
...Paviliun Bunga suci ...
Seorang pria paruh baya melesat terbang dengan kecepatan tinggi di udara. Terlihat wajah yang penuh kecemasan terukir dalam pandangan matanya. Pikirannya sekarang terisi dengan berbagai kemungkinan kemungkinan yang menyakitkan.
Terpaan angin menghempaskan daun dan ranting pepohonan mengisyaratkan kecepatan terbang layaknya mesin udara.
“Aku harus cepat”.
...Kembali ke medan pertarungan...
Aliran Qi para pendekar tingkat dewa habis terkuras untuk mencegah racun dewa kematian untuk tidak menyebar ke organ vital mereka. Sedangkan untuk pasukan aliansi yang berada di dekat musuhnya ikut terkena racun dewa kematian merasakan kematian yang mengenaskan.
Belum kabut hilang dari area tersebut ribuan panah telah melesat menghujani seluruh area tempat anggota sakte Paviliun Bunga Suci berada.
“Hahahahahah, rasakan kalian manusia iblis”.
Pria paruh baya bermantel hitam terlihat begitu senang dengan pemandangan yang sekarang ia saksikan di depan matanya. Kepuasan akan rencana yang sesuai harapan dan pembalasan dendam akan masa lalunya dapat sedikit terobati.
Para pimpian pasukan aliansi menatap pria paruh baya ini dengan heran. Tidak ada kemenangan dalam pertempuran kali ini menurut mereka, kerugian teramat besar tentu pasti mereka dapat kali ini.
Mengingat harga racun dewa kematian yang bernilai ratusan ribu koin emas perbotolnya mereka habiskan puluhan ribu botol dalam misi balas dendam yang tidak ada seorang pun yang mengerti dengan jelas asal muasal dendam mereka ada.
Beberapa saat setelah panah menghujani anggota sekte selesai. Asap kabut beracun hilang seketika dengan menampkan ratusan anggota sakte yang masih tetap teguh berdiri dengan menopang pedang di tangan mereka.
Tubuh mereka penuh akan anak panah, keadaan mereka bisa dibilang mengenaskan. Sebab penampakan inilah pria paruh baya dengan mantel hitam tertawa puas hingga beberapa kali ia kesulitan bernapas karena saking senangnya.
Para pimpinan pasukan aliansi selain pria paruh baya ini tetap waspada. Mereka tahu kondisi peperangan bisa sahaja berbalik denga tiba tiba.
Anggota sekte Paviliun Bunga Suci tidak ada yang selamat dari racun dewa kematian dan hujan ribuan anak panah.
Mereka masih bisa berdiri tapi tidak dapat melanjutkan peperangan lagi. Kondisi mereka benar benar mengenaskan dengan beberapa anak panah yang berhasil menembus tubuh mereka.
Pandangan mereka lurus kedepan. Senyum cerah merekah dalam wajah mereka, tersimbolkan kepuasan atas kerja keras yang mereka kerahkan demi saudara saudara mereka yang telah gugur mendahuluinya.
Pandangan mereka terus melekat ke depan dan lengkungan bibir yang berhiaskan darah perjuang mewarnai wajah mereka. Mereka berusaha mengangkat senjata ke atas dengan menyuarkan semangat pertempuran.
Namun belum sempat mereka melakukannya nyawa mereka sudah pergi meninggalkan raga mereka.
__ADS_1
Para pimpinan pasukan aliansi terheran heran melihat tingkah laku mereka. Mereka bingung akan ekspresi wajah mereka yang terlihat sangat bahagia dengan kematian yang mengenaskan.
************
Seorang pria paruh baya melihat dan membalas senyum pasukannya. Ia berjalan perlahan dengan menyembunyikan hawa keberadaanya. Tidak ada yang mengira keberadaanya.
Pria ini mendekati pasukan sekaligus anggota sekte nya. Ia mendekat dan membalas senyum mereka, tapi sebelum pria ini dapat meneruskan langkahnya sampai ke tempat tujuannya. Orang orang yang terseyum kepadanya tergeletak ke atas tanah menghembuskan nafas terakhir mereka.
Pasukan aliansi semakin bingung dengan kondisi saat ini. Penampakan yang mereka lihat saat ini seperti drama dalam film tapi adegan nya tidak romantis atau pun mengharukan.
Mereka terus memandangi pria biasa biasa sahaja itu dengan lekat. Tidak ada hawa kehidupan dalam dirinya dan tingkatan pendekar pun tidak mereka rasakan saat melihat sosok peria paruh baya ini.
Mereka sepasukan aliansi tidak bertindak eksplosif dengan kedatang peria paruh baya ini. Mereka terus menyaksikan gerak gerik peria itu yang sedari tadi hanya mengelilingi mayat yang tidak bernyawa.
Peria paruh baya bermantel hitam memijat kepalannya yang mulai sakit. Ia mencoba mengingat kapankah ia pernah bertemu dengan lelaki itu. Rasanya seperti tidak asing baginya.
Pikiranya terus berkeliaran mencari kenangan kengan masa lalu di hidupnya. Dahinya semakin berkerut saat peria tersebut perlahan mendekati pasukan aliansi.
Bekas luka di leher semakin terlihat sangat jelas ketika semakin dekat dengan pasukan aliansi . Kenangan masa lalu seperti terbuka dengan sendirinya dalam pikirannya.
“Gawat itu ketua sakte Paviliun Bunga Suci”. Gumam pelan peria paruh baya bermantel hitam dengan ekspresi terkejut dan ketakutan.
Para pimpian pasukan aliansi terus heran dan bingung dengan sikap pria ini. Ia mencoba bertanya namun perhatian mereka teralihkan oleh sebuah senjata tombak berselimut Qi yang terbang kearah mereka.
Walaupun mereka berhasil menghindar, gelombang tenaga dalam tombak beraliran Qi tersebut membuat para pimpinan sakte terhempas beberapa langkah dari tempatnya.
“Yo, lama tidak berjumpa tetuai Wei, kau masih sahaja memakai mantel bodoh mu itu”.
Pria paruh baya tersebut bermarga Wei, ia adalah salah satu tetua di sakte besar aliran putih, dia memang di tugaskan untuk misi ini dan ia pun sangat bersemangat karenanya ia dapat membalaskan dendamnya.
Namun kenyataan berbading terbalik dengan harapan yang ia terima saat ini. Ia bahkan kehabisan kartu dalam permainannya. Racun dewa kematian sudah habis ia kerahkan dalam pertempuran sebelumnya.
Wei terus terlari dengan kecepatan maksimal yang ia bisa. Ia tidak peduli lagi dengan suara di belakang nya. Anggapan anggapan pengecut dan celaan hina untuk kesatria tidak lagi penting dalam kamus hidupnya.
Wusssssssss
Wussssss
__ADS_1
Wusssss
Dalam beberapa langkah sahaja ketua sakte Paviliun Bunga Suci berada di hadapan pria bermarga Wei ini. Dalam bebrapa helaan nafas ia menarik kerah bajunya dan melesat terbang dengan kecepatan kilat menuju di hadapan pasukan aliansi.
“Inilah hukuman untuk kalian manusia bodoh yang tidak tahu terima kasih”.
Ketua sakte Paviliun Bunga Suci memegang kepala Wei dan meremasnya pecah seperti memecahkan balon air. Tubuh nya ia pukul dengan sekuat tenaga. Berbagai organ dalam keluar dari tubuh dan raga pria ini hancur seperti tertelindas mesin berat.
Perlahan aura ketua sekte ini bocor dari tubuhnya. Aura keemasan memancarkan cahayanya sangat terang dan melebihi aura yang sepasukan tingkat dewa sebelumnya.
Aura yang ia pancarkan membuat pasukan aliansi bergidik geri. Tekanan aura yang ia keluarkan memberatkan langkah kaki pasukan aliansi untuk mengambil langkah untuk maju menyerang atau pun mundur untuk berlari.
Ketua sakte ini mengangkat kedua tangnya ke atas langit. Sebuah kilatan petir menyambar ke tubuhnya. Kilatan tersebut memberikan aliran energi Qi yang besar. Aliran energi tersebut ia salurkan ke dua tanganya dan membentuk ratusan tombak berjejer rapi di atas langit.
Pemandangan yang mengerikan dapat mereka saksikan kali ini, semua mata seperti lupa untuk berkedip untuk sesaat lantaran penampakan yang mereka saksikan kali ini. Sungguh kebenaran kekuatan pendekar tingkatan dewa terbukti nyata.
Semua mata melihat ke atas langit. Tidak ada yang dapat bergerak dengan aura mengitimidasi saat ini. Mereka semua mati langkah. Suasana hening menyelimuti mereka, hanya terdengar gemuruh petir dan awan gelam yang menghiasi panorama pagi hari.
Mereka pasukan aliansi takjub dan kagum dengan kekuatan maha dahsyat yang mereka saksikan kali ini. Belum sempat bagi mereka untuk mengumpat dalam hati atau lisan nya. Ratusan tombak Qi tersebut menghujani seluruh pasukan aliansi.
Kawah sebesar 100 km tercipta oleh sejata Qi buatan ketua sekte Paviliun Bunga suci. Di hadapan nya kini tidak ada lagi sepasukan aliansi, semua rata dengan tanah dan mayat mereka hangus menjadi debu.
“Manusia bodoh dan tidak tahu terimakasih. Keberadan kami tidak sedikitpun kalian hargai”.
“Dasar manusia bodoh tidak punya akal”.
Pria paruh baya ini mengumpat kesal dan geram akan sepasukan aliansi yang bertindak bodoh menghadapi nya. Ia mengepal keras dan raut matanya melotot marah melihat saudara saudaranya mati mengenaskan tepat di hadapnya.
“Akan aku musahkan kitab silat kalian agar kalian tidak bertindak bodoh lagi”.
Ketua sekte ini melesat ke pusat kota, tempat seluruh sekolahan pendidikan pendekar terbaik di seluruh kota.
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
__ADS_1
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.