular berkepala hitam mengeluarkan sebuah bola hitam dari dari ketiga kepalanya.


Sebuah ledakan berkekuatan besar berbenturan di atas langit di perbatas kota Song dan Bong. Zhang Quan menatap heran dengan sepasukannya yang tidak menyadari ada pertempuran besar tidak jauh dari pekemahannya.


Duaaaaarrrrr


Ledakan tersebut mementalkan kedua belah pihak. Namun berkat peengalama bertarung yang jauh lebih lama, pria paruh baya ini melakukan manufer untuk menembakan bola cahayanya lagi saat terpenal.


Duaaaaarrrrrr


Zhang Quan yang beraada di balik semak semak langsung berlari menjauh saat melihat sebuah bola besar menuju ke tempatnya. Ia percya tembakan tenaga Qi yang sebesar itu mamampu membuat kawah yang cukup besar dan menghanguskan apapun di sekelilingnya.


“Sial, sial. Apa aku terlmabat berlari.”


Sebuah ledakan seperti bom jatuh ke sekitar Zhang Quan. Zhang Quan yang berlari cukup jauh masih sempat merasakan ledakan tersebut. Ia terpental cukup jauh akibat ledakan yang tidak mampu lagi di hindarinya.


Tubuh Zang Quan setengah hangus dengan pakaian yang sebagian terbakar. Kakinya merasakn kebas dan kesemutan yang sangat. Untuk pendekar biasa mungkin akan mengalami kelumpuhan karena otot kakinya yang kejang. Tapi bagi Zhang Quan yang memiliki tubuh berbeda dari yang lainnya, ledakan seperti itu masih mampu dia tahan.


Pria paruh baya dari atas langit melihat kawah yang cukup besar di bawahnya. Ia tidak lagi melihat musuh yang meyerangnya lagi. Pandanganya teralihkan kepada aura kecil yang menampakan sesosok pria bocah yang selamat dari ledakan tersebut.

__ADS_1


Pria paruh baya itu terbang mendekati Zhang Quan. Ia merasakan keganjalan dari tubuh bocah yang dia lihat. Suatu kekuatan besar puluhan kali lipat kekuatanya seperti tersegel dalam tubuhnya.


Zhang Quan masih setengah sadar dengan keadaanya. Ia melihat samar samar sosok pria paruh baya terbang ke arahnya. Pengelihatanya semakin pudar dan ia pun menutup matanya seketika pria paruh baya itu mengendongnya terbang.


Pria paruh baya tersebut memebawa Zhang Quan pergi dari rombongannya. Dalam batinya ia masih penasaran akan tubuh bocah kecil ini dan terlebih lagi ia ingin tahu bagiamana bisa seorang bocah memiiki kekuatan berpuluhan kali lipat darinya.


Li Hao yang bersembuyi di balik bayangan keluar menghadang pria paruh baya ini. Dia mencoba menyelamatkan tuan nya, namun itu sia sia belaka. Perbedaan tingkatan pendekar yang bak langit dan bumi membuat Li hao hanya mengumpat dalam batinnya.


“Sial. Sepertinya aku tidak bisa menyelamatkan tuan muda.”


Berbagai serangan yang ia lancarkan seperti tidak memeberikan luka sedikitpun kepda peria paruh baya itu. Sebaliknya peria paruh baya tersebut semakin penasaran dengan sosok bocah di pangulannya. Bagaimana bisa seorang bocah medapatkan pengawalan dari pendekar tingkat dewa awal.


Sebuah libasan tenaga dalam dari tangan kirinya menghatam tubuh Li Hao. Ia terpental cukup jauh dengan luka yang cukup serius di tubuhnya. Dalam satu kali serangan tersebut Li Hao kehilangan kesadarannya.


Zhang Quan dan pria paruh baya itu terbang meningalkan hutan dan menuju wilayah hutang siluman di tengah wilayah benua dataran tengah ini.


Dalam sebuah gua Zhang Quan membuka matanya. Ia melihat sesosk pria paruh baya yang dia lihat dalam pertempuran di dekatnya sedang melahap ayam pangangnya.


Zhang Quan terseyum kecut saat melihat tubuhnya yang terikat sebuah rantai qi yang sangat kuat.


“Yoo. Bocah kecil apa kau mau menjadi murid ku.”


“Jika iya, nanti akan aku lepaskan ikatan mu.” Ucap pria paruh baya itu terseyum seperti penjahat jalanan.


Halllooo


Para readers.


Jangan lupa yahh.


Klik tombol like yaaa.


Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.

__ADS_1


__ADS_2