
Kitab nafas dewa naga.
Di sebuah hutan siluman, di wilayah benua dataran tengah. Seorang pria paruh baya sedang menjelaskan sebuah jurus tenaga dalam dasar. Ia beberapa kali mencontohkan sebuah gerakan.
Tidak jauh dari pria paruh baya tersebut, ada seorang anak remaja yang sedang fokus mengikuti setiap gerakan gerakan yang di contohkan gurunya.
Zhang Quan mengambil keputusan untuk yakin atas kepercayaanya akan perkataan gurunya. Ia melupakan semua yang penting demi membuat dirinya lebih kuat untuk bisa melindungi semua hal itu.
Berbagai gerakan seperti tendangan dan pukulan di peragakan Zhang Quan. Zhang Quan semakin heran dengan kitab yang gurunya ajarkan kepada nya. Setiap gerakan yang meniti beratkan pada aliran nafas. Setiap pola gerakannya mengingatkannya dengan ilmu pernafasan yang ia miliki.
Zhang Quan yang heran dengan ilmu yang di ajarkan gurunya belum berani bertanya. Dia masih memikirkan kemungkinan yang lain, bisa sahaja ada suatu hal yang berbeda di akhir gerakannya.
Beberapa saat kemudian, setelah 3 jam Zhang Quan berlatih dengan gurunya. Seluruh gerakan dalam kitab yang gurunya ajarkan ternyata sama persis dengan kitab ilmu pernafasan yang ia pelajari sebelumnya.
“Guru, kitab apa yang sebenarnya kita pelajari. Kenapa hampir sama persis dengan kitab yang aku pelajari.” Seru Zhang Quan yang memberikan kitab ilmu pernafasan yang dia miliki.
“Hahahahahaahhh.”
“Pantas sahaja kau begitu lancar dan lihai saat mengikuti gerakan ku.”
“Biar aku jelaskan bocah Quan.”
“Kitab yang sedang kau pelajari adalah kitab nafas dewa naga. Memang benar setiap gerakanya sama persis dengan kitab yang kau pelajari sebelumnya, tapi pada bagian tengah sampai akhir gerakan nya jauh berbeda.
Pada umumnya seluruh pendekar melupakan kitab yang kau pelajari. Mereka menganggap ilmu pernafasan tidak terlalu penting saat mereka sudah bisa mencapai beberapa lingkaran tenaga dalam.
Anggapan pendekar pada umunya salah. Mereka yang menganggap remeh kitab pernafasan bagi pendekar awal akan kesulitan melakukan trobosan saat mereka berada pada pendekar tingkat lanjut.
Bisa kau lihat sendiri di benua tempat mu tinggal. Rata rata pendekar di benua dataran tengah ini hanya pada pendekar tingkat lanjut puncak. Sedikit sekali yang telah sampai pada pendekar tingkat dewa.
Di benua tempat kelahiran ku sahaja. Anak remaja sudah berada pada tingkat pendekar lanjut. Untuk seorang yang berusia sperti mu sudah berada pada tingkat pendekar dewa awal, itu pun bagi pendekar dengan kemampuan biasa. Untuk pendekar yang jenius, kecepatan naik tingkatnya seperti monster.” Ucap pria paruh baya ini yang sedang mebaca kitab ilmu pernafasan milik Zhang Quan.
Zhang Quan menaikan alisnya, ia terkejut bukan main dengan eksistensi pendekar yang ia kira paling luar biasa di dataran benua ini. Bila di bandingkan dengan tempat kelahiran gurunya itu seperti bukan apa apa.
Dia semakin pusing mengingat kekuatan yang begitu besar menjadi musuh yang harus di habisinya untuk membalaskan dendam gurunya.
“Jika kau sudah bisa menguasi kitab dasar ini maka kau sudah di pastikan siap untuk belajar kitab tanpa tanding ini.” Pria paruh baya ini menunjukan kitab dari cincin dimensinya.
__ADS_1
‘Apa aku bisa, kekuatan yang begitu besar di benua dataran tengah ini seperti anak kecil yang baru belajar menjadi pendekar.’ Zhang Quan terdiam dengan berbagai pikirannya yang membuat bocah kecil ini terhanyut dalam lamunannya.
“Bocah SADARLAH, tenangkan diri mu. Dengan bantuan ku, bisa ku pastikan mencapai tingkatan dewa sangat mudah. Di tempat kelahiran ku, aku adalah salah satu tetua terkuat dalam sekte besar.” Ucap pria paruh baya ini dengan membusungkan dadanya.
Zhang Quan terseyum simpul, saat ia tersadar akan suara keras yang mengejutkannya.
“Memangnya guru sekarang berada pada tingkatan apa.” Tanya Zhang Quan yang teringat akan kekuatan besar Gurunya.
“Hahhahahah.”
“Pendekar Dewa atau pendekar suci masih lebih banyak lagi tahapanya. Udahhh lahhh, sekarang kau fokus sahaja belajar kitab ini. Setelah itu aku akan mencarikan solusi akan keganjalan tubuh mu.” Seru pria paruh baya itu dengan melempar kitab nafas dewa naga nya.
“Baiklah. Aku akan pelajari kitab ini kurang dari satu bulan. Yossss.” Ucap Zhang Quan dengan penuh semangat.
“Hahahhahah.”
“Baguslah kalau begitu, aku suka orang yang bersemangat.”
Di tempat lain.
Zhang Kun tidak menemukan apa pun di area bekas pertempuran dekat tempatnya bersitirahat. Sudah hampir genap sehari mereka melakukan pencarian.
“Harus cari bukti dan alasan.” Gumam Zhang Kun yang mulai kalut dengan pikirannya.
Zhang Kun berusaha menyisiri seluruh bekas area pertempuran untuk bisa menemukan sebuah bekas atau jejak kematian. Ia berniat membuat alibi atas kematian paman nya dengan mencari bekas robekan kain atau apa pun yang bisa menjadikan bukti bahwa orang tersebut telah mati.
Setelah beberpa jam ia menyisiri seluruh tempat Zhang Kun menemukan sebuah robekan kain dan beberapa bilah senjata di sebuah kawah yang cukup besar.
Zhang Kun terseyum lega seperti telah berhasil mengeluarkan hajat yang terpendam begitu lama dalam perutnya.
“Akhirnya, ketemu juga.”
“Pasukan, kita lanjutkan perjalanan ke kota Song.” Seru Zhang Kun yang masih terseyum lega.
Di tempat yang lain.
Pria sepuh misterius sedang berbicara.
__ADS_1
“Li Hao ceritakan kronologi ceritanya.” Pria sepuh tersebut angkat bicara.
“Jadi seperti ini...................” Li Hao bercerita dari awal sampai akhir, lengkap, jelas seperti yang ia saksikan.
Pria sepuh ini memegang dagunya. Ia berpikir keras akan kemungkinan terburuk yang ia duga. Namun ia berusa menepis semua itu dan mempercayai takdir besar yang menuggu cucu nya.
“Baiklah Li Hao kumpulkan semua tetua dan para pasukan elit. Kita akan mencari anak itu segera.” Pria sepuh ini memberikan komandonya.
“Siap yang mulia.”
Ratusan pasukan dengan tingkatan dewa di pimpin langsung oleh pria sepuh berangkat menuju lokasi hilangnya Zhang Quan. Mereka terbang melesat dengan cepat.
“Semoga sahaja bukan orang dari benua timur atau selatan.” Batin pria sepuh ini yang terbang di atas pohon dengan kecepatan tinggi.
Di tempat lain.
Di sebuah gua. Di wilayah hutan siluman.
Zhang Quan sedang duduk dan membaca kitab pemberian gurunya. Ia memang suka membaca jadi membaca setumpuk atau mengulangi buku yang sama tidak akan membuat bocah kecil ini bosan.
Gurunya tidak terlihat bersamanya. Kepergian gurunya juga tidak memberi tahu Zhang Quan kemana. Zhang Quan membaca dengan seksama setiap bab dalam kitab tersebut. Keseriusannya membaca melebihi pembaca novel populer paviliun bunga suci di novel toon, itu terbukti dari sedikitnya komenter dalam kolom komentar.
“Bocah Quan ayo bergegas. Ada sergerombolan pasukan tingkat dewa menuju ke sini.”
Zhang Quan terkejut dengan suara gurunya di mulut gua, ia segera bergegas menghampiri gurunya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
“Apa itu Li Hao yah.” Batin Zhang Quan yang bertanya tanya akan segerombolan pasukan tingkat dewa tersebut.
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.
__ADS_1