
Bagian 18
Guru dan murid
“Yoo. Bocah kecil apa kau mau menjadi murid ku.”
“Jika iya, nanti akan aku lepaskan ikatan mu.” Ucap pria paruh baya itu terseyum seperti penjahat jalanan.
Zhang Quan menaikan alisnya saat mendengar pernyataan pri paruh baya itu. Ia berpikir sesaat, pasti pria dia hadapanya memiliki niat terselubung atas dirinya. Zhang Quan menduga pria di hadapannya ingin mengetahui keganjalan pada tubuhnya.
“Tunggu dulu, apa untungnya bila aku jadi murid mu dan apa untungnya bila kau jadi guru ku.” Sifat pedagang Zhang Quan muncul.
Pria paruh baya berjubah putih tertawa keras. Ia seperti mendengar sebuah lelucon paling lucu yang ia dengar.
“Hahahhahahhhahah.”
“Menarik, menarik sekali bocah.”
“Keuntungan saat kau menjadi murid ku. Pertama kau akan menjadi kuat bahkan jauh lebih kuat dari pada diri ku sendiri. Kedua keganjalan pada tubuh mu akan aku obati. Ketiga kau bisa jadi raja di benua ini dan kempat masih banyak lagi.” Pria itu menunjukan harta sumber daya dan berbagai kitab jurus dari cincin dimensi.
“Lalu apa untungnya bagi mu jika aku jadi murid mu.” Jawab Zhang Quan yang ingin memastikan dugaannya.
“Ehmm....” Peria tersebut berpikir sambil memegang dagunya.
“Tidak ada. Aku hanya penasaran dengan tubuh mu dan aku pikir kau pasti bisa menyempurnakan jurus terakhir dari kitab tanpa tanding yang tidak bisa ku pelajari.” Balasnya dengan santai.
“Ehhh, tunggu sebentar. Jangan berpikir yang macam macam. Aku tidak akan berbuat yang aneh aneh terhadap mu. Keinginan utama ku menjadikan mu murid ku adalah untuk membalaskan dendam ku. Aku ingin kau berjanji kepada langit untuk dapat membalaskan dendam ku, itu sahaja.” Pria ini meneruskan bicaranya saat melihat pandangan Zhang Quan yang tajam kepadanya.
Zhang Quan tersenyum lega, dugaanya memang benar tapi ia melihat kejujuran dari raut muka pria itu. Sesaat Zhang Quan berpikir. Ia tahu itu memang penawaran yang sangat mengiurkan, ia dapat mencapai segala trobosan yang selamai ini ia inginkan, lebih kuat lagi dan ia dapat melindungi semua orang yang penting di hidupnya.
“Baiklah, tapi dendam apa yang mesti aku balaskan.” Zhang Quan menghela nafas panjang. Dan mengungkapkan rasa penasarannya.
“Aku ingin kau menjadi penguasa di benua tempat kelahiran ku dan membunuh semua sekte yang menghabisi seluruh keluarga ku. Mudah bukan?” Balas pria itu dengan senyum senang nya.
“Tenang sahaja dengan kitab kitab ini serta sumber daya yang aku miliki tidak akan sulit bagi mu untuk mecapai tingkatan dewa dalam waktu kurang dari satu tahun.”
__ADS_1
Zhang Qun mengeryitkan dahinya. Menurutnya menjadi penguasa tidak akan cukup hanya dengan kekutan bela diri sahaja. Uang, harta, dan sumber daya juga sangat di perlukan untuk menunjang kekuasaan. Tidak akan mungkin sesorang menjadi penguasa tanpa ada yang mendukungnya.
“Baiklah, aku terima. Tapi aku ingin berkuasa di benua ini terlebih dahulu. Dan juga................” Zhang Quan menjelaskan tentang pendapatnya mengenai kekuasaan, pengikut, dan kekuatan.
“Hahahhahahahha.”
“Cerdas sekali kau bocah, tentu tentu. Aku pasti akan mendukung mu. Tapi sekarang kau harus mengucapkan janji mu terlebih dahulu kepada langit.”
Ikuti ucapan ku. “ Saya yang bernama ....... berjanji akan menjadi penguasa atau raja di benua dataran utara dan membalaskan dendam guru saya untuk membunuh semua orang yang telah membunuh keluarganya.” Pria itu menjelaskan tata caranya bersumpah kepada langit.
“Dan lagi, saya berjanji jika saya tidak menepati janji saya semua keluarga, orang yang ku cinta serta semua yang berharga bagi saya akan hilang dan pergi dari hidup saya.”
Zhang Quan yang tidak tahu menahu mengenai sumpah langit, mengikuti ucapan pria paruuh baya itu dan ia mengikuti gerak geriknya sesuai tata cara bersumpah kepada langit.
Zhang Quan yang terlepas dari ikatanya mengangkat tanganya sejajar bahunya. Ia mulai berbicara janjinya sesuai dengan perkataan gurunya. Sebuah gemuruh halilintar yang terlihat menyala di antara gelapnya awan di pagi hari membuat bocah kecil ini bergidik ngeri.
Zhang Quan tidak sadar bahwa janji langit akan seperti ini. Apa yang ia baca mengenai janji langit dalam buku buku di kediaman keluarga Zhang seperti benar nyatanya. Semula ia menyangka itu tahayul karena selama hidupnya belum ada yang pernah melakukan janji langit dengan benar.
Ctarrrrrrrr
Pria paruh baya tersebut meneyringai dengan seyum jahat khas penjahat jalan. Zhang Quan menatapnya penuh kebencian mengingat mungin sahaja ia terjatuh dalam permainannya.
“Tenanglah bocah, aku akan membantu mewujudkan impian mu. Dan janji ku itu tidak lah berat bagi mu sebab kekutan yang begitu besar dari tubuh mu sanggup meratakan satu benua ini dengan mudah.” Pria paruh baya tersebut mengungkapkan pendapatnya.
Zhang Quan yang masih penasaran dengan janji langit angkat bicara.
“ Apa bila aku tidak memenuhi janji apa yang akan terjadi.”
“Sesuai dengan kau sebutkan tadi pada akhir janji mu.”
Zhang Quan mengacak acak semdiri rambutnya. Ia kesal dengan penawaran menggiurkan yang telah ia penuhi tanpa berpikir panjang akan segala risiko yang ia dapat ke depannya.
“Pak tua, katakan niatan mu sebenarnya.” Ucap Zhang Quan marah karena jatuh dalam rencana pria di hadapnnya.
“Tenanglah bocah, aku sudah mengatakanya di awal. Aku hanya ingin balas dendam sahaja dan membantu mu melakukan trobosan.”
__ADS_1
Zhang Quan mencoba menenangkan dirinya. Beberapa kali ia menghela nafas panjang dan perlahan emosinya mulai mereda. Ia mencoba menyingkirkan segala dugaan negatif dari pria yang berada di hadapnnya.
“Baiklah. Aku akan percya pada mu pak tua. Sekarang terimalah sembah murid mu, Guru.” Zhang Quan melakukan adab seorang murid kepada gurunya.
Pria itu menerima Zhang Quan sebagi murid secara resmi. Ia mulai memperkenalkan diri. Begitu pula Zhang Quan yang menjelaskan jati dirinya kepada Gurunya ini.
Di rombongan dagang kelurga Zhang.
Zhang Kun bermuka pucat pasih, wajahnya seperti tidak terliht darah kali ini. Pikirannya bingung akan alasan apa yang tepat untuk berdalih atas hilangnya pamanya Zhang Quan di perjalannya kali ini.
“Pasukan cari dengan teliti, periksa setiap tempat dan berikan laporan bila ada jejak keberadaan paman Quan.”
Zhang Kun memijat kepalanya yang mulai sakit. Perdagangan kali ini bisa gagal bila pamannya tidak hadir dalam rombongan. Ia begitu menyesal lantaran semalam mengendorkan penjagaan. Ia tidak menyangka akan ada pertempuran besar di dekat kemah peristirahatannya semalam.
“Sial, sial, sial”. Zhang Kun hanya bisa mengumpat kesal dalam batinya. Ia pasti akan di marahi habis habisan bila pamanya ini tidak di temukan.
“Aaaarggghhh”. Zhang Kun mencakar sendiri mukanya ketika mengingat bibinya Zhang Mei yang mungkin sahaja akan membunuhnya.
...Di tempat yang lain....
“Lapor yang mulia. Pangeran telah di culik dan di bawa pergi oleh seorang pendekar misterius. Tingkatan ku denganya begitu jauh. Maafkan hamba yang tidak bisa melindungi pangeran.” Ucap Li Hao yang menekukan sebelah kakinya menyampaikan laporan kepada seorang sepuh yang misterius.
Pria sepuh itu menghela nafas berat. Ia mengeryitkat dahinya saat mendapat laporan dari bawahannya. Pikirannya campur aduk. Bagaimaana ada seseorang yang bisa mengalalahkan Li hao dengan mudah.
“Apa ini sebuah kebetulan atau sesuatu yang direncanakan.”
Halllooo
Para readers.
Jangan lupa yahh.
Klik tombol like yaaa.
Kalo bisa kasih aku kritik dan saran nya di kolom komentar.
__ADS_1