
...Bagian 12. Kembali berdagang...
Pagi hari telah tiba. Suara kicauan burung dan kehangatan surya di pagi hari tidak mampu membangunkan pasangan suami istri ini dari tidurnya.
Terlihat wajah lemas dan puas Zhang Mei terpatri dalam raut wajahnya. Entah berapa jam mereka melakukan olah raga malam. Walaupun bertubuh kecil, tapi Zhang Quan tidak seperti manusia normal. Kekuatan fisik serta kemapuan bersenggama melebihi manusia pada umumnya, mengingat Zhang Quan memiliki tubuh yang tidak normal.
Cahaya sang surya menembus sela sela jendela kamar Zhang Quan. Cahanya surya tersebut perlahan menghangatkan wajah peria kecil ini. Zhang Quan sadar ini masih terlalu pagi untuk bangun, mengingat dia baru tidur beberapa menit setelah melakukan aktifitasnya dengan Zhang Mei.
Namun pikiranya teringat akan kesibukanya yang tidak boleh ia lupakan. Ia memiliki jadwal dan agenda yang telah ia tetapkan.
Kesibukanya sebagai pedagang sekaligus pengurus suplai barang dangang sangat di butuhkan keluarganya. Walaupun sebagian besar jasa jasanya di pandang sebelah mata oleh kebanyakan angota keluarga.
“Ada yang harus aku lakukan hari ini....” Gumamnya pelan Zhang Quan sambil merenggangkan badannya.
Di tatapnya Zhang Mei yang tidur tanpa busana di sampingnya. Masih bisa dia ingat kejadian semalam dimana wanita ini begitu tanguh dalam olahraga malam.
Zhang Quan sampai harus mengerahkan seluruh kemampuannya dengan kombinasi ilmu pernafasan untuk memuaskan wanita di sampingnya ini.
“Jika cara mu sperti ini terus, baru sebulan sahaja kau sudah isi.” Zhang Quan tersenyum simpul melihat wanita di sampingnya dan mulai beranjak dari tempat tiduranya untuk mandi serta memulai aktifitasnya.
“ Li Hao keluarlah.”
Sosok bayangan hitam tiba tiba hadir di hadapan lelaki kecil ini. Pria serbalut kain serba hitam dan masker yang menutupi wajahnya memberi hormat kepada tuanya dengan menekuk sebelah kakinya.
“Laporkan misi mu.”
“Tuan muda dari sakte Mawar biru telah kami bantai semua, tidak ada bukti yang kami tinggalkan. Untuk kambing hitam kami sudah mengunakan senjata peledak keluarga Zhao untuk membantai mereka.”
“Bagus, bagus.”
“Apa kau sudah menemukan wanita berdarah yin di benua ini.”
“Belum pasti tuan ku, kami sudah mengumpulkan informasi dari berbagai pihak. Tapi kepastian dan kebenarannya masih samar samar. Jika sudah pasti kebenarannya kami akan melapor tuan.”
Zhang Quan menghela nafas berat. Masih dia ingat dalam pikirannya. Bagaiman kehidupan di dunia persilatan yang menganut hukum rimba.
__ADS_1
Keperluan Zhang Quan dengan wanita berdarah yin untuk dapat melakukan terobosan pembukaan meridian dan mengalirkan tenaga dalam yang tersumbat didalam tubuhnya. Mengingat dia harus menjadi kuat untuk dapat mewujudkan segala impiannya.
Sebelum pergi berdagang Zhang Quan menuliskan sepucuk surat untuk istrinya. Dia tahu bila dia pergi tanpa memberikan kabar maka akan berujung masalah kedepannya.
Sepucuk surat telah Zhang Quan selesaikan. Di taruhnya secarik kertas tersebut di meja dekat tepat tidurnya, yang tertindih vas bunga bercorak mawar merah.
...Di tempat yang berbeda....
Sesosok bayangan memberi hormat kepada seseorang. Bayangan tersebut berpakaian serba hitam dengan wajah yang bermasker menutupi mulutnya.
“Lapor Yang mulia. Putra pangeran telah menikah dengan anak kelaurga Zhang. Apa perlu aku membunuhnya untuk memicu segel di tubunya terlepas.” Ucap pria serba hitam seperti asassin ini melapor dengan menekuk salah satu kakinya.
“Tunggu sebentar lagi, kesedihannya belum sampai pada puncaknya bila hanya kehilangan satu atau dua orang yang terpenting dalam hidupnya. Tunggu sampai telah berkumpul lebih banyak orang lagi.” Balas peria sepuh ini.
Pria sepuh ini masih teringat akan kejadian masa lalu yang harus membunuh wanita yang sangat di cintai pangeran mudanya. Zhang Ann yang waktu itu membuat pangeran muda mereka tergila gila belum cukup kuat untuk mengangkat kesedihan yang mendalam untuk membangkitkan segel dalam tubuhnya.
“Siap yang mulia.”
Sesosok bayangan tersebut pergi dari hadapan pria sepuh itu dan kepergian pria seperti assasin itu membuat pria sepuh ini mengerutkan dahinya. Tangannya mulai memijat kepalanya yang mulai terasa sakit.
Sepertinya aku akan membiarkanya terlebih dahulu. Kita lihat apa sahaja yang akan dia lakukan dengan kehidupan nya..... ” Gumam pelan pria sepuh ini memikirkan keturunannya.
...Di sakte mawar biru....
Seluruh tetua sakte dan para petinggi sakte telah berhasil merumuskan permasalahan mereka. Mereka akan melakukan penyelidikan mendalam mengenai kematian anak ketua sakte mereka.
Sakte aliran putih ini pun beraliansi dengan sakte aliran hitam. Aliansi ini mereka lakukan untuk mecari dalang di balik kematian anak ketua sakte mereka.
Mereka bergerak dengan jumlah ribuan orang dan ribuan orang tersebut rata rata pendekar tingkat lanjut. Mereka berniat melakukan pencarian informasi dan jejak pembunuh anak ketua sakte mereka.
“Perhatikan medan, bekas pertempuran, kondisi mayat dengan daan bagaiman cara mayat tersebut mati. Catat dan laporkan segera bila ada petunjuk ” Seru Liang Fung yang menjadi pimpinan langsung proses pencarian jejak ini.
Ribuan pasuka bergerak melaukan intruksi yang di berikan.
...Kediaman keluarga Zhang....
__ADS_1
Zhang Quan telah bersiap siap dengan beberapa kereta serta ratusan penjaga dengan Zhang Kun yang menemaninya. Mereka hendak melakukan pembelian barang material untuk pembuatan ramuan yang akan di jual kembali ke pendekar yang membutuhkan.
Tidak ada raut wajah bersemangat dalam bocah kecil ini. Wajahnya terlihat lemas. Bukan karena sebab olahraga semalaman sampai pagi, tapi sebab perjalan kali ini mereka menuju kota Song yang terletak jauh dan ia memiliki kenangan yang buruk dengan orang orang di kota itu.
Di benua dataran tengah ini terdapat tujuh kota besar. Kota besar ini sebenarnya layak di sebut provinsi mengingat satu kota sahaja memiliki luas ribuan kilometer persegi.
Tujuh kota tersebut adalah kota Mong dan Long di uatra. Kota Dong dan tempat tersembunyi di selatan. Kota Yong dan Tong di barat dan kota Song dan Bong di timur. Setiap satu kota biasa terdapat 10 sampai 20 lebih sakte menegah yang menempatai. Untuk sakte kecil, satu kota bisa menampung ratusan jenis sakte yang berbeda beda dan untuk sakte besar, satu kota hanya cukup menampung 5 sampai delapan sakte yang berbeda beda.
Jarak kota Song cukup jauh dari kota Bong. Walaupun masih di satu wilayah di bagian timur. Perjalanan menuju kota Song bisa memakan waktu 3-4 hari perjalan.
Zhang Quan sebenarnya tidak ingin melakukan perjalan dagang ini lataran ada kenangan buruk dengan orang orang disana, namun perkataan janji yang ia buat dengan keponakannya membuatnya tidak mampu menjilat ludahnya sendiri.
“Zhang Kun, sebenarnya aku tidak ingin melakukan perjalanan dagang kali ini. Jika bukan karena diri mu dan kemarin aku sudah berjanji dengan mu, tentu sahaja aku akan meminta saudara mu untuk menggantikan aku.” Ucap Zhang Quan yang sedang melihat rombongan orang yang sedang bersiap melakukan perjalanan.
Zhang Kun tersenyum malu saat teringat kejadian dulu antara Zhang Quan dengan orang orang di kota Song. Terlihat jelas dalam raut mukanya yang mecoba menahan tawanya dengan menutupi mulutnya dengan satu tangannya.
“Ehmm, ehm.”
“Jangan seperti itu kaka Quan, negosiasi kali ini sangat penting dan harus berhasil. Bila tidak, kita akan kesulitan untuk membuat ramuan penyembuh luka ” Balas Zhang Kun.
Zhang Quan hanya tersenyum kecut mendengar jawaban keponakannya ini. Permasalahan yang di anggap sepele bagi Zhang Kun itu sangat rumit bagi Zhang Quan.
“Ya, udah lah. Ayo cepat kavilah kita sudah siap melakukan perjalanan” Seru Zhang Quan dengan muka datar.
Perjalan ke kota Song di mulai. Lima ratusan orang dengan 400an pengawal pendekar yang menjaga rombongan dan seratusan orang biasa yang mengatur urusan dagang.
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.
__ADS_1