Paviliun Bunga Suci

Paviliun Bunga Suci
Bagian 10. Biasa. Pernikahan


__ADS_3

...pernikahan...


Zhang Qiang menatap anak putrinya. Sekarang Zang Mei menjadi anak semata wayang setelah kedua kaka kadungnya meninggal karena konflik keluarga.


Wajah rumit masih terlihat jelas dari tampang pria paruh baya ini. Dia satu sisi dia bingung dan di sisi yang lain ia ingin mewujudkan harapannya itu. Mengingat hanya dia satu satunya anak yang berhak mewarisi kedudukannya sebagi ketua keluarga Zhang.


“Apa tidak ada yang lain. Serius kau ingin benar benar menikahi kaka mu itu. Apa tidak malu dengan seagala keterbatasannya itu.” Balas sang ayah mencoba meragukan keputusan anaknya itu.


Zhang Mei menggelengkan kepalanya. Wajahnya tertunduk malu saat teringat perkataanya.


Zhang Qiang selaku ayah tidak ingin menghalangi keputusan anaknya. Ia sadar cinta itu sebuah anugrah perasaan suci yang tidak semua orang sanggup merasakan hal yang sama.


“Baiklah kita tunggu keputusan kaka mu, jika dia bersedia kita akan langsung melakukan resepsi pernikahan segera.” Balas ayah sebelum menghela nafas berat.


Zhang Mei tersenyum ceria. Ia beranjak dari tempat duduknya dan mencium pipi ayahnya.


“Ayah ku memang yang terbaik pokoknya.” Balas Zhang Mei setelah mendartkan ciuman dipipi ayahnya.


Zhang Mei pergi dari ruang utama dengan senyum yang tidak pudar dari raut mukanya. Lain putrinya lain ayahnya. Ayahnya hanya menunjukan wajah yang rumit mengingat keputusannya.


“Semoga kau bisa bahagia nak.” Gumam sang ayah setelah menghela nafas panjang.


Di tempat yang berbeda. Di sebuah ruang pelatihan pasukan.


Zhang Quan sedang berlatih ilmu pernafasan. Dengan di dampingi pamannya Zhang Ping sebagi gurunya.


Ilmu pernafasan sangat jarang digunakan oleh para pendekar. Bagi mereka yang memiliki tenaga dalam tentu ilmu pernafasan tidak begitu penting bagi mereka.


Dalam ilmu pernafasn terbagi menjadi berbagai gerakan. Gerakan gerakan tersebut telah disusun sedemikian rupa layaknya sebuah jurus dalam ilmu bela diri tenaga dalam.


Setiap gerakan dan pukulan meniti beratkan aliran pernafasan yang menjadikannya sebuah pukulan lebih bertenaga dari pukulan biasa.


Sebenarnya ilmu pernafasan adalah ilmu silat pendekar tingkat dasar dimana seorang pendekar yang tidak memiliki ilmu beladiri dan belum memiliki lingkaran tenaga dalam melakukan teknik dasar sebuah jurus.


Dan sebagian orang yang tidak bisa mengunakan tenaga dalam atau tidak berbakat dalam beladiri menyebut ilmu pernafasan sebgai ilmu bela diri tangan kosong.


Sekarang Zhang Quan sudah lebih dari 15 tahun belajar dan mendalami ilmu pernafasan. Berbagai gerkan baik itu pukukan atau pun tendangan telah fasih dan lihai ia lakukan.


“Hiaaatttt”.


Satu pukulan dengan aliran nafas yang dalam di hembuskan bersamaan dengan sebuah pukulan berat dari tangan kiri Zhang Quan mendarat ke sebuah boneka kayu di hadapannya.


“kraaatakkkk.”


“Duarrrrrrr.”


Suara dan uliran retakan menyebar ke seluruh bagin tubuh kayu yang menciptakan ledakan pada pada boneka kayu.


Zhang Ping menatap kagum keponakannya itu. Dia tahu benar pukulan yang bisa meledakan boneka kayu hanya dapat di lakukan oleh pendekar tingkat atas puncak dan itu pun harus di ikuti dengan tenaga dalam yang benar.


“Bagus, bagus. Sekarang kau bisa imbang satu lawan satu melawan pendekar tingkat atas.” Seru Zhang Ping menatap keponakannya yang sedang berlatih ilmu pernafasan.


“Ini masih terlalu lemah.” Ucap lemas Zhang Quan.

__ADS_1


“Jangan berkecil hati. Dulu di sebuah sakte yang melahirkan banyak pendekar tingkat dewa melatih ilmu pernafasan sampai 20 tahun lamanya sebelum belajar ilmu tenaga dalam.” Balas Zhang Ping menyemangati keponakanya.


Zhang Quan tersenyum kecut mendengar perkataan pamannya itu.


Beberapa saat berlalu. Setelah Zhang Quan selesai berlatih, ia dan paman nya Zhang ping berbincang sedikit mengenai permasalahan perdagangan mereka. Zhang ping sangat suka sekali membahas masalah konflik dan strategi berdangan dengang Zhang Quan.


Zhang Ping tahu dari dulu Zhang Quan sangat suka membaca dan menyusun sebuah siasat. Tidak heran bila ia kehabisan akal dan sebuah solusi permasalahn dagang ia pasti akan mencari bocah kecil ini untuk berdiskusi.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar jelas dari luar ruang tamu kediaman Zhang Quan. Belum lekas ia mengijinkan tamu itu masuk. Tamu tanpa di undang langsung sahaja mencengram tangan Zhang Quan dan menariknya.


“Paman Ping, aku pinjam kak Quan sebentar.” Tarikan tangan Zhang Mei mencengkram erat tangan bocah kecil itu.


Zhang Mei tersenyum penuh isyarat kepda pamannya. Zhang Ping hanya menganguk tidak peduli dengan keadaan Zhang Quan dan melanjutkan menyasap teh hangat dengat penuh nikmat.


“Paman Ping tolong aku.”


Suara meminta tolong seakan tidak terdengar dalam telinga Zhang Ping. Ia terus menyasap teh hangatnya. Hanya beberapa detik sahaja tatapan matanya kearah bocah kecil itu dengan maksud menyampaikan sikapnya yang tidak bisa membantu apa apa.


Zhang Quan di paksa berjalan mengikuti Zhang Mei. Langkah pelan kadang tiba tiba cepat ia lakukan. Zhang Quan menatap aneh wanita di hadapannya.


Langkah kakinya lama kelamaan tertebak. Sekarang ia tahu kemana wanita ini akan membawanya pergi.


Sebuah kediaman besar dengaan aula utama yang terpajang lukisan para leluhur yang menghiasai setiap sisi tembok ruang megah tersebut.


Seorang peria paruh baya dengan wanita yang seusia denganya duduk menunggu kedatangan seseorang.


“Ayah Ibu ini aku sudah membawa kaka Quan.”


“ Silahkan duduk dulu Quan putra ku.”


“Mei’er duduk di sini.” Ucap Zhang Qiang mencoba memisahkan Zhang Mei yang kelewat berlebihan ingin selalu dekat dengan Zhang Quan.


“Ada apa ini ayah.”


“Ehmm, ehmm, ehmm.” Zhang Qiang mencoba menjelaskan situasinya.


“Zhang Quan. Anak ku Zhang Mei mencintai mu. Apakah kau mau jadi suaminya.” Ucap Zhang Qiang terus terang tanpa basa basi.


Zhang Mei tersipu malu. Lagi lagi wajahnya ia tenggelamkan ke bawah. Rona wajah memerah terlihar jelas dalam kulit seputih Qioknya.


Jantung Zhang Quan tersentak dan terkejut mendengar pernyataan ayah angkatnya. Pikiranya menjadi pusing mengingat Zhang Mei adalah satu satunya anak dari ketua kediaman keluarga Zhang.


Zhang Quan memijat kepalanya yang mulai terasa pusing. Pikiran Zhang Quan bukan seperti anak kecil atau orang bodoh. Ia adalah lelaki yang penuh siasat, bila ia salah langkah atau salah keputusan bisa jadi seluruh kediaman Zhang akan menerima akibat dari pilihannya.


Zhang Mei berpindah kursi, sekarang dia tepat duduk di hadapan Zhang Quan. Zhang Mei menatap jelas peria kecil ini yang sedang serius berpikir sesuatu yang pasti jelas sangat rumit.


Zhang Quan menatap pelan ke arah tiga sosok yang penting dalam hidupnya. Padanganya perlahan kepada ayah angkatnya, ayah angkatnya jelas pasti menunjukan ekspresi penuh harap untuk membuat putri kecilnya bahagia. Dan ibu angkatnya pula menunjukan sikap yang sama.


Perasaan Zhang Quan pasti tidak akan mengecewakan harapan kedua orang tua angkatnya. Mengingat telah banyak jasa dan kasih sayang layaknya kedua orang tua sendiri teringat dalam masa lalu yang begitu indah.


“Iya aku mau”. Jawab singkat padat dan jelas Zhang Quan.

__ADS_1


Mendengar jawaban iya dari kaka nya Zhang Mei langsung sahaja menyergap bibir Zhang Quan dengan sebuah ciuman.


Zhang Quan yang terkejut tidak dapat menghindar. Lembut bibir wanita ter rasa hangat di bibirnya. Jantungnya berdetak kencang saat merasakan libidio yang naik.


Pikiran Zhang Quan tetap tenang, perlahan ia mencoba keluar dari ciuman Zhang Mei.


“Ada ayah dan ibu, nanti kita lanjut lagi setelah menikah” ucap Zhang Quan keluar dari ciuman sepihak Zhang Mei . Namun setelah berkata demikian Zhang Quan mengecup kening wanita agresif di hadapannya.


Zhang Mei tidak kuasa merasakan kebahagiaan yang tidak terkira, segala harapan dan keinginannya terlaksana sesuai impiannya. Lantaran saking senang dan malunya mendapat kecupan di dahinya. Zhang Mei berlari keluar ruangan. Ia masih malu mengingat sikap agresif dan kecupan orang yang dia cintai.


Kepergian Zhang Mei membuat kedua orang tuanya angkat biacara. Dan Zhang Quan pun tidak ragu mengungkapkan segala unek uneknya. Pembicaraanya mereka cukup lama. Namun secara garis besar sang ayah dan ibu hanya meminta Zhang Quan menjaga dan merwat putri kecil mereka dengan baik.


Di dalam kediaman Zhang Quan.


“ Li hao kelaurlah.”


“Siap tetua besar.”


“Bunuh tanpa jejak, rombongan sekte yang berniat melamar Zhang Mei. Jika ada peluang buat pula kambing hitam untuk kasus pembunuhan itu.”


“Siap laksanakan.”


Sesosok bayangan pergi dari tempatnya Zhang Quan. Li Hao adalah pasukan kusus penjaga Zhang Quan. Segala misi dan keingianan Zhang Quan dapat tercapai dengan mudah mengingat Lih Hao ini bukan sosok pendekar biasa dan terlebih lagi dia merupakan sosok misterius yang memiliki kekuatan yang besar di tangannya.


Pikiran Zhang Quan mulai tenang. Ia sadar keputusan kali ini sangat tepat. Dia paham segala hal penting dari dalam hidupnya. Kedua orang tua angkat beserta adik kecilnya merupakan salah satu hal yang terpenting dalam dirinya. Dan untuk kali ini dia benar-benar melupakan sikap buruk wanita yang suka memanggilnya bocah.


Sebagai seorang lelaki pasti zhang Quang mendambakan sosok figur wanita impiannya. Zhang Ann adalah salah satunya. Dialah kakak kandung Zhang Mei. Ingatan serta berbagai kenangan dengan wanita tersebut masih berbekas jelas dalam pikiran bocah kecil ini.


Namun Zhang Quan harus berpikir kedepan dan melangkah ke depan hidupnya bukan untuk terus menerus meratapi masa lalu yang membuat nya bersedih.


Keputusan nya untuk menikahi Zhang Mei sebenarnya bukan lantaran cinta. Sebagai seorang lelaki Zhang Quan tentu menyukai perempuan tapi sosok wanita idaman tidak terdapat pada diri Zhang Mei mengingat segala sikap dan sifat yang berbanding terbalik dengan harapanya.


Kehadiran kedua orang tua angkat yang penting serta kondisi keluarga Zhang membuat lelaki bocah ini memantapkan keputusannya untuk menikahi Zhang Mei sebgai adik nya.


“Apa salahnya membangun cinta. Itu lebih baik dari pada jatuh cinta.” Gumam pelan Zhang Quan yang membuka buka kitab silat ilmu pernafasan.


...Di sebuah tempat. Di sakte besar aliran putih....


Seorang wanita dewasa. Sedang melakukan rapat bersama beberapa kelompok dari benua yang lain.


“Sebentar lagi benua dataran tengah akan aku kuasai. Langkah kedepannya kita harus membuat aliansi dengan para pedagang besar. Target utama kita yang pertama adalah merekrut pedagang besar Zhang atau Zhou untuk berkerja sama.”


“Hahahahahahahahahhhaaaaahhhhh.”


Wanita ini tidak lain adalah seosok wanita licik yang lari dari pertempuran saat menghadapi pertempuran dengan para pendekar tingkat dewa 30 tahun silam.


Halllooo


Para readers.


Jangan lupa yahh.


Klik tombol like yaaa.

__ADS_1


Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar


__ADS_2