
Bagian 20
Pertempuran pasukan misterius dengan pria sepuh misterius
Zhang Quan di panggul oleh gurunya. Mereka terbang melesat dengan kecepatan tinggi. Bila pendekar biasa mungkin akan mabuk jika di panggul seperti Zhang Quan yang terbang dengan cepat. Penampakan nya seperti pria paruh baya sedang memangul kantung beras 50 kg an.
Zhang Quan sedikit mengumpat dalam batinya. Ia kesulitan bernafas dengan laju kecepatan yang ia rasa sekarang. Pria paruh terseyum kecut saat merasakan bocah kecil dalam panggulnya mulai kesulitan bernafas.
“Sial, aku harus cepat menjadi pendekar dewa agar tidak terus bernasib seperti ini.” Batin Zhang Quan.
“Bocah Quan, tahan lah sebentar. Aku bisa sahaja menang melawan orang orang yang menegejarku, tapi dengan keberadaan mu si sisi ku akan meyulitkan peran ku.” Ucap lirih pria paruh baya ini yang terdengar jelas dalam telinga Zhang Quan.
Pria ini tahu bila melawan kelompok yang mengejarnya begitu mudah, tapi di sisi lain ia memiliki sebuah peran untuk melindungi muridnya. Melawan sekaligus melindungi itu akan sulit dengan kondisi Quan yang belum bisa mengimbangi pendekar tingkat dewa.
Di sisi lain.
Li Hao dan pria sepuh misterus serta sepasukan elit telah menyisiri hutan perbatasan kota Song dan kota Bong. Mereka tidak menemukan jejak keberadan tuan muda mereka.
“ Dia berada di tingkatan yang sama dengan ku.” Ucap peria sepuh ini saat melihat kawah besar yang ia saksikan di depan matanya.
Pria sepuh ini mengeryitkan dahinya. Ia melihat sebuah abu bekas kematian seseorang. Ia menduga kehadiran sosok yang misterius itu pasti bukan dari benua dataran tengah.
“Pengendalian Qi sempurna, penciptaan jiwa tenaga dalam yang luar biasa. Ia pasti bukan dari benua ini. Hanya kelompok ku sahaja yang bisa melakukan hal seperti ini.” Pria sepuh ini sedang memegang abu jasad di tangan nya.
“Mereka pasti belum keluar dari dataran benua ini, cepat cari menuju ke hutan siluman.” Suara lantang pria sepuh ini memerintahkan sepasukannya untuk berangkat menuju hutan siluman.
**Di tempat yang lain.
Benua dataran yang berbeda**.
Benua dataran utara.
“Bagaimana sih kerja pembunuh bayaran itu, membunuh satu orang sahaja tidak mampu.” Seru tuan muda yang mendengus kesal.
“Yang mulia, kitab tanpa tanding itu mungkin sahaja sudah dia pelajari. Kekuatan kami kemungkinan belum cukup untuk membunuhnya mengingat dia telah naik beberapa tingkat karena kitab yang ia pelajari.”
“Aku tidak peduli, cepat kirim lebih banyak lagi pasukan untuk mengambil kitab itu dan pastikan kepala pak tua itu terpisah dari tubuhnya.” Seru tuan muda ini dengan penuh emosi.
“Siap, yang mulia.”
Kitab tanpa tanding ini di ciptakan oleh seorang jenius dunia persilatan 30 tahun yang lalu di benua ini. Kitab salinan yang palsu sahaja sudah bisa membuat seorang pendekar di usia muda dapat menjadi pendekar tingkat dewa dengan mudah. Tidak bisa di bayangkan bagaiman kitab yang asli bila di pelajari.
Kitab tanpa tanding yang asli sekarang berada pada guru Zhang Quan. Lantaran perebutan kitab ini, seluruh sekte di benua dataran utara terjadi peperangan. Seluruh keluarga dan sekte tempatnya tinggal mati terbunuh untuk mempertahankan kitab ini.
Di hutan siluman.
Sisa dari kawanan pasukan yang mengejar Guru Zhang Quan.
Kelompok ini sebenarnya beranggotakan 70an. Mereka berpencar mengejar guru Zhang Quan dari dua sisi yang berbeda. Mereka hampir kehilangan jejak, tapi sekelompok yang berjumlah 30an berhasil menemukanya di perbatasan kota Song dan kota Bong.
__ADS_1
Sisa dari kelompok ini geram karena datang terlambat saat menerima sinyal bantuan dari kewanannya sendiri. Mereka menyesal karena tidak bergerak bersama sama untuk mengejar pria yang mereka cari.
Kelomok ini telah sampai di perbatasan kota Song dan Bong sebelum kelompok sepuh misterius. Tepat tidak lama setelah setelah pasukan keluarga Zhang meningalkan lokasi.
Mereka tahu akan jejak energi Qi yang guru Quan tingalkan. Sesaat itu pula mereka langsung mengejar guru dan murid ini ke hutan siluman.
“Ketua, tepat di belakang kita ada sepasukan pendekar tingkat dewa yang mengarah kesini.”
“Benar ketua, mungkin sahaja keberadaan kita sudah di ketahui oleh mereka.”
“Ketua, tolong berikan kami komando.”
Ketua kelompok ini menaikan alisnya. Ia terkejut dengan laporan pasukannya. Ia yang sedang melesat terbang di atas pohon. Berhenti dan memberikan perintahnya.
“Tidak apa, kita lihat seberapa kuat pendekar di benua dataran ini. Kita tunggu mereka. Ini kesempatan bagus untuk melampiaskan kemarahan ku.”
“Hahahhahahhahh.”
Ketua pasukan ini masih kesal dengan pasukanya yang mati karena rencananya sendiri.
Di arah yang sama.
Pria sepuh misterius dan pasukan elitnya bersama Li Hao sedang melesat ke arah pasukan miterius. Li Hao yang dari kejauhan menyipitkan matanya. Perlahan jarak mereka semakin dekat. Li Hao semakin yakin mereka adalah kelompok yang sama saat kejadian penculikan tuan mudanya.
Li Hao terbang mendekat dan membisikan info yang ia ketahui kepada pria sepuh ini.
“Menarik, biarkan kakek tua ini beraksi seorang diri.”
Sepasukan pria sepuh ini turun dari langit dan menghadap sepasukan misterius yang sedang menunggu seseorang.
“Pasukan ku, biarkan kakek tua ini bermain seorang diri. Aku ingin melemaskan otot tua ini.” Seru kakek tua ini kepada pasukannya.
Seluruh pasukan beserta Li hao memberikan hormat nya kepada pria sepuh ini.
“Kalian, mana pemimpin kalian. Berani juga kalian datang ke wilayah ku.”
“Aku pemimpinya kakek tua bau tanah, kali ini aku sedang tidak mod untuk basa basi. Aku sedang marah dan ingin mejadikan mu samsak ku. Boleh tidak pak tua.” Seru ketua pasukan melesat dengan pukulannya menghantam perut pria sepuh itu.
“Hooeekk. Uhukk, uhukk, uhukk.”
“Tidak tahu sopan santun kepada yang lebih senior. Baiklah sekarang aku tidak main main lagi.”
Tubuh pria sepuh ini yang semula bungkuk tiba tiba berdiri tegap. Aura Qi menyala terang di sekelilingnya. Pipi yang cabi berubah menjadi tirus dan menampkan sosok pria tua tampan serta kekar yang sangar.
Ia membangkitkan aura jiwa singa yang terbentuk dari energi Qi nya. Sesosok singa besar menyertai pukulan yang cepat mengarah kepada ketua pasukan misterius itu.
Ketua pasukan tersebut belum mengeluarkan enegi Qi nya. Ia yang tidak siap akan seragan kejutan pria sepuh itu hanya menyilangkan tangan di dadanya untuk melindungi pukulan kuat kakek tua ini. Ia terpental cukup jauh dan menabrak pohon.
Duarrrrrr
__ADS_1
“Uhuk, Uhuk, uhukk.”
“Sialan, pak tua brengsek.” Ucap kesal ketua pasukan yang memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Ia langsung sahaja mengaliri tubuhnya dengan energi Qi nya. Ia mengaktifkan aura jiwa tenaga dalam yang berbentuk harimau. Sekarang ia bersiap maju untuk menyerang kakek tua di hadapannya.
Adu jotos terjadi. Dua kepalan tangan saling beradu dan bertemu menciptakan sebuah ledakan energi yang sangat kuat. Tanah di sekitar kedua kaki orang ini berubah menjadi kawah akibat ledakan kedua energi yang saling berbenturan.
Ketua pasukan misterius merapatkan giginya. Ia seperti tengah berusaha menahan pukulan energi Qi dan jiwa tenaga dalam yang sangat besar. Sementara di pihak si kakek. Ia terlihat santai dengan pukulan nya.
“Bocah, seperinya main mainya kita sudahi. Ada hal yang harus aku lakukan dengan cucu ku.”
Kakek tua ini melepaskan tinjunya. Kepalan tangan ketua pasukan misterius terlepas dari tangan kakek tua ini. Kakek tua ini menghindar dengan cepat dan melepaskan sebuah tendangan yang begitu kuat ke arah kepada ketua pasukan misterius ini.
“Hiaaattt.”
Ketua pasukan yang tidak sempat menghindar atau pun menahan, ia mendapat serangan langsung ke arah kepalanya.
Duaaaaaarrrr
Suara ledakan tendangan yang menghantam tanah dengan kepala pecah membuat sebuah kawah semakin dalam menjorok ke bawah. Semua pasukan misterius menatap takjub pria sepuh di hadapan mereka.
Pertempuran yang di bilang sangat cepat, mereka seakan lupa berkedip saat ketua mereka bertempur. Dan nafas mereka seperti berhenti saat melihat ketua mereka mati mengenaskan dengan mudah oleh kakek tua yang terlihat lemah.
Mereka sepasukan misterius saling menatap. Kepala mereka, sekaligus otak mereka telah pergi dan moral bertarung mereka sudah hilang. Sesaat mereka berpikir untuk kabur, tapi setelah melihat ratusan orang di belakang kakek tua itu membuat sepasukan ini hanya menelan ludahnya sendiri.
“Ayo, apa masih ada lagi. Kakek tua ini yang katanya bau tanah baru mulai pemanasan.” Ucap pria sepuh ini yang menyerinagi seperti penjahat jalanan.
Gluuukk
Sepasukan misterius menelan ludahnya. Mereka tersenyum pahit saat mendengar seruan dari kakek tua itu.
Di pasar Guyangan.
Zhang Kun dan sepasukan keluarga Zhang dilarang memasuki pasar sebelum mendapat surat perijinan langsung oleh petugas keamanan pasar yang di bawahi langsung oleh sekte Serigala putih.
Zhang Kun duduk termenung dan lemas di samping kereta. Ia sedang memijit kepalanya yang mulai terasa pusing.
“Oh tidak, mengapa juga ini terjadi. Paman Quan kemana juga perginya diri mu.” Ucap lemas Zhang Kun yang baru sahaja mendapat penolakan dari toko tempatnya membeli material.
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.
__ADS_1